BAB 60

3.1K 96 23
                                        

“Apa kamu mulai mencintai Aiza dan ingin memilikinya?” Entah dari mana datangnya pemikiran itu, tapi Amanda tidak bisa memikirkan hal lain selain itu.

Stevan kembali tersenyum lalu kembali menyuapi Amanda. “Dia cukup menarik, tapi sepertinya bukan perasaan seperti itu yang aku miliki buat dia.”

“Lalu gimana  sama aku? Apa kamu punya perasaan seperti itu buat aku?”

Stevan menghentikan gerakannya tangannya yang tengah memisahkan sepotong jeruk. Cukup lama ia terdiam membuat Amanda mengerutkan keningnya karena tidak kunjung mendengar jawaban Stevan.

“Maaf kalau pertanyaan aku  nyinggung kamu.”

“Enggak, pertanyaan kamu gak  nyinggung aku. Aku cuma lagi mempertanyakan perasaanku. Dan aku harap bukan perasaan seperti itu jawabannya.”

Lagi, sikap Stevan membuat kerutan di kening Amanda semakin kentara. “Kenapa? Apa aku gak pantas untuk dicintai sama kamu?”

“Bukan! Bukan kayak gitu maksud aku.” Sanggah Stevan cepat takut ia yang menyinggung Amanda. “Aku Cuma lagi ngebayangin. Rasanya pasti akan sangat menyakitkan jika perasaan seperti itu yang aku punya buat kamu. Karena seberapa besarpun perasaan itu, aku gak akan pernah mungkin milikin kamu.”  Lanjut Stevan menjelaskan maksud dari jawabannya.

Yah, Amanda juga berharap seperti itu. Ia berharap, perasaan Stevan terhadapnya bukanlah perasaan cinta. Karena jika itu benar, Amanda tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Stevan dan harus bagaimana ia membalas perasaan sebesar itu. Karena sampai kapanpun hanya akan ada Gerald di hati Amanda dan bukan orang lain.

*

Suara decitan ban mobil yang yang direm di kecepatan tinggi terdengar nyaring di sebuah basemen yang cukup luas itu.

Tanpa mau memarkirkan mobilnya dengan benar, Gerald keluar dari mobil dan menutup pintu mobilnya kasar. Lelaki itu berlari cepat kearah lift dan menekan tombolnya tidak sabar.

Karena pintu lift yang tidak kunjung terbuka, Gerald akhirnya berlari kearah tangga darurat. Seperti orang kesetanan, Gerald berlari cepat untuk sampai ke unit apartemennya yang ada di lantai 7.

Beberapa kali ia hampir terjerembab karena pijakan yang salah efek dari perasaannya yang tidak karuan setelah Hera mengabarkan kalau kondisi Aiza semakin memburuk dan saat ini tidak sadarkan diri.

Saking terburu-burunya, Gerald bahkan tidak sempat berpamitan pada Amanda dan langsung pergi begitu saja dari rumah sakit.

Tanpa beristirahat sedikitpun, Gerald terus berlari hingga sampai di lantai 7 dan langsung menuju unit miliknya. Saking paniknya, ia harus memasukan pin apartemen hingga 3 kali karena ia salah menekan angka.

Setelah pintu terbuka, ia langsung menuju ke kamar Aiza dan membuka pintu coklat itu kasar. Ia terhenyak melihat keadaan ranjang yang kosong dan rapih. Ia segera menuju kamar mandi untuk mencari Aiza atau Hera yang ia tugaskan untuk menjaga Aiza.

Tapi nihil, Gerald tidak bisa menemukannya. Pikiran buruk mulai menghantam pikiran Gerald. Dengan cepat lelaki itu keluar dari kamarnya dan berjalan cepat menuju pintu keluar.

Tapi langkahnya terhenti saat ia menemukan seseorang yang dicarinya tengah berdiri membelakanginya di dapur yang terhalang meja bar.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang