BAB 35
BRAK
Dengan kekuatan penuh, Gerald menutup pintu kamarnya hingga berbunyi bedebum keras di seantero lantai dua. Dengan kasar Gerald merogoh handphonenya dari saku celananya dan melemparnya keras kearah kasur.
Ingin sekali Gerald segera mengguyur kepalanya yang panas dengan air dingin dari shower, tapi ia tidak bisa melakukannya karena tubuhnya masih penuh dengan keringat. Ia tidak mau perubahan suhu yang drastis membuatnya jatuh sakit. Alhasil, ia hanya bisa diam menunggu meskipun kepalanya membara menahan amarah.
Ia sendiri heran, kenapa Aiza sering sekali membuatnya emosi seperti ini. Gadis itu seperti tidak tahu caranya menghindar dari masalah. Dan itu cukup membuat amarah Gerald naik. Ia hanya khawatir, takut gadis itu akan terluka.
CEKLEK
Baru saja Gerald menggerakkan tangannya untuk membuka kaosnya, tapi suara pintu yang dibuka secera tiba-tiba harus menghentikan gerakannya. Dilihatnya, Aiza berjalan masuk dengan kepala tertunduk dan tangan disembunyikan di belakang.
“Ngapain Lo kesini?” Tanya Gerald dengan nada ketusnya sembari melanjutkan kegiatannya membuka kaos yang sudah basah dengan keringat.
“Gue... mau ngobatin luka, lo.” Jawab Aiza sembari menunjukan kotak obat yang tadi ia sembunyikan.
Luka? Gerald tidak merasa ia terluka. Ia mencoba memeriksa tubuhnya, dan benar saja, ada luka lecet di kedua sikunya. Sepertinya saat menangkap tubuh Aiza tadi kedua sikunya juga ikut terbentur dengan tanah hingga lecet, tapi Gerald tidak merasakannya hingga saat ini.
“Ga perlu, gue bisa obatin luka gue sendiri.” Tolak Gerald mendudukkan dirinya di kasur.
Aiza memutar bola matanya jengah, ia harus bersiap menghadapi drama kekesalan Gerald. Terdengar lebai memang, tapi inilah Gerald, orang yang selalu lebih sakit jika dirinya terluka, wajar saja jika lelaki itu kesal saat melihat dirinya terluka, terlebih karena kebodohannya.
Tapi sudahlah, Aiza segera mengikuti Gerald dan duduk disampingnya untuk mengobati luka lecet lelaki itu. Ia tidak mau luka itu infeksi dan membuatnya semakin merasa bersalah.
“Mau ngapain lo?”
“Ngobatin lo.” Jawab Aiza mulai membuka kotak obatnya.
“Udah gue bilang, gue bisa sendiri.” Keukeuh Gerald masih dengan suara ketusnya.
Aiza tidak perduli, gadis itu langsung menarik tangan Gerald dan menempelkan kapas yang sudah dibubuhi alkohol pada luka Gerald hingga lelaki itu langsung meringis kesakitan.
“Pelan-pelan, Az!” Cicit Gerald yang kehilangan sikap dinginnya saat ia merasakan perihnya. Padahal tadi ia tidak merasakan sakit sedikitpun.
Melihat itu, seulas senyum geli terpatri di wajah Aiza, ia tahu Gerald tidak akan pernah bisa marah terlalu lama pada dirinya.
“Tangan kiri lo.” Ucap Aiza setelah ia selesai mengobati siku kanan Gerald.
Tanpa mau membantah, Gerald menuruti perintah Aiza. Lelaki itu mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Aiza hingga gadis itu bisa mengobatinya degan mudah.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
