“Darimana Lo dapet kalung itu?”
Semua orang di saung itu kompak menoleh kearah suara. Dilihatnya Aiza sudah berdiri tidak jauh dari mereka dengan wajah memerah menahan marah.
Aiza kembali untuk membawa kamera Gerald, ia ingin mengabadikan momen terakhirnya di kampung itu bersama anak-anak. Tapi apa yang ia lihat saat ini langsung menusuk luka di hati Aiza yang kembali terbuka karena mimpi itu.
“Az, gue bisa jela...” Belum sempat Gerald menuntaskan kalimatnya, Aiza sudah merebut kalung itu lalu berjalan cepat keujung atap, Gerald segera menyusulnya menyadari apa yang akan Aiza lakukan, tapi belum sempat tangan Gerald meraih kalung itu, Aiza udah lebih dulu melemparnya jauh.
“Aiza, Lo gila!” Bentak Gerald dengan nada tinggi.
Kalung itu diberikan Reno kepadanya untuk ia jaga, tapi dengan mudahnya Aiza membuang kalung itu begitu saja.
“Dari mana Lo dapet kalung itu?” Tanya Aiza dengan suara dinginnya, gadis itu mengabaikan wajah mengeras Gerald.
“Gak penting gue dapet itu dari mana.” Jawab Gerald tidak kalah dinginnya. Setelahnya, ia pergi dari tempat itu melewati Mak ‘A’ah, Mang Jajang, Santi juga Syahid.
“Lo mau kemana?” Tanya Aiza sembari menyusul Gerald menuntut penjelasan lelaki itu.
Gerald tidak menanggapi Aiza dan terus berjalan turun melewati tangga untuk kemudian keluar menuju halaman belakang rumah Santi. Ia berhenti sejenak, sedikit memutar tubuhnya seperti memperkirakan sesuatu. Setelah yakin, lelaki itu kembali melangkah menuju ke tempat Aiza melemparkan kalung itu.
Tapi baru beberapa langkah, Aiza sudah berhasil menyusul Gerald dan menahan tangan besar lelaki itu. “Mau kemana?”
“Nyari kalung itu.”
Gerald menghempaskan tangan Aiza dan melanjutkan langkahnya untuk mencari kalung yang Aiza lempar ke sawah. Yah, ia berencana untuk turun ke sawah yang baru dibajak itu dan mengotori dirinya sendiri hanya untuk mencari kalung Aiza.
“Lo cari kalung itu, dan persahabatan kita berhenti sampai disini.”
Kata-kata terakhir Aiza itu sukses membuat Gerald terhenyak dan langsung menghentikan langkahnya. Semilir angin dihangatnya senja terasa menusuk langsung sanubarinya. Untuk pertama kalinya selama mereka bersama, kata-kata itu keluar dari mulut Aiza.
Tidak pernah terbersit sedikitpun di kepala Gerald kalau satu diantara mereka akan menggunakan persahabatan mereka sebagai ancaman seperti ini. Ikatan persahabatan itu sangat sakral untuk Gerald, bahkan lebih sakral dari pernikahan kontrak mereka saat ini.
Dengan tangan terkepal erat, Gerald membalikan tubuhnya, dilihatnya tidak ada raut rasa bersalah dari wajah merah istrinya itu setelah ia menggunakan persahabatan mereka sebagai tameng.
“Hanya karena kalung itu lo bawa tentang persahabatan kita?”
“Cuma? Cuma Lo bilang?”
Aiza berjalan pelan mendekat kearah Gerald dan hanya menyisakan jarak dua langkah diantara mereka.
“Kalo lo bisa dapet kalung itu berarti lo tahu sebenci apa gue sama pemberi kalung itu.”
Gerald tahu. Aiza sangat membenci kalung itu dan pemberinya. Lalu apa? Apa Aiza berhak membawa persahabatan mereka dalam masalah ini?
“Lo sendiri yang bilang kalau gue berhasil ngerubah semua kenangan tentang mereka jadi hanya tentang kita berdua. Terus apa bedanya sama kalung itu, Az?”
“Kalung itu terlalu melekat sama dia. Dan sekuat apapun Lo berusaha ngerubah kenangan itu, yang akan gue inget tentang kalung itu hanya dia, bukan Lo.” Wanita itu terdiam sejenak, berusaha menghalau air mata yang mulai menumpuk di pelupuk matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
