BAB 77

3.6K 132 51
                                        

“Gue lebih berharap kalau anak itu gak pernah ada.”

Akhirnya kata-kata penolakan itu keluar dari mulut Gerald secara gamblang. Meskipun Aiza sudah mempersiapkan penolakan itu, tapi nyatanya pertahanan yang ia bangun tidak sekuat serangan yang Gerald lancarjan. Hatinya tetap hancur, karena yang Gerald tolak bukan hanya keberadaan anaknya, tapi dirinya juga.

BUG

Dengan gerakan senyap, Bram memberikan bogeman mentah di wajah anaknya. Apa yang Gerald katakan nyatanya bukan hanya menyakiti hati Aiza, tapi Bram, Ranti bahkan Elena. Ranti yang biasanya selalu bereaksi ketika melihat anaknya dilukai kali ini diam saja, tidak ada niatan untuk membela putranya itu.

“Keterlaluan kamu Gerald. Sampai hati kamu mengatakan hal seperti itu tentang anak kamu.” Teriak Bram memuntahkan kemarahannya.

Gerald tidak menanggapi Bram ataupun tatapan menusuk dari ibu dan adiknya. Sebaliknya, ia memfokuskan perhatiannya pada Aiza. “Lo mau kita cerai, kan? Kita urus berkas perceraian kita besok.”

Tanpa menghiraukan teriakan bernada ancaman dari ayahnya, Gerald melenggang begitu saja menaiki tangga menuju kamarnya. Tujuan utamanya datang kesini adalah untuk mengambil buku nikah yang masih tertinggal di kamarnya. Yah, Gerald sudah membulatkan tekadnya untuk segera berpisah dengan Aiza.

Gerald sedikit terhenyak saat ia membuka pintu kamar dan ia hampir tidak mengenali kamarnya sendiri. Kamar yang semula berkesan maskulin kini berubah samasekali dengan box bayi berwarna putih disamping ranjang yang kontras sekali karena seprainya yang berwarna hitam.

Selain itu masih ada stroler, lemari kecil dan banyak hal lain yang Gerald sendiri tidak tahu namanya, ia hanya  tahu itu adalah peralatan untuk bayi. Padahal, berita kehamilan Aiza baru tersiar kemarin, tapi keluarganya sudah berhasil membuat kamarnya menjadi kamar bayi.

Tapi sudahlah, Gerald tidak mau terlalu memperdulikannya, toh ia juga tidak akan kembali ke rumah ini lagi. Apalagi, dengan keputusannya yang menentang Bram, ayahnya itu pasti akan segera mencoretnya dari daftar nama keluarga Atmaja. Yang terpenting sekarang ia harus segera mengambil buku nikahnya dan segera pergi dari kamar yang membuatnya sakit mata itu.

Gerald lalu membuka laci paling atas di meja dekat tempat tidurnya. Ia ingat kalau dia dan Aiza menaruh asal benda itu dengan surat pernikahan kontrak yang ia buat. Tapi saat Gerald membukanya, hal pertama yang ia lihat bukanlah buku kecil berwarna merah, tapi sebuah foto kecil berlatar hitam khas yang ia tahu adalah foto usg. Tertera nama Aiza di pojok kiri atas foto itu.

Lagi-lagi ia tertegun, ada rasa aneh yang menyusup di dada Gerald melihat siluet putih dalam kantung di gambar itu. Ia mungkin bukan dokter kandungan, tapi ia cukup pintar untuk mengetahui apa itu.

“Usianya tiga bulan, hampir masuk empat bulan. Seluruh tubuhnya sudah terbentuk meskipun belum sempurna.” Jelas Aiza yang sudah berdiri dibelakang Gerald.

Gerald tidak menghiraukan Aiza, ia juga mengabaikan foto usg itu dan kembali fokus mencari buku nikahnya.

“Kalau lo nyari buku nikah, lo tanya sama papa. Gue udah ngasih buku nikah itu ke papa.”

Cukup keras Gerald menutup laci meja nakas itu hingga terdengar bunyi bedebum di kamar itu. “Kenapa Lo ngasih buku itu ke Papa?” Tanya Gerald yang sudah berhadapan dengan Aiza.

“Karena gue tahu lo pasti akan nyari buku itu.”  Dan karena alasan yang sama, Aiza meletakkan foto usg anaknya disana. Ia ingin melihat reaksi Gerald, tapi sepertinya hal itu tidak mempengaruhi Gerald sedikit pun.

“Gue males ribut sama Papa, sekarang lo ambil buku itu suapaya kita bisa urus perceraian kita secepatnya.”

“Tapi gue gak mau cerai dari lo.” Balas Aiza membuat Gerald mengerutkan keningnya tidak mengerti.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang