"Lagi ngapain lo, Az?" Tanya Gerald saat ia keluar dari kamar madi dan melihat Aiza dengan langkah tertatih tengah mengambil bantal dan selimut dari kasur dan dipindahkan ke sofa.
"Lagi siap-siap mau tidur." Jawab Aiza sembari menata bantalnya di sofa.
Baru saja Aiza berniat untuk merebahkan diri, Gerald sudah menarik bantal dan selimutnya dan melemparkannya kembali ke kasur.
"Er!" Teriak Aiza marah. "Lo kalo mau ngerjain gue kira-kira dong. Gak liat apa kaki gue lagi sakit." Gerutu Aiza sembari beranjak dari sofa berniat untuk mengambil kembali bantal dan selimutnya.
Namun baru satu langkah Aiza berjalan Gerald sudah menggendongnya dan mendudukannya diatas kasur.
"Lo sadar diri, dong! Udah tahu kaki lagi sakit. Ngapain tidur di sofa? Kalau kaki lo nyenggol ujung sofa dan berdarah lagi gimana?” Kali ini balik Gerald yang mengomeli Aiza.
"Gue gak mau tidur sama lo."
"Gue gak bakal ngapa-ngapain, Az." Ucap Gerald berusaha meyakinkan Aiza.
Bukan! Bukan karena itu Aiza tidak mau tidur dengan Gerald. Ia percaya Gerald tidak akan macam-macam. Ia hanya tidak percaya dengan dirinya sendiri, Akhir-akhir ini detak jantungnya selalu tidak terkendali setiap kali ia dekat dengan Gerald.
"Gue yang tidur di sofa." Putus Gerald mencoba mengalah.
Bukannya berterimakasih, Aiza malah mengejek Gerald dengan kekehannya. "Lo gak liat sofanya pendek? Lo mana muat disana, Er."
"Kalo gitu gue tidur sama lo aja di ranjang."
"Gak mau. Gue tidur di sofa." Tolak Aiza tegas.
"Pilihannya cuma dua, gue yang tidur di sofa. Atau kita tidur berdua di ranjang." Tegas Gerald tidak mau dibantah.
“Terserah lo!” Kesal Aiza dan mulai membaringkan dirinya di ranjang membelakangi Gerald.
Gerald hanya menggelang pelan melihat rajukan Aiza, ia lalu mengambil leptop di tas miliknya dan mendudukkan dirinya di sofa. Sepertinya malam ini ia tidak akan tidur, ada pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan oleh Bram, jadilah ia yang harus mengerjakannya. Yah, selama Gerald berlibur disini, Bram menggantikan sementara posisinya di perusahaan Atmaja.
Cukup lama Gerald berkutat dengan leptopnya. Saking fokusnya, ia tidak menyadari bahwa Aiza sudah berbalik menghadap dirinya dan tengah memperhatikannya. Gerald baru sadar, saat ia merasa haus dan berniat untuk mengambil air yang berada di meja samping tempat tidur.
“Lo belum tidur?” Tanya Gerald sembari mengambil air putih miliknya dari meja disamping Aiza.
Gadis itu tidak menjawab, ia terus memperhatikan Gerald hingga lelaki itu kembali ke sofanya.
“Kenapa? Lo terpesona sama gue?” Gerald kembali memangku leptopnya dan berusaha untuk fokus pada pekerjaannya.
“Bukan terpesona, Cuma ngerasa aneh.”
“Aneh kenapa?”
“Pertanyaan ini ada dikepala gue sejak lama, tapi gue selalu gak punya kesempatan dan lupa nanyain ini sama lo.” Gadis itu menyanggah kepalanya dengan tangannya dan menatap Gerald dengan seksama.
“Soal apa?” Tanya Gerald tanpa mengalihkan fokusnya dari leptop dipangkuannya.
“Amanda.”
Seketika gerakan tangan Gerald diatas keyboard terhenti, lelaki itu langsung mengalihkan fokusnya pada Aiza yang masih setia menatapnya.
“Dia tahu lo nikah sama gue?”
Gerald mengangguk. “Dia tahu.”
“Dan dia ngijinin lo gitu aja?” Tanya Aiza keheranan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romansa"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
