Jam makan siang selalu menjadi jam paling ramai di kantin kantor Atmaja. Meskipun tidak semua karyawan makan disana, tapi tempat itu selalu ramai.
Seperti sekarang, lantai dua yang dikhususkan untuk kantin itu sedang riuh oleh orang-orang yang mengantri mengambil makan tau menunggu makanan untuk orang-orang yang memesan bakso. Benar, kantin kantor itu menyediakan menu bakso, hal yang jarang untuk kantin sebuah kantor.
Dipojokan kantin yang terdapat meja dan kursi untuk 8 orang itu tengah ramai oleh celotehan Aldi, Alan, Dela, Salma, Tasya dan Rendi. Sementara Hera, wanita itu tengah termenung dan sesekali menghela napas berat mengabaikan makanan yang sudah tersaji didepannya. Yah, mereka menjadi dekat setelah liburan ke vila Rendi beberapa waktu lalu.
Dela yang menyadari absennya suara Hera melirik kearah wanita itu yang memang biasa duduk disampingnya. Gadis itu keheranan karena biasanya Hera lah yang paling vokal bersuara dan menggali informasi terbaru dari si ratu gosip, Tasya.
“Mba Her! Kamu gapapa?”
Hera tidak bergeming, sepertinya ia tidak menyadari suara Dela. wanita itu malah menghela napas berat, seperti ada tonan beban yang tengah menghimpitnya.
“Mba Hera!” Panggil Dela yang kali ini dibarengi dengan mengguncang tangan wanita itu.
Seketika Hera tersadar dari lamunannya. “Iya, kenapa, Del?”
“Kamu kenapa? Diem aja dari tadi.”
“Iya, Her. Kamu kayak gak semangat hari ini.” Tambah Rendi yang satu divisi dengan Hera.
Sudah beberapa hari ini Rendi memang tidak menambahkan embel-embel Mba di panggilannya pada Hera. Ia menggantikan panggilan lo-gue menjadi aku-kamu. Katanya agar mereka terdengar lebih akrab, meskipun kurang nyaman, tapi Hera tidak berniat untuk mendiskusikannya dengan Rendi.
Sementara Hera, lagi-lagi wanita itu menghela napasnya frustasi dan dengan penuh keputus asaan ia berkata. “Kayaknya hidup gue gak akan lama lagi deh.”
“Apa?” Teriak semua orang di meja itu serentak.
“Kamu sakit, Her?” Tanya Rendi panik.
“Jangan-jangan lo kena kanker, Mba.” Timpal Alan membuat Rendi semakin panik.
“Atau lo punya hutang pinjol, Mba?” Tebak Aldi asal.
“Lebih daripada itu.” Jawab Hera dramatis membuat semua orang kebingungan dan prihatin melihatnya.
“Emang kamu ada masalah apa, Mba?” Tanya Dela khawatir.
“Gue nyekek Aiza didepan pak bos.”
“Apa?” Teriak mereka lebih heboh dari sebelumnya saat Hera mengatakan kalau hidupnya tidak lama lagi. Orang-orang disekitar mereka sampai terkejut dan terganggu karena ulah mereka ini.
Dela yang paling prihatin diantara semuanya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana stresnya Hera saat ini. Wanita itu bahkan belum sempat bernapas lega setelah kejadian pohon mangga itu, sekarang ia malah kembali bersinggungan dengan Gerald dan lebih parah dari sebelumnya.
“Ada apa sih? Kok heboh banget.” Tanya Aiza yang baru bergabung dan ikut nimbrung ke meja dipojokan itu.
Wanita itu baru saja kembali ke kantor dengan Gerald. Lama berlibur, mereka langsung disuguhkan dengan setumpuk pekerjaan. Salah satunya adalah meninjau hotel yang berhasil diakuisisi Gerald dan direnovasinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
