BAB 85

4.1K 194 46
                                        

Suara jepretan dan cahaya flash dari kamera memenuhi studio dengan nuansa putih yang penuh dengan set pemotretan.

Seorang model tengah asyik berpose mengikuti arahan sang sutradara. Sesekali model itu melirik genit ke arah Stevan, bos besarnya yang tidak biasanya mau repot-repot turun gunung dan mengawasi pemotretannya yang adalah seorang model kelas bawah di agensi itu.  Aksi model bergaun serba hitam itu semakin menjadi mendapati bosnya itu tengah menatapnya intens.

Sayangnya, model itu tidak tahu kalau jiwa Stevan tidak ada ditempat itu, tatapannya mungkin mengarah pada model itu, tapi pikirannya berkelana jauh mencari seseorang yang sangat ia rindukan. Yah, niat hatinya ingin mengalihkan pikirannya tentang Aiza di tempat yang cukup ramai itu ternyata sia-sia.

Tiga bulan berlalu dan Stevan masih belum menemukan keberadaan adiknya. Entah kemana perginya Aiza hingga beberapa detektif yang ia sewa begitu sulit menemukan jejaknya.

Terakhir kali mereka mengendus keberadaan Aiza adalah tiga bulan lalu, beberapa hari setelah kepergian Aiza dari rumahnya. Ternyata Aiza pergi ke Bandung, baru Stevan ingat kalau mendiang paman Aiza tinggal di Bandung.

Dengan cepat Stevan mencari Aiza ke rumah itu, tapi nihil, penjaga rumah itu mengatakan kalau Aiza memang sempat datang ke rumah itu, tapi hanya sebentar dan langsung pergi lagi. Hanya satu informasi yang ia dapat, Aiza pergi bersama dengan seorang perempuan.

Ia hanya berharap dimanapun adiknya itu berada, wanita itu dalam kondisi baik-baik saja. Karena jika sampai ia menemukan Aiza dan kondisinya buruk, Stevan tidak akan mampu memaafkan dirinya sendiri.

Jika ia bisa meminta pada takdir, ia ingin sekali saja menjaga Aiza dengan tangannya sendiri, ia akan membuat wanita itu bahagia apapun caranya.

SRET

BUG

Entah bagaimana caranya seseorang berhasil menarik tubuh Stevan dari atas kursi dan menghantam wajahnya hingga ia tersungkur di lantai.

Semua orang di ruangan itu berteriak histeris, baru Stevan sadar dengan keadaannya.

Lelaki itu mendongak untuk mencari tahu siapa orang yang berani memukulnya. Dan hal yang pertama yang Stevan temukan adalah tatapan keputus asaan, persis seperti yang ia miliki.

Gerald Atmaja, entah bagaimana lelaki itu berhasil merangsek masuk dan menerjang pertahanan di kantornya. Yah, keputus asaan nyatanya selalu mampu menarik sebuah kekuatan yang tidak terbayangkan.

Seperti sekarang, dengan mudah Lelaki itu melepaskan diri dari dua orang penjaga yang berusaha menahannya.

“Dimana Aiza?” Tanya Gerald dengan suara beratnya yang sedikit bergetar.

Stevan segera menyeka darah segar yang mengalir di sudut bibirnya, lalu dengan senyum penuh ejekan, lelaki itu berdiri mensejajarkan dirinya dengan Gerald.

BUG

Dengan sekali hantaman Stevan berhasil membuat Gerald tersungkur di lantai, tanpa mau memberi kesempatan, ia segera mengunci pergerakan Gerald dan kembali menghantam wajah lelaki itu.

“Lo gak berhak nanya soal dia, brengsek!” Teriak Stevan yang kembali mengarahkan tinjunya.

Tapi kali ini, Gerald berhasil menangkapnya dan membalik keadaan. Keduanya bergulat di lantai saling beradu ketangkasan.

Kegilaan mereka baru berhenti setelah para penjaga memberanikan diri untuk menarik bos mereka dengan susah payah. Meskipun begitu, Gerald dan Stevan masih memberontak dan ingin menyerang kembali satu sama lain.

“Dimana Aiza, Bangsat! Kenapa lo nyulik dia?” Teriak Gerald penuh amarah.

“Heh, kemana aja lo selama tiga bulan ini? Kenapa lo baru nanyain soal dia sekarang?”

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang