BAB 74

3K 122 28
                                        

Dua hari sudah Gerald tidak menampakan dirinya di depan Aiza. Entah seburuk apa kondisi Amanda hingga Gerald sangat sulit dihubungi.

Yah, kemarin seseorang dari perusahaan datang menyerahkan handphone dan tasnya yang tertinggal di mobil Gerald. Bukan hanya itu, lelaki muda bernama Sandi itu juga menyampaikan pesan Gerald kalau ia mungkin tidak akan pulang selama beberapa hari untuk menjaga Amanda.

Benar saja, Gerald memang tidak pulang. Dan itu semakin membulatkan tekad Aiza untuk segera berpisah dari lelaki itu. Ia tidak mau lagi ada diantara Gerald dan Amanda. Ia tidak mau lagi terus tersakiti karena meskipun ia memiliki fisik Gerald, tapi hatinya milik orang lain. Ia ingin melepaskan dirinya dari belenggu harapan yang akan terus mencabiknya.

TRAK

Suara nampan yang sengaja diletakkan keras membuat Aiza terbangun dari lamunannya. Ia segera turun dari sofa dan mendudukkan dirinya di lantai mengikuti Hera yang juga duduk di lantai dan mulai mengambil semangkuk bakso diatas nampan dan meraciknya dengan wajah suramnya.

Yah, saat ini Aiza tengah berada di apartemen Hera yang hanya berjarak beberapa blok dari gedung apartemen Aiza. Setelah termenung dan galau sendirian, Aiza memutuskan untuk membagi ceritanya dengan Hera. Rasanya ia hampir gila jika ia tidak menceritakan tentang masalahnya pada orang lain.

Dan beginilah reaksi Hera, wanita itu sangat syok dengan keputusan Aiza untuk mempercepat perceraiannya dengan Gerald. Dan wanita itu hampir saja mengusir Aiza saat Aiza menceritakan bagaimana ia memohon pada mertuanya untuk merestui hubungan Gerald dan Amanda.

Beruntunglah kurir yang mengantar pesanan bakso mereka segera datang membuat kemarahan Hera sedikit tertunda karena makanan paforitnya datang.

“Eemmh. Bakso nya enak banget, gila.” Pekik Aiza dengan semangat saat ia menyeruput kuah bening baksonya.

“Yang gila itu lo.” Sergah Hera masih belum melepaskan kekesalannya. “Bisa-bisanya yah, lo dukung hubungan suami lo sama wanita lain.”

“Udahlah Her, gue dateng kesini buat minta suport dari lo, bukannya minta diomelin kayak gini.” Keluh Aiza sembari menikmati baksonya.

Hera melihat kearah Aiza yang berusaha bersikap biasa dan ceria, padahal ia tahu Aiza tengah menyembunyikan kehancurannya. Akhirnya, wanita itu menghembuskan napas panjang dan mengalah.

“Ya udahlah, kalo lo mau cerai dari suami lo yang sama gesreknya kayak lo. Cerai aja. Setidaknya, lo juga pasti akan jadi janda kaya. Si Pak Bos pasti bakalan ngasih lo harta gono gini kan? Minimal lo harus minta setengah dari hartanya dia.”

Aiza hampir saja tersedak kuah bakso karena tidak bisa menahan tawanya mendengar kalimat terakhir Hera. Bisa-bisanya wanita itu berpikir sejauh itu, padahal tidak pernah terbersit sedikit pun di pikiran Aiza untuk meminta harta gono gini pada Gerald. Dengan Gerald yang menyetujui untuk mempercepat perpisahaanya saja, Aiza sudah sangat bersyukur. Ia tidak pernah berpikir jauh hingga ke harta gono gini. Tapi sepertinya, menjadi janda kaya bukanlah hal yang buruk.

“Gue hamil.” Ucap Aiza santai setelah ia menghentikan tawanya, membuat Hera yang tengah mengunyah bakso tersedak oleh baksonya sendiri.

Dengan sigap Aiza menuangkan jus jeruk ke dalam gelas dan menyerahkannya pada Hera. Entah karena ingin meredakan batuknya atau meredakan gejolak amarahnya. Satu gelas tinggi jus jeruk itu langsung Raib dalam satu kali teguhkan oleh Hera.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang