Stevan turun dari mobilnya dengan menenteng tas kertas kecil di tangannya, hari ini ia membelikan bakso khusus untuk Aiza.
Amanda pernah bercerita kalau Gerald sering sekali pergi ke kedai bakso untuk menemani Aiza yang senang sekali makan bakso. Ia juga membelikan bakso itu dari kedai paforitnya. Semoga dengan hal sederhana ini, Aiza bisa sedikit merasakan maksud hatinya.
Dengan langkah lebar Stevan masuk ke rumahnya, saat sampai di ruang santai ia melihat ibunya yang tengah berdiri dan menatap dalam ke arah pigura foto besar yang memperlihatkan dirinya yang dan ayahnya, foto satu-satunya yang ia miliki bersama ayahnya.
Stevan meletakan begitu saja tas kertasnya diatas meja, lelaki itu lalu menghampiri ibunya dan memeluk wanita yang melahirkannya itu dari belakang dan mengecup pipinya sayang.
"Momy ngapain liatin foto Ayah? kangen sama dia?" Goda Stevan yang langsung dihadiahi dengan tepukan pelan di tangannya oleh Stephany.
"Kamu ini, Van. Bisanya ngejek Momy aja."
"Terus kalau bukan kangen ngapain Momy liatin foto Ayah sampe segitunya? Gak biasanya Momy bersikap kayak gini."
Yah, ini adalah kali pertama Stevan melihat ibunya memperhatikan foto ayahnya dengan seintens itu, Stephany memang masih sangat mencintai Evan, itulah kenapa wanita itu tidak kunjung memiliki pasangan setelah perceraiannya. Tapi meskipun begitu, wanita itu tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya.
"Momy lagi nyari kemiripan ayah kamu dengan Aiza." Jawab Stephany membuat kerutan kecil muncul di kening Stevan.
"Ngapain Momy nyari kemiripan mereka? Apa hubungannya Ayah sama Zahra?"
"Aiza tahu nama lengkap ayah kamu."
Kerutan di kening Stevan semakin menebal. Ia tidak pernah bercerita tentang ayahnya pada siapapun bahkan pada Amanda. Rumah ini juga tidak pernah dikunjungi oleh siapapun selain dirinya dan ibunya, jadi darimana Aiza tahu tentang ayahnya?
Stephany melepaskan dekapan putranya lalu berbalik dan menatap dalam ke dalam mata Stevan. "Bukan Amanda Az-zahra, tapi Aiza Az-zahra."
"Maksud Mom..."
Suara deringan telepon dari saku celana Stevan memotong ucapan lelaki itu. Stevan segera meraih handphonenya dan melihat nama Amanda disana.
Seketika kebingungan Stevan sirna, berganti dengan rasa senang yang kentara.
"Hallo, Nda!" Sapa Stevan lembut. "Gimana? Kamu udah sampai di jepang?" Tanya Stevan yang memang sedari kemarin menunggu Amanda menghubunginya.
Seharusnya kemarin ia yang mengantar Amanda ke Bandara, tapi karena Aiza yang terbaring di rumah sakit, ia harus mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk menemani wanita itu yang hanya sendirian.
"Aku udah sampai, tapi aku harus balik lagi ke Jakarta." Jawab suara diseberang sana.
"Balik lagi? Ada apa, Nda? Kamu baik-baik aja, kan?" Tanya Stevan berubah khawatir.
Ia takut terjadi sesuatu yang buruk dengan Amanda yang mengharuskannya untuk kembali ke Indonesia secepatnya. Terlebih, kondisi gadis itu sempat sangat buruk beberapa waktu lalu.
Rasa khawatirnya berkurang saat mendengar suara tawa bahagia di seberang telepon, membuat Stevan merasa senang dan bingung di waktu yang bersamaan.
"Aku gapapa, Van. Aku baik-baik aja." Ucap Amanda di tengah tawanya.
"Lalu kenapa kamu mau kembali? Bukannya kamu mutusin untuk gak akan pernah kembali lagi ke Indonesia?"
"Aku akan segera bertunangan dengan Gerald, Van."
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
