BAB 76

3.5K 133 45
                                        

“Selamat, Papa dan Mama akan segera menjadi Kakek dan Nenek. Aiza hamil, Pah.”

Semua orang di ruangan itu kecuali Aiza seperti lupa caranya bernapas, terutama Gerald. Ia tidak bisa merasakan keberadaan tubuhnya, telinganya berdenging hingga suara kegembiraan di seberang telepon terasa menusuk telinganya. Suhu pendingin ruangan yang awalnya biasa berubah terasa menganggu, bahkan menyerap ke setiap titik syaraf di tubuhnya.

Hamil? Aiza tengah hamil dan kemungkinan besar itu adalah anaknya. Tidak, itu semua tidak mungkin. Aiza hanya mengatakan itu untuk merusak hubungannya dengan Amanda.

Seperti itulah suara-suara yang berputar di kepala Gerald. Sebisa mungkin lelaki itu menyangkal semua kebenaran yang Aiza katakan.

“Kamu... Kamu gak bercanda kan sayang? Gerald sudah tahu soal ini?” Tanya Bram dengan suara terbata karena terlalu bahagia.

“Gerald juga baru aja tahu. Dia sangat terkejut dan senang. Saking senangnya, dia hampir menangis sekarang.” Balas Aiza setengah berbohong.

Yah, Gerald memang hampir menangis sekarang, tapi dari raut wajahnya, Aiza yakin kristal bening yang menyelimuti mata Gerald sekarang terbentuk bukan karena terharu, tapi karena tumpukan emosi dan kemarahan yang tidak bisa lagi ia bendung.

“Kasih teleponnya ke Gerald, papa mau ngomong sama dia.”

“Gerald lagi terharu sekarang, Pah. Dia gak bisa ngomong apa-apa saking senangnya akan segera menjadi seorang ayah. Sekarang, dia lagi meluk Aiza erat dan gak berhenti bilang terimakasih karena sudah membuatnya sebahagia ini.” Semua yang Aiza ucapkan adalah harapannya saat ia memberi tahu Gerald. Nyatanya, yang ia dapatkan sekarang adalah penolakan yang sangat kentara.

“Ya udah. Papa tutup dulu. Kita mau langsung ke bandara aja supaya lebih cepat sampai di Jakarta dan ketemu sama kamu.”

“Iya, Pah. Hati-hati di jalan.”

Sambungan telepon itu pun terputus. Aiza kembali memasukan handphonenya ke dalam tas kesayangannya.

“Bilang sama gue, kalau apa yang lo omongin tadi semuanya bohong.” Ucap Gerald dengan suara yang dalam dan sarat akan penolakan.

“Gak semuanya bohong. Gue Cuma bohong kalau lo sangat bahagia akan menjadi seorang ayah. Kalo lo gak percaya gue hamil, lo bisa tanya sama Stevan, kita baru aja periksa calon anak lo.”

“STOP! Berhenti menghubungkan anak itu sama gue.” Titah Gerald yang tidak tahan mendengar kenyataan kalau ia akan segera memiliki anak.

“Tapi kenyataannya anak ini emang terhubung sama lo. Dalam darahnya juga ada darah lo, darah gue, darah kita berdua. Dia adalah buah cinta kita.” Ucap Aiza sembari mengelus perutnya ya sudah tidak rata memamerkannya pada Gerald dan Amanda.

“Gak mungkin. Ini semua gak mungkin. Stevan, bilang sama aku kalau apa yang Aiza bilang semuanya bohong.” Kali ini Amanda yang bersuara, menolak kenyataan bahwa kekasihnya memiliki anak dari wanita lain. Melihat raut frustasi itu membuat Aiza tidak bisa menahan senyum puasnya, sementara Stevan, ia hanya bisa menunduk tanpa bisa menjawab Amanda.

“Gak mungkin? Apanya yang gak mungkin Amanda?” Tanya Aiza sembari perlahan melangkah mendekati Amanda. “Gue punya suami dan suami gue adalah Gerald. Malam itu, lo sendiri liat gimana mesranya Gerald ke gue. Jadi kehamilan gue adalah hal yang wajar dan memang seharusnya terjadi. ” Lanjut Aiza semakin memprovokasi Amanda.

Gerald kembali terhenyak. Ia teringat dengan malam itu. Jadi itu yang membuat Amanda meninggalkan Bandung secara mendadak. Dan hal itu jugalah yang membuat wanita itu kembali drop dan dan harus masuk ruang icu. Aiza, ternyata wanita itu sengaja menciumnya dan memprovokasinya hanha untuk membuat Amanda cemburu.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang