Tiga bulan kemudian
TRAK
“Kopi anda, Pak.” Sedikit kasar, sekretaris baru Gerald itu meletakan cangkir putih berisi kopi yang masih mengepul di meja kebesaran Gerald. “Saya hanya ingin mengingatkan, satu jam lagi kita akan meeting di perusahaan Baskara.”
Gerald tidak memedulikan wanita berkacamata itu dan fokus dengan layar monitor dihadapannya hingga pintu kembali berbunyi menandakan sang sekretaris telah meninggalkan ruangannya.
Dengan pandangan yang tidak lepas dari monitor, Gerald meraih kopi buatan sekretarisnya. Dua detik kemudian, kopi itu menyembur dari mulut Gerald, rasa manis yang dibencinya memenuhi mulut lelaki itu.
Entah dendam apa yang dimiliki Hera, ia sudah memperingatkan wanita yang belum tiga bulan menjadi sekretarisnya itu untuk tidak mamasukan satu butir pun gula kedalam kopinya, tapi wanita itu seperti tidak mendengar dan beberapa kali selalu berhasil membuat Gerald menyemburkan kopinya.
Entah bagaimana caranya, setelah Aiza resign dan Bram mengambil alih posisinya, ayahnya itu menunjuk Hera sebagai sekretarinya. Dulu, sebelum ia merekrut Aiza karena sekretarisnya resign, sekretarisnya itu memang pernah merekomendasikan Hera untuk menjadi penggantinya.
Wanita berkacamata itu ternyata memiliki pengalaman di bidang itu sebelum bekerja di perusahaan Atmaja. Dan kinerjanya memang sangat bagus sebagai sekretaris meskipun sikap judesnya terkadang membuat Gerald tidak nyaman. Tapi ia tidak punya pilihan lain dan terlalu malas untuk merekrut sekretaris lain dan menyesuaikan diri kembali.
Tidak mau terlalu memikirkannya, Gerald membuka laci disampingnya lalu meraih dasi hitam yang dirasa akan sesuai dengan setelan abunya. Lelaki itu beranjak dari tempatnya menuju cermin besar di sudut ruangan.
PRAK
Dengan kasar Gerald melemparkan dasinya frustasi, selama hampir dua bulan ini ia berusaha mengikat dasinya sendiri selalu saja gagal dan tidak pernah serapih Aiza.
Aiza, nama itu tidak pernah hilang dari kepala Gerald walau hanya sesaat. Mungkin raganya pergi dari Gerald, tapi bayangannya tidak bisa menghilang begitu saja dari hidupnya.
Berkali-kali ia mendengar suara ketus namun menyejukan itu di telinganya, tapi saat ia berbalik, hanya kehampaan yang menyambutnya.
Gerald tidak merindukan Aiza apalagi berharap wanita itu akan kembali lagi dalam hidupnya, ia hanya merasa ada lubang besar di hatinya yang tidak bisa ditutupi bahkan dengan kehadiran Amanda di hidupnya.
“Er!”
Lagi-lagi suara itu memenuhi telinga Gerald, tapi kali ini ia bersumpah untuk tidak berbalik dan merasa sedikit ... kecewa.
“Er!”
Lagi-lagi suara itu menggema di telinganya, Gerald berusaha mengabaikannya dengan kembali meraih dasi yang tadi ia lempar. Tapi gerakannya terhenti saat tatapannya bertemu dengan bayangan orang yang sudah menghilang itu di cermin.
Dengan cepat Gerald berbalik sembari memanggil nama orang itu. “Az!”
“Az?” Lembut, tapi penuh duri. Amanda tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya mendengar nama wanita lain keluar dari mulut tunangannya.
Yah, Gerald dan Amanda sudah resmi bertunangan dua bulan yang lalu. Hanya acara sederhana yang dihadiri keluarga inti, Gerald tidak mengundang satupun sahabat baiknya, entah itu Reynald atau Ali, bahkan Elena enggan hadir dalam acara itu.
Gerald kira akan terjadi hal besar dalam reuni keluarga yang sudah lama tidak bertemu itu. Ternyata Omanya bersikap biasa bahkan cenderung dingin saat melihat Salina, putri kesayangan yang sudah lama menghilang itu, begitu juga dengan Bram. Hanya Ranti yang menyambut hangat adik iparnya.
“Maaf Nda, aku kira...”
“Aku Aiza?” Potong Amanda yang membuat Gerald terdiam. “Kamu ... merindukan dia?” Tanya Amanda ragu.
“Tidak samasekali, aku cuma gak suka kamu manggil aku dengan panggilan itu.”
“Kenapa? Karena hanya Aiza yang boleh manggil kamu degan panggilan itu?”
“Bukan itu ... Aku hanya tidak mau ingat tentang dia lagi.”
Selama ini hanya Aiza yang memanggilnya dengan panggilan itu, rasanya sangat aneh saat ada suara lain yang memanggilnya seperti itu.
