BAB 67

2.8K 101 33
                                        

Suara gelak tawa dari bayi berusia delapan bulan dan ayahnya yang tengah bersenda gurau dengan ibu si bayi terdengar begitu indah di telinga Aiza. Saat ini, wanita itu tengah memperhatikan Reynald dan Michel yang tengah menyuapi Reyna dengan Reynald yang menjadi kursi makan gadis kecil itu sementara Michel yang terus melakukan gerakan aneh berusaha membuat Reyna membuka mulutnya.

Tapi bukannya membuka mulut, gadis kecil itu malah tertawa lepas karena gerakan aneh yang dilakukan ibunya. Begitu juga Reynald yang tidak tahan melihat kelakuan istrinya yang absurd. Tanpa sadar Aiza ikut tersenyum melihat kebahagiaan keluarga kecil itu dan membayangkan bahawa dua orang disana adalah Gerald dan dirinya bersama anak mereka.

Tapi kenyataan menampar dirinya, Gerald sudah sangat tegas akan menyingkirkan siapapun yang akan menghalangi hubungannya dengan Amanda, termasuk anak itu. Terlebih, sebagian hatinya masih belum bisa menerima keberadaan anak itu, atau lebih tepatnya ia menyayangkan kehadirannya di waktu yang tidak tepat. Andai saja anak itu hadir saat hubungannya dan Gerald sedang baik-baik saja, mungkin Gerald akan berusaha menerima anak itu.

Dan lagi, Jika pun mereka menerima anak itu dengan baik, Aiza tidak yakin bisa sesabar dan setelaten Michel dalam menyuapi bayi yang terus saja menolak. Ia juga yakin, Gerald tidak akan merelakan baju dan tangannya kotor karena bayinya melepeh makanannya. 

Setelah semua kesalahan yang ia lakukan pada Mamang dan Bibinya juga seluruh keluarga Atmaja, ia merasa tidak pantas untuk mendapatkan kebahagiaan itu, pemandangan dihadapannya terlalu indah untuk menjadi nyata dalam hidup Aiza.

“Bisa mereka ketawa saat gue menderita kayak gini.” Cebik seseorang yang cukup membuat Aiza terkejut dan langsung tersadar dari lamunannya.

“Kenapa lo, Bang?” Tanya Aiza melihat Ali  yang sudah duduk disampinya sembari mengompres hidungnya dengan kompersan.  

“Adek ipar lo itu kayaknya jelmaan hulk. Kemarin dia nimpuk kakaknya pake gelas, sekarang dia banting pintu tepat didepan gue. Rasanya hidung gue mau patah gara-gara dia.” Gerutu Ali yang sesekali meringis merasakan rasa sakit di hidungnya.

Aiza tersenyum geli melihat Gerutuan abangnya itu. “Lagian lo mau aja deketin singa yang lagi ngamuk, Bang.”

Yah, semua orang juga tahu bagaimana Elena saat Marah. Orang-orang di dekatnya pasti akan menjadi sasaran kemarahannya, itulah kenapa saat marah, wanita itu memilih untuk menyendiri di kamarnya daripada harus menyakiti orang disekitarnya baik secara fisik ataupun verbal.

“Tadinya gue mau ngajak Elena buat  gosipin lo sama Gerald, tapi khodamnya malah aktif, Jadilah gue korbannya.”

Aiza hanya bisa menggeleng pelan dan lagi-lagi tersenyum geli dengan kelakuan Ali yang seperti ibu-ibu rempong yang suka bergosip.

Untuk beberapa saat, mereka hanya diam memperhatikan interaksi orangtua muda dihadapan mereka dengan putri kecilnya itu. Lebih tepatnya, hanya Aiza karena Ali masih sibuk mengompres hidungnya.

“Lo gak mau kayak mereka?” Celetuk Ali melihat bagaimana intens Aiza mantap keluarga bahagia diseberang mereka.

“Lo sendiri? Lo pernah hampir ada disposisi Kak Rey. Kalo itu terjadi, mungkin yang sekarang gue liat bukan Kak Rey, tapi lo dan Kak Michel.”

 Masih jelas diingatkan Aiza bagaimana dulu Reynald dan Ali berseteru, mereka bahkan hampir saling membunuh hanya karena Michel.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang