Nyatanya, tidak selalu ada pelangi setelah hujan.
Satu hal yang pasti, badai akan selalu terbentuk dari sebuah kehangatan.
***
Dengan perasaan tidak karuan Aiza berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit dimana Amanda dirawat. Saking terburu-burunya Ia hampir saja jatuh tersungkur setelah menabrak perawat yang membawa troli berisi obat-obatan.
Beruntunglah, obat-obatan itu tidak ada yang rusak dan susternya juga bukan tipe rusuh yang mempermasalahkan hal kecil. Suster itu hanya menyuruh Aiza untuk lebih hati-hati lagi saat Aiza meminta maaf.
Tepat diujung lorong, Aiza menemukan Gerald yang tengah duduk menunduk sembari menutup wajahnya di salah satu kursi rumah sakit. Terlihat sekali kalau lelaki itu sangat khawatir dengan kondisi Amanda.
Hati Aiza terasa tercubit melihat suaminya sendiri mengkhawatirkan wanita lain, terlebih wanita itu adalah mantan kekasih suaminya.
Setelah menenangkan dirinya. Perlahan, Aiza melangkah mendekati Gerald. Aiza tidak tahu kalau keputusannya menyusul Gerald adalah keputusan yang tepat atau tidak, karena yang Aiza tahu ia hanya ingin mengetahui bagaimana reaksi Gerald saat melihat kondisi Amanda, ternyata lelaki itu terlihat hancur.
“Er!” Panggil Aiza saat ia berada tepat didepan Gerald yang masih menunduk.
Gerald mengangkat kepalanya menatap Aiza dengan mata merahnya.
“Ngapain lo disini?” Tanya Gerald dengan suara dinginnya.
Entah perasaan Aiza saja, tapi ia merasa Gerald seperti tengah marah padanya.
“Gue tahu lo disini dari Stevan. Gue cuma khawatir sama lo.”
“Khawatir? Khawatir karena apa? “ Tanya Gerald masih dengan suara dinginnya. “Lo khawatir gue tahu semuanya dan balik lagi sama Amanda?”
Aiza sangat terkejut dengan pertanyaan Gerald. Meskipun Aiza memang memiliki pemikiran seperti itu, tapi kenapa Gerald bisa mengetahui isi pikirannya?
“Apa maksud lo?” Tanya Aiza berusaha mengelak.
Tiba-tiba saja Gerald berdiri dan menatap Aiza tajam. Baru kali ini Aiza mendapatkan tatapan tajam penuh kemarahan Gerald, membuat Aiza refleks mundur kebelakang menghindari tatapan Gerald yang mengintimidasinya.
“Kenapa lo ga ngasi tahu gue soal keadaan Amanda dan semua kebenaran tentang dia?” Tanya Gerald dengan suara mengeram menahan marah.
“Apa maksud lo?” Tanya Aiza masih mencoba mengelak.
“Jangan pura-pura Bodoh Aiza. Berhenti bersikap seakan lo gak tahu apa-apa!” Bentak Gerald dengan suara kencangnya membuat Aiza terbelalak dibuatnya. Ini adalah kali pertama Gerald membentaknya dengan suara sekeras itu.
“Andai lo ngasi tahu gue tentang ini semua. Andai gue tahu lebih awal soal keadaan dia mungkin gue bisa nemenin dia lebih awal, Aiza. Tapi lo nyembunyiin ini semua dari gue.”
“Gue bisa jelasin...”
“Ga perlu! Gue udah tahu semuanya.” Tolak Gerald tegas. “Lo egois, Aiza. Lo bikin gue jadi manusia paling gak berguna di dedepan orang yang gue paling gue cintai.”
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Storie d'amore"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