Dulu Gerald sangat membenci panggilan itu karena awalnya panggilan itu diperuntukkan untuk mengejeknya.
Semua itu bermula dari Aiza yang menolak keras dipanggil Zahra olehnya. Ia juga tidak mau memanggil Aiza dengan panggilan Aiza karena ada anak lain dengan nama Aiza yang menyukainya dan selalu menggatal setiap kali ia memanggil Aiza.
Akhirnya, Gerald mengambil jalan tengah, ia mencomot nama Az-zahra dan mulai memanggil nama Aiza dengan panggilan Az.
Aiza juga tidak terima dipanggil seperti itu. Suatu hari, neneknya dari pihak ibu yang adalah orang Jawa datang ke rumahnya dan memanggil Gerald dengan panggilan Angger yang sangat kental.
Aiza yang ingin membalas Gerald mulai memanggil Gerald dengan panggilan Angger, sebelum akhirnya hanya tersisa Er.
Sejak saat itu Az dan Er melekat dalam panggilan mereka dan menjadi panggilan kesayangan tanpa mereka sadari. Mereka akan marah saat ada orang lain yang memanggil mereka dengan nama itu.
“Maaf, aku gak bermaksud untuk bikin kamu inget dia.” Rasa cemburu Amanda seketika berubah menjadi rasa bersalah pada Gerald.
Melihat itu, Gerald segera meraih pipi Amanda dan mengelusnya lembut. “It’s ok, Nda. Aku gapapa.”
Senyum lembut yang selalu Gerald sukai itu akhirnya kebali.
“Gak biasanya kamu nyamperin aku ke kantor, ada apa?” Tanya Gerald setelah melepaskan tangannya dari pipi Amanda.
“Pernikahan kita kurang dari satu bulan lagi, Aku mau ngajak kamu untuk fitting baju pengantin kita.”
Fitting baju pengantin? Ini adalah pertama kalinya Gerald melakukan hal seperti itu. Dulu saat menikah dengan Aiza, mereka tidak punya kesempatan untuk melakukannya.
Aiza hanya mengenakan kebaya sederhana yang bibinya pakai saat menikah dengan Reno, tapi hal itu tidak mengurangi kecantikan yang dipancarkan Aiza, bahkan Gerald berhasil dibuat tertegun saat menyadari kalau sahabatnya ternyata begitu cantik.
“Kamu lagi sibuk yah? Kalau begitu kita cari waktu lain aja.” Ucap Amanda yang tidak kunjung mendapat respon Gerald.
Gerald segera sadar dari lamunannya. “Maaf Nda, aku cuma masih gak nyangka aja kalau akhirnya kita bersatu.” Bohong Gerald yang ternyata mampu membuat Amanda tersipu.
“Sebentar, aku hubungin sekretarisku dulu.” Gerald kembali ke mejanya dan menghubungi seseorang dengan telepon kantor. “Kosongkan jadwal saya hari ini.” Tanpa menunggu jawaban orang si seberang telepon, Gerald segera memutus sambungannya.
BRAK
Tidak sampai satu menit, pintu ruangannya dibuka kasar dari luar hingga terdengar bunyi keras yang membuat Gerald dan Amanda menoleh kearah pintu.
Dilihatnya Rendi datang dengan wajah memerah. Dengan langkah lebar, lelaki itu berjalan menghampiri Gerald.
BUG
Dengan sekali pukulan, Gerald sukses tersungkur di lantai. Amanda yang melihat itu langsung berteriak dan menghampiri Gerald.
“NGAPAIN LO MUKUL GUE, BRENGSEK!” Teriak Gerald setelah ia berhasil berdiri dibantu Amanda.
Amarah Rendi semakin memuncak mendengar teriakan Gerald. Lelaki itu sudah mengangkat tinjunya untuk kembali menghantam wajah sepupunya, tapi kali ini sebuah tangan berhasil menghentikannya.
Rendi menoleh ke arah pemilik tangan itu bersiap untuk memakinya, tapi amarahnya menguap seketika saat wajah yang sudah lama ia rindukan tertangkap oleh matanya.
Hera, wanita itu sempat tertegun melihat Rendi yang berjalan menuju ruangan bosnya, awalnya ia ingin mengabaikan hal itu, tapi teriakan Amanda membuatnya khawatir dan langsung menuju kesana.
“Kenapa kamu tiba-tiba mukul Gerald?”
Suara Amanda yang penuh amarah seketika menyadarkan Rendi tentang tujuan kedatangannya kesana.
Lelaki itu melepaskan tangannya dari Hera, lalu meraih sesuatu dari saku dalam jasnya. Dengan keras ia melemparkan sebuah undangan pernikahan dengan latar hitam bertuliskan nama Gerald dan Amanda disana.
“Apa maksudnya ini?” Tanya Rendi dengan wajah yang kembali memerah.
“Udah jelas tertera disana, gue dan Amanda akan segera menikah.”
BUG
Lagi-lagi Gerald menjadi sasaran Rendi, kali ini kemampuan taekwondonya yang lelaki itu keluarkan. Seketika Gerald terdorong kebelakang sembari terbatuk karena perutnya terkena tendangan tiba-tiba Rendi.
“LO GILA!” Pekik Gerald setelah batuknya reda.
“Lo yang gila, Bajingan. Kenapa Lo bisa nikah sama perempuan lain saat lo udah punya Aiza.” Ucap Rendi tidak kalah kerasnya.
“Lo gak tahu kalau gue dan Aiza udah pisah?”
“Pisah? Saat dia lagi hamil?”
Pertanyaan polos sarat akan sarkasme itu sukses membuat Gerald membeku.
Hera menyadari perubahan gestur bosnya. Dalam hati ia tertawa melihat itu, sudah lama sekali ia ingin menghadiahi Bogeman mentah ke wajah Gerald dan menyumpahinya dengan segala sumpah serapah yang ia ketahui. Ia juga ingin memberitahu lelaki itu tentang betapa bodohnya lelaki itu dan pengorbanan apa yang sudah temannya lakukan.
Sayangnya, Bram, bos besarnya melarang Hera untuk memberitahu Gerald dan menyuruhnya untuk berpura-pura tidak mengetahui kehamilan Aiza. Lelaki paruh baya itu juga melarang Hera untuk resign dan menyuruhnya untuk menjadi mata bos besarnya untuk mengawasi Gerald.
Mengingat kebaikan yang sudah ayah mertua Aiza itu lakukan untuknya, Hera dengan berat hati menurutinya.
“Apa maksud Lo dengan hamil? Aiza gak benar-benar hamil, dia pura-pura.”
Rendi mendengus sinis mendengar itu. “Jadi lo tahu dia hamil dan tetep mutusin untuk menikah sama wanita lain?”
“Udah gue bilang kalau dia cuma pura-pura.” Pekik Gerald berusaha mempertahankan argumennya yang ia sendiri ragukan.
“Pura-pura? Lalu yang gue liat dua Minggu lalu saat jenguk opa di rumah sakit Bandung itu apa? Gue liat sendiri dan nyapa Aiza dengan perutnya yang membesar.” Jelas Rendi penuh keyakinan.
“Gak itu gak mungkin.” Gerald menggeleng menolak keras berita yang dibawa Rendi.
“Ternyata lo bukan cuma bajingan, lo lebih dari itu. Kalau lo gak bisa jaga dia. Gue yang akan jaga dia.” Lanjut Rendi sembari melenggang begitu saja dari ruangan itu.
Lelaki itu berdiri cukup lama dengan tangan terkepal sebelum menekan tombol lift. Ini adalah kali pertama ia marah sebesar ini pada seseorang. Aiza sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, ia benar-benar tidak terima kakaknya diperlakukan seperti itu oleh sepupunya.
“Rendi!” Suara yang angkat ia rindukan memanggil namanya.
Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka, beberapa orang keluar menyisakan ruang kosong untuk Rendi. Tapi bukannya masuk kedalam, Rendi malah berbalik dan menghambur ke pelukan Hera.
Orang-orang yang baru keluar dari lift sontak saja terkejut, begitu juga dengan Hera. Tapi bukannya melepaskan, Hera malah membalas pelukan itu tidak kalah eratnya. Karinduan yang selama ini mereka simpan akhirnya terbayar dengan pelukan erat yang enggan mereka lepaskan.
*
*
*
Sementara itu di ruangan Gerald, lelaki itu terpaku ditempatnya lama, begitu juga dengan Amanda yang enggan mempercayai apa yang sudah Rendi katakan. Meskipun begitu, Amanda mencoba untuk bersikap tenang seakan tidak terganggu dengan fakta baru yang bawa Rendi.
“Al, aku...”
“Maaf Nda, tapi aku gak bisa nemenin kamu ke butik.” Tanpa mau menunggu respons dari tunangannya itu, Gerald meninggalkan Amanda yang hanya bisa diam dan menerka apa yang akan terjadi setelah itu.
Gerald meraih handphone-nya, tanpa mau berhenti atau memelankan langkahnya Gerald menghubungi seseorang yang biasa membantunya untuk mencari seseorang.
Hanya butuh satu detik dan orang diseberang telepon langsung menerima panggilannya. “Cari tahu keberadaan Aiza Az-zahra, istri saya.” Ucap Gerald tanpa mau menunggu seseorang dibalik telepon menyelesaikan sapaannya.
Setelah itu, Gerald langsung menutup teleponnya, bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka, ia langsung masuk dan menekan tombol satu di sisi kiri pintu lift.
Bersambung ...
Hallo semua! Lama gak up. Makasih banget untuk kalian yang selalu nunggu ceritaku meskipun author-nya sering benget gantung cerita. Sekali lagi terimakasih semua. Love you sekebon.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
