BAB 73

3.1K 91 19
                                        

Tanpa mengetuk pintu, Sembari memegang nampan berisi semangkuk bubur dan jus tomat, Aiza membuka pintu kamarnya tanpa kesulitan. Dilihatnya, ranjang yang semalam ditiduri dirinya dan Gerald sudah kembali rapih seakan tidak pernah ada yang menggunakannya.

Aiza meletakkan nampan itu di atas meja samping ranjang, matanya mengedar, mencari kebendaan Gerald, tapi ia tidak menemukannya.

Baru saja Aiza berniat masuk ke kamar mandi untuk mencari keberadaan Gerald, pintu itu sudah lebih dulu terbuka dari dalam dan Gerald yang keluar dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya juga rambut yang masih basah.

“Loh, kok lo mandi sih, Er.” Ucap Aiza dengan wajah kesal dan kecewa. Padahal, Aiza sudah mewanti-wanti pada Gerald untuk tidak dulu mandi, ia takut demam lelaki itu akan kembali naik.

“Badan gue Gerah, Az. Dari kemarin gue gak mandi.” Balas Gerald sembari membuka lemari baju Aiza yang masih menyimpan satu set kemeja miliknya.

Tidak nyaman memang memakai kemeja kerja untuk hanya diam di rumah saja, tapi ia tidak punya pilihan lain karena hanya itu yang ia miliki sekarang.

“Tapi semalem badan lo demam lagi. Gak seharusnya lo mandi, Er.”

Gerald tidak menanggapi ocehan Aiza dan tanpa ragu lelaki itu melepas handuknya dan memakai pakaiannya di depan Aiza. Aiza yang melihat itu langsung berbalik membelakangi Gerald dengan wajah memerah.

“Lo kalo pake baju di kamar mandi bisa kan, Er.” Protes Aiza dengan suara terbata melihat gerakan tiba-tiba Gerald.

Aiza  tahu lelaki itu terbiasa memakai baju di wardrobe miliknya langsung, tapi apartemen Aiza tidak memiliki itu dan seharusnya lelaki itu cukup peka untuk memakai bajunya di kamar mandi.

“Kenapa? Toh lo udah sering liat badan gue.” Balas Gerald dengan senyum gelinya menggoda Aiza.

“Tapi gak gini juga!” Cebik Aiza masih dengan wajah merahnya.

“Terus lo maunya gimana.”

Seketika bulu kuduk Aiza meremang, lelaki itu berbisik tepat dibelakang Aiza membuat deru napas Gerald langsung terasa di tengkuk dan telinga Aiza.

Aiza langsung berbalik dan mendorong tubuh Gerald menjauh darinya, beruntung lelaki itu sudah selesai mengenakan pakaiannya, hanya saja kemeja kerjanya masih belum dikancing. “Jangan bercanda lagi, sekarang lo harus makan dan minum obat.”

“Gue maunya makan lo.”

“Er!” Pekik Aiza yang sudah mulai jengah dengan godaan Gerald

“Iya iya, gue makan. Tapi setelah rambut gue kering.”

“Yaudah lo keringin rambut lo dulu. Pengering rambutnya ada laci meja rias.”

“Siapa bilang gue mau pake pengering rambut? Gue mau biarin rambut gue kering dengan sendirinya.” Ralat Gerald sembari mengibaskan rambut basah ya pada Aiza.

“Jangan bercanda, Er.” Sergah Aiza kesal. “Buburnya keburu dingin dan gak enak nanti.”

“Badan gue masih lemes. Gak kuat megang pengering rambut yang berat itu.” Balas Gerald dengan wajah memelasnya.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang