Satu Minggu sudah Gerald dan Aiza berlibur di kampung masa kecil Aiza. Dan sejauh ini semuanya terasa sangat menyenangkan untuk Gerald. Minus, kejadian mati lampu yang hampir setiap hari terjadi.
Hampir setiap hari Gerald dan Aiza menghabiskan waktunya di rumah Santi terutama sore hari dimana anak-anak bermain di halaman rumah Santi yang cukup luas. Lelaki itu sangat senang mengabadikan momen anak-anak yang tengah bermain dengan permainan yang setiap harinya berbeda.
Entah sejak kapan lelaki itu hobi memotret, bahkan ia dengan sengaja membeli kamera terbaru hanya untuk memotret anak-anak itu. Atau memotret petani yang tengah panen padi.
Mengingat panen padi, Aiza jadi teringat dengan kejadian dua hari yang lalu. Lelaki itu dengan PD-nya ikut memanen padi. Semuanya baik-baik saja awalnya hingga lelaki itu mencoba untuk memisahkan padi yang bagus dengan yang kosong dengan cara ditapi.
Mungkin dalam pikirannya itu sangat mudah, tapi saat dicoba bukannya memisahkan padi, lelaki itu sukses membuang padi di penapi itu seluruhnya hingga para petani disana hanya bisa melongo melihatnya. Bukan hanya sekali, tapi sampai tiga kali dan dengan PDnya lelaki itu membela diri dengan berkata kalau padi itu adalah padi yang gagal.
Syahid dan Khalid yang kebetulan ada disana menertawakan Gerald dengan sangat puas, terutama Khalid. Keduanya bahkan sampai ditegur oleh Santi karena tidak sopan. Tapi Gerald memang senang ribut dengan Khalid, mereka kembali berdebat entah untuk yang beberapa kalinya, karena setiap kali mereka bertemu ada saja yang mereka ributkan. Aiza sendiri heran dengan sikap Gerald yang seperti ini, entah sejak kapan lelaki itu senang ribut dengan anak Kecil.
Hari ini anak-anak itu mengajak Aiza dan Gerald untuk pergi ke air terjun dengan Santi dan Syahid yang memandu mereka. Ternyata air terjun yang terlihat dari halaman belakang rumah Santi itu tidak sedekat yang terlihat. Bahkan jalannya sedikit terjal karena mereka harus menyusuri sungai.
Karena itu, sepanjang perjalanan Aiza mengeluh dan merengek bahkan anak-anak disana sampai mengejek Aiza karenanya. Bagaimana tidak, anak-anak itu berjalan dengan luwesnya padahal mereka membawa beberapa barang untuk mereka membuat liwet nanti.
Tidak tahan mendengar rengekan Aiza, Gerald akhirnya berinisiatif untuk menggendong gadis itu meskipun ia sendiri sedikit kesulitan untuk berjalan. Syahid yang melihat itu tidak mau kalah, ia juga menggendong Santi meskipun wanita itu sudah menolaknya karena malu.
Setelah itu, Aiza hanya diam. Pikirannya berkelana jauh ke masa lalu. Yah, ia pernah mengalami momen ini sebelumnya bersama ayahnya. Ia juga pernah digendong oleh ayahnya tepat ditempat itu. Tapi entah kenapa, hatinya tidak merasakan sakit lagi.
Beberapa hari ini, Aiza sering sekali bersinggungan dengan segala hal yang mengingatkannya dengan masa lalu, tapi perlahan rasa sakit itu mulai hilang. Mungkin karena yang menemaninya adalah Gerald. Perlahan, Lelaki itu berhasil membuat semua hal yang mengingatkan Aiza tentang Ayahhya berubah. Tanpa sadar ia melupakannya dan hanya mengingat segala hal yang ia lakukan dengan Gerald. Yah, lelaki itu menggantikan kenangan Ayahnya tanpa ia sadari.
Seperti saat ia melihat sepeda milik ayahnya. Entah mengapa yang sekarang muncul dikepalanya setiap kali melihat sepeda itu hanyalah kenangannya dengan Gerald bukan dengan orangtuanya.
“Kenapa Lo diem aja?” Tanya Gerald yang keheranan karena Aiza hanya diam.
Padahal sedari tadi gadis itu tidak berhenti bicara dan mengeluh. Tapi sekarang ia malah diam seribu bahasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
