“Pasien atas nama Rendi.”
Aiza yang tengah asyik nonton Drakor sembari menunggu obat itu segera mematikan handphonenya dan langsung menghampiri suara yang memanggilnya secara tidak langsung.
Saat ini ia tengah berada di salah satu rumah sakit di Jakarta. Hampir dua episode drakor ia tonton hanya untuk menunggu obat Rendi. Benar, Rendi. Sepupu jauh suaminya itu tengah berada di IGD karena kejadian konyol.
Ini semua bermula saat Hera membawa pie kacang hasil eksperimennya ke kantor untuk dibagikan pada teman-temannya termasuk Aiza dan Rendi. Meskipun eksperimen, tapi masakan Hera jarang sekali gagal.
Semua orang begitu menikmati pie itu, bahkan Aiza sampai menghabiskan tiga buah dengan ukurannya yang cukup besar karena saking enaknya.
Ditengah asyiknya mereka menikmati pie buatan Hera, tiba-tiba saja Rendi menggaruk-garuk wajah dan badannya yang mulai memerah. Lelaki itu juga tidak berhenti berdehem karena mulai kesulitan bernapas.
Hera yang menyadari itu langsung menanyakan keadaan Rendi. Dengan polosnya lelaki itu menjawab kalau ia alergi kacang. Seketika suasana kantin jadi ramai, bukan hanya meja mereka yang panik, tapi semua orang yang ada di kantor juga ikut panik dan mengerumuni mereka.
Hera yang merasa bersalah langsung membawa Rendi ke rumah sakit ditemani Aiza dan Alan. Entah apa yang ada dipikiran Rendi hingga ia nekat memakan pie itu padahal ia tahu kalau tubuhnya alergi kacang.
Setelah suster cantik didepannya menjelaskan cara pengaplikasian obat itu, Aiza segera pamit menuju ruang IGD dimana Rendi dirawat. Beruntunglah ia tidak perlu dirawat inap dan boleh pulang setelah infus yang entah berisi cairan apa itu habis.
Hera yang merasa bertanggung jawab dengan setia menunggui Rendi, ia tidak beranjak dari tempatnya karena rasa khawatir akan keadaan lelaki itu. Saat ini, wanita berkacamata itu tengah menunggu Aiza yang tengah mengambil obat dan Alan yang tiba-tiba merindukan kamar mandi di lobi rumah sakit.
“Lain kali jangan ngelakuin hal bodoh kayak gini lagi! Lo bikin gue panik tahu?” Peringat Hera yang khawatir namun gengsi untuk menunjukannya.
Apalagi, setelah ia tahu alasan Rendi memaksakan diri memakan pie kacang buatannya hanya karena lelaki itu ingin merasakan masakan Hera.
“Aku mau kok ngambil resiko ini asal bisa ngerasain perhatian dari kamu.” Balas Rendi yang entah hanya bercanda atau serius.
”Lo gila, Ren! Bukan Cuma gue yang panik, tapi semua orang di kantor juga panik. Kalo lo mati disana bisa berabe jadinya. Apalagi gue yang ngasih pie itu ke lo.”
“Kalo khawatir bilang aja kali, Her. Aku seneng kok dengernya.” Balas Rendi yang langsung dihadiahi dengan desisan tajam hera juga pukulan pelan di dada lelaki itu.
“Aw, sakit, sakit banget.” Ringis Rendi yang langsung membuat Hera panik.
“Eh, lo gapapa, Ren?” Hera langsung mengusap dada Rendi yang dipukulnya panik. Rasanya, ia tidak memukul Rendi dengan seluruh kekuatannya, tapi entah kenapa lelaki itu malah meringis kesakitan.
“Ehem. Dunia kayak milik berdua aja, Bu.” Intrupsi Aiza yang entah sejak kapan sudah ada disamping Hera dan Rendi.
Hera langsung menarik tangannya dari Rendi cepat, takut Aiza menyadarinya. Padahal, sudah sedari tadi Aiza memperhatikan keduanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
