BAB 39

3.5K 74 3
                                        

BAB 39

CEKLEK

Suara handle pintu yang ditekan terdengar cukup nyaring diseantero rumah yang sudah lama tak berpenghuni itu.

Aiza mendorong salah satu dari dua daun pintu rumahnya. Seketika terpampanglah ruang tamu luas dengan sofa abu dan meja kaca ditengahnya. Jika bagian luar rumah didominasi warna abu hitam, bagian dalam lebih didominasi dengan warna abu putih.

Disalah satu dinding terdapat deretan foto yang sangat menarik perhatian Gerald. Dibagian paling atas, terdapat foto hitam putih laki-laki dan perempuan yang menggunakan pakaian khas Sunda. Sepertinya itu adalah Nenek dan Kakek Aiza, orangtua Reno. Turun kebawah, masih dengan frame hitam putih terdapat foto keluarga dimana Kakek dan Nenek Aiza berdiri ditengah diapit oleh dua pemuda yang Gerald yakini adalah Reno dan Kakaknya, Evan, ayah Aiza.

Disana juga ada foto pernikahan Reno dan Khadijah, saat itu Khadijah belum berjilbab. Sepertinya Reno menikah melangkahi kakaknya, terbukti di foto pernikahan itu Evan tidak membawa pasangan. Sisanya adalah foto kebersamaan Khadijah dan Reno yang memang gemar berfoto.

Ada satu hal yang paling menarik perhatian Gerald. Sepertinya ada tiga foto yang hilang dari dinding itu. Terlihat dari tiga bagian yang kosong dari deretan foto di dinding itu.

“Nyokap gue yang nurunin foto di dinding itu.” Ujar Aiza yang menyadari arah tatapan penuh tanya Gerald.

Gerald menoleh kearah Aiza, menunggu gadis itu melanjutkan ceritanya. Ia tidak mau bertanya lebih jauh, karena dari caranya berbicara, Gerald bisa menebak foto apa yang wanita itu turunkan.

“Foto yang diturunin itu foto pernikahan mereka dan foto kita bertiga waktu gue baru lahir.” Aiza berjalan mendekati dinding itu dan menatapi semua fotonya. “Sebelum pergi ninggalin gue, nyokap marah besar dan yah, dia ngancurin foto-foto kenangan kita bertiga, termasuk dua yang ada di dinding itu.”

“Terus kenapa keluarga lo bisa punya rumah disini? Bukannya lo dari Bandung, Az?” Tanya Gerald mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia Takut Aiza akan terluka jika menceritakan hal kelam itu.

“Kakek Nenek gue asli orang sini. Mereka merantau ke Bandung dan bikin usaha disana. Sesekali mereka datang ke kampung ini untuk liburan. Katanya sih dulu rumah ini masih berupa rumah panggung waktu mereka ninggalin ninggalin kampung ini, terus Kakek gue rombak dan jadi bangunan modern pertama di jamannya.” Jelas Aiza sembari mengajak Gerald berkeliling area rumah itu.

 Dimulai dari ruang keluarga yang hanya disekat dengan lemari kaca dengan ruang tamu, ruang makan yang menyatu dengan dapur. Hanya ada satu kamar di lantai itu juga gudang di dekat dapur.

Mereka lalu naik ke lantai atas, dimana ada dua kamar di lantai itu juga ruang santai dengan beberapa alat gim yang sudah berumur. Disana juga ada ruang baca yang dilengkapi dengan perpustakaan mini.

“Dulu gak ada ruang baca di rumah ini. Tapi setelah Mamang tinggal disini, dia ubah salah satu kamar tidur disini jadi ruang baca. Semua buku disini koleksi Mamang sama Bibi. Mereka emang gila baca dari jaman sebelum nikah.” Jelas Aiza sebagai tour guide Gerald.

“Mang Reno pernah tinggal disini?”

“Iya. Dulu dia pernah jadi dosen di Tasik selama tiga tahun. Dia milih tinggal disini, padahal jarak kampusnya ke rumah ini jauh banget, apalagi dengan infrastruktur yang saat itu masih buruk banget.”

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang