Suasana taman yang ramai oleh santri yang tengah bersenda gurau dan menghafal itu terlihat sangat kontras dengan suasana salah satu gazebo dimana Aiza dan Stevan duduk.
Sudah lebih dari lima belas menit mereka duduk disana, tapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanya diam sembari memperhatikan santri dan para pembimbing yang berlalu lalang di tempat itu, tapi kenyataannya pikiran mereka jauh berkelana entah kemana
Lebih dari itu, mereka sebenarnya tidak bisa mengatasi kecanggungan yang ada setelah mereka tahu kalau mereka adalah sepasang saudara.
“Gue...” Tanpa dikomando, kedua saudara itu berbicara bersamaan.
Keduanya tertawa kecil merasa konyol karena setelah sekian lama terdiam, mereka akhirnya berucap secara bersamaan.
“Gue hampir gak ngenalin Lo dengan penampilan Lo sekarang, Lo kelihatan lebih tenang dengan penampilan ini, Zahra.” Akhirnya Stevan memulai percakapan setelah mereka kambali sama-sama diam.
“Gue juga hampir gak ngenalin wajah Lo. Gue gak tahu gimana caranya Lo bisa yakinin penjaga pesantren dengan wajah Lo yang lebam sana sini.” Balas Aiza berusaha terlihat jenaka.
“Lo baik-baik aja kan, Zahra?”
Akhirnya pertanyaan yang ingin Stevan tanyakan sedari awal terlontar dari mulutnya.
Stevan tidak berbohong soal Aiza yang terlihat lebih tenang, ia juga sangat menyukai penampilan Aiza yang lebih tertutup, hanya saja Stevan sangat khawatir dengan fisik Aiza yang meskipun tengah hamil, tapi tubuhnya lebih kecil dari ibu hamil pada umumnya.
“Siapa yang mukulin Lo? Gak mungkin Gerald, kan?” Bukannya menjawab pertanyaan Stevan, Aiza malah menimpalinya dengan pertanyaan lain.
“Siapa lagi yang berani mukul gue selain dia, Zahra. Tapi Lo tenang aja, keadaan dia jauh lebih buruk dari gue sekarang.” Meskipun kecewa tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan, Stevan akhirnya mengikuti arus yang Aiza buat.
“Dia ... baik-baik aja kan, Steve?”
Meskipun berusaha menyembunyikannya, tapi Stevan masih bisa melihat Kekhawatiran dan kepedulian di wajah Aiza. “Lo masih perduli sama dia?”
“Dia sahabat gue, gak mungkin gue gak perduli sama dia.”
“Sahabat? Setelah apa yang terjadi Lo masih anggap dia sebagai sahabat Lo?” Stevan tidak habis fikir dengan Aiza, setelah hancur seperti itu bagaimana bisa Aiza masih menganggap Gerald sebagai sahabatnya.
“Lo gak tahu apa yang udah gue dan Gerald lewatin selama hampir 20 tahun ini. Gak ada orang yang jaga gue lebih baik dari Mamang selain dia.”
“Dia udah jebak Lo, Zahra.” Geram Stevan yang tidak terima adiknya masih mau menerima Gerald.
“Yah, itu adalah kesalahan pertama dan terbesar yang pernah dia lakuin dalam persahabatan kami. Mungkin akan butuh waktu buat gue bisa maafin itu, tapi itu semua gak cukup buat hapus segala hal yang udah dia lakuin buat gue.”
“Andai gue ada disana sejak awal, Lo gak harus ketemu sama Gerald dan punya hubungan sedalam itu sama dia. Karena kebodohan gue Lo harus ngerasain sakit ini, Zahra. Gue gak akan pernah bisa maafin diri gue sendiri.” Stevan menunduk dalam menyesali apa yang sudah ia lakukan pada Aiza.
“Lo gak perlu nyalahin diri Lo sendiri, Stevan. Gue bahagia jadi adik Lo. Hidup gue akan terlalu sempurna kalau gue tahu Lo kakak gue sejak awal.”
Aiza meraih tangan Stevan dan menggenggamnya erat berusaha meyakinkan kakaknya itu kalau ia baik-baik saja.
“Gue mau lo lepasin semua penyesalan dan rasa bersalah Lo itu Stevan. Gue tahu gimana rasanya sakit karena penyesalan, gue gak mau Lo terbelenggu dengan rasa sakit itu. Mungkin luka karena dilukai bisa sembuh seiring berjalannya waktu, tapi luka karena penyesalan akan selalu basah dan mungkin akan semakin menyesakan seiring waktu berjalan. Cukup gue Stevan, gue gak mau lo ngerasain apa yang gue rasain.”
Yah, Aiza tidak mau Stevan tersiksa seperti dirinya, kematian mamang dan bibinya yang membawa kekecewaan yang Aiza torehkan akan selamanya meninggalkan penyesalan di hati Aiza. Setiap saat ia mengingat itu, saat itu juga dadanya terasa sesak, dengan pikiran dangkalnya ia berharap bisa memutar waktu dan memperbaiki semuanya. Sayangnya, hal itu adalah kemustahilan yang nyata.
“Kalau Lo mau Gerald kembali, gue akan ngelakuin apapun supaya dia kembali sama lo.” Meskipun Stevan tidak rela Gerald kembali pada adiknya, tapi jika itu bisa membuat Aiza bahagia, ia akan menekan itu semua demi Aiza.
“Termasuk dengan nyakitin orang yang Lo cintai?”
Mungkin Aiza bodoh begitu lambat menyadari rasa cintanya untuk Gerald, tapi ia cukup jeli untuk melihat rasa Stevan yang sebenarnya untuk Amanda. Mungkin dulu, Aiza tidak mengerti kenapa seorang Stevan harus menyembunyikan rasa cintanya dari Amanda, tapi semuanya jelas sekarang, Stevan berusaha meredam rasa yang ia pikir keliru itu karena ia mengira Amanda adalah adiknya.
Stevan tidak menyangkal pernyataan Aiza karena nyatanya ia memiliki perasaan lebih dari seorang kakak pada Amanda. “Kalau itu bisa buat Lo bahagia.”
Aiza tersenyum tipis mendengar itu, hatinya menghangat karena ternyata ada orang yang siap berkorban sebesar itu demi kebahagiaannya.
“Jangan lakuin itu Stevan! Jangan buat kesalahan yang sama hanya untuk kebahagiaan gue. Gue percaya kalau kebahagiaan yang didapat dari merebut kebahagiaan orang lain gak akan bertahan lama, hanya tinggal menunggu waktu hingga penyesalan menghantuinya. Lagipula, gue cukup puas dengan ngebayangin kalau Gerald akan tersenyum bahagia di hari pernikahannya sama Amanda.”
“Jadi Lo mulai percaya dengan kata-kata omong kosong kalau lo akan bahagia dengan liat orang yang Lo cintai bahagia?”
Keduanya kompak tertawa mendengar kata-kata itu. Mereka sering sekali membawa kata-kata itu dalam percakapan mereka dan menjadikannya lecucon, tapi sekarang kata-kata itu menjelma menjadi sebuah kutukan yang tanpa sadar mereka ikuti.
“Andai ayah juga percaya sama kata-kata itu dan mau lepasin obsesinya ke ibu gue, mungkin sekarang ibu gue dan Om Pras akan hidup bahagia, begitu juga lo, ayah dan nyokap Lo.”
Seketika keceriaan semu di wajah Stevan menghilang, ia melihat ke arah Aiza dengan wajah penuh tanya. “Apa maksud Lo ayah terobsesi sama nyokap Lo?”
Aiza tidak kalah kebingungan karena ternyata Stevan tidak tahu alasan yang membuat kakaknya itu kehilangan sosok seorang ayah dalam hidupnya.
“Lo gak tahu kalau ayah ninggalin nyokap Lo setelah dia berhasil bikin Om Pras merasa putus asa dan bunuh diri karena ayah yang terus neror dia untuk lepasin ibu gue.”
Bukannya berkurang, kerutan kebingungan di dahi Stevan malah semakin menjadi setelah mendapat penjelasan dari Aiza. “Gue rasa ada kesalah pahaman tentang masalalu orangtua kita.”
“Maksud Lo?”
“Ayah gak pernah ninggalin nyokap gue, nyokap gue yang ninggalin ayah karena dia merasa gak pantas untuk ayah karena ayah masih mau Nerima dan bersikap seolah semua baik-baik aja pbahkan setelah dia tahu kalau istrinya pernah selingkuh sama Om Pras.”
Tubuh Aiza seperti melayang begitu mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Stevan. Selingkuh? Jika tidak salah ingat, Salina dan Pras menikah lebih dulu dibanding Evan dan Salina. Jika begitu, berarti Prasetyo Atmaja juga berselingkuh dari ibunya.
Tidak, tidak mungkin laki-laki yang begitu ibunya agungkan itu berselingkuh, dan gilanya ia berselingkuh dengan istri dari sahabat adiknya sendiri.
*
*
*
TOK TOK TOK
“Al, kita sarapan yuk! Papa, Oma sama adik kamu udah nunggu kamu di bawah.”
Suara ketukan pintu dan ajakan untuk makan entah untuk yang keberapa kalinya terdengar mengalun di lantai dua rumah keluarga Atmaja.
Gerald, pemilik kamar yang sedari tadi pintunya tidak berhenti diketuk itu hanya duduk diam di sofa dekat jendela memperhatikan langit cerah yang seakan mengejeknya.
Laki-laki itu benar-benar tertutup kabut sendu. Tidak ada lagi cahaya di matanya, hanya ada kekosongan yang kentara. Setiap detik ia menatap ke arah layar panjang yang tidak lepas dari genggamannya berharap orang orang-orang yang ia bayar untuk mencari Aiza akan menghubunginya. Tapi nihil, orang-orang itu tidak kunjung menghubunginya.
Selama tiga hari penuh, ia berkelana mencari Aiza tak tentu arah. Puncaknya dua hari lalu ia ditemukan tidak sadarkan diri di mobilnya di daerah bandung.
Tubuhnya kelelahan parah dan bodohnya ia tidak memasukan sesuap pun makanan ke tubuhnya. Yah, Gerald terlalu fokus mencari Aiza hingga ia lupa untuk berhenti bahkan hanya untuk sekedar makan.
Begitu sadar di rumah sakit, ia Keukeuh ingin kembali mencari Aiza, tapi ayahnya yang datang untuk menjemputnya atas perintah Ranti langsung menyeretnya pulang dan menyuruh Gerald untuk menghentikan sejenak kegilaannya.
Gerald tidak perduli, ia ingin berusaha mencari Aiza lagi. Akhirnya Bram mengancam akan benar-benar menutup semua akses yang bisa menghubungkan Gerald degan Aiza, termasuk menghentikan paksa orang-orang yang ia bayar untuk mencari Aiza.
Akhirnya, dengan terpaksa Gerald mengikuti ayahnya kembali ke rumah.
“Al, ini sudah siang, Nak. Kita makan siang bareng yuk, sama adik dan Oma kamu, kamu juga harus minum obat kamu, sayang.”
Tanpa disadari, matahari sudah ada di puncak, tapi Gerald masih setia di tempatnya memperhatikan bagaimana angin menggerakkan awan putih di langit biru. Lagi-lagi matahari bergerak cukup cepat dan kini ia mulai turun menuju tempatnya beristirahat.
BRAK
Tiba-tiba pintu kamar Gerald di buka paksa, bukan dengan kunci, tapi Elena mendobraknya paksa dengan sekali dobrakan.
PLAK
Untuk pertama kalinya setelah Gerald duduk di tempat itu wajahnya tertoleh ke arah lain selain ke arah langit. Yah, Elena menampar wajahnya sangat kuat, mungkin adiknya itu mengeluarkan setengah dari tenaganya untuk membuat Gerald menoleh ke arahnya.
“Lo udah bikin Aiza hancur, Lo bisa kan gak bikin Mama khawatir sama Lo, Al?”
Gerald masih tidak bergeming, ia hanya menatap adiknya dengan pandangan kosong.
Elena hanya bisa menghela napas, ia merasa bodoh karena harus berbicara dengan manusia tanpa jiwa dihadapannya. “Kalau sampai Mama harus naik lagi kesini cuma buat ngajak Lo makan. Lo tahu hal buruk apa yang bisa gue lakuin ke lo, Al.”
Tanpa mau menunggu tanggapan Gerald, Elena berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.
“Lo tahu Aiza dimana kan, El?”
Langkah Elena seketika terhenti mendengar suara lirih kakaknya setelah sekian lama. Bohong jika Elena tidak khawatir dengan keadaan Gerald, tapi mengingat apa yang sudah kakaknya itu lakukan pada Aiza membuat ia enggan memperhatikan lelaki itu.
“Dengan bantuan temannya, Opung bahkan bisa nemuin jarum dalam tumpukan jerami dengan cepat.” Lanjut Gerald penuh harap.
“Gue mungkin tahu kalau minta bantuan Opung, tapi gue gak punya rencana buat nyari Aiza.”
Setelah menghabiskan waktu setengah harinya di sofa, akhirnya Gerald beranjak dari tempatnya dan berjalan mendekati Elena.
“Kalau gitu Lo minta bantuan Opung sekarang. Dia gak mau bicara sama gue setelah gue nolak gabung sama mereka. Cuma Lo El, cuma Lo yang bisa bantu gue sekarang.”
“Sayangnya gue gak mau bantu Lo.”
Tanpa mau menoleh, Elena kembali melanjutkan langkahnya, tapi lagi-lagi ia harus berhenti karena Gerald sudah berdiri dihadapannya.
“Gue tahu Lo marah sama gue karena udah nyakitin Aiza, seenggaknya kali ini, sekali ini aja bantu gue untuk minta bantuan Opung.”
Dengan segala kerendahan hati, Gerald meminta bantuan pada adiknya. Ayahnya sudah dengan tegas menolak membantunya, hanya Elena harapan terakhirnya sekarang.
Melihat Elena yang tidak bergeming, akhirnya Gerald berlutut dihadapan Elena dan menggenggam tangannya erat berharap adiknya itu mau mengasihaninya. “Gue akan lakuin apa aja, El. Kalau perlu gue bisa gantiin posisi Lo disana.”
“Gue bukan gak mau nyari Aiza, tapi apa yang papa bilang mungkin bener, Aiza mungkin akan lebih bahagia tanpa Lo, Al." Elena lalu melepas paksa tangannya dari Gerald. “Dan rasanya gak adil buat Aiza kalau Lo gak ngerasain pedihnya penyesalan. Tapi lebih dari itu, gue mau lo belajar dan sadar arti Aiza di hidup lo selama ini.”
Setelah itu, Elena berjalan meninggalkan Gerald yang kembali tenggelam dalam rasa bersalah dan penyesalannya tak berujung.
*
*
*
Elena baru saja turun ketika ia mendengar keributan di depan rumahnya. Ia yang berniat untuk menemani neneknya di kolam koi akhirnya mengurungkan niatnya dan segera menghampiri keributan itu.
Dari kejauhan ia bisa mendengar suara seorang wanita yang berteriak penuh amarah.
“Lepaskan aku! Aku ingin bertemu dengan Rosalina Atmaja.”
Ternyata di depan rumahnya ada seorang wanita berambut Bob yang wajah, kaki, tangan dan pakaiannya penuh dengan lumpur dan tengah berusaha untuk masuk ke rumahnya.
Entah bagaimana caranya wanita itu bisa sampai ke depan rumahnya, para penjaga tengah berusaha membawanya keluar, tapi ternyata tenaga wanita itu cukup kuat hingga membuat dua penjaganya kewalahan.
Tapi tunggu! Meskipun wajahnya kotor dengan tanah, sepertinya Elena tidak asing dengan rambut boob dan mata Almon wanita itu.
“Tante Salina!”
Mendengar suara majikannya, para penjaga menghentikan usaha mereka untuk menyeret wanita itu keluar dari area rumah.
Elena mendekati wanita untuk memastikannya. Ternyata benar, wanita lusuh itu adalah Salina. Meskipun ia hanya melihatnya sekali saat fitting baju untuk tunangan kakaknya yang akhirnya tidak ia hadiri, tapi otak Elena cukup tajam untuk mengingat sesuatu apalagi hanya Salina.
“Anda mengenal wanita ini, Nona?” Tanya penjaga itu sembari berusaha memegangi tangan Salina yang terus memberontak.
“Iya, dia ibunya Amanda, calon istrinya Gerald.”
Kedua penjaga itu serentak melepaskan pegangan mereka dan menatap satu sama lain tegang. Mereka langsung pergi setelah Elena memberikan isyarat pada mereka.
“Apa yang terjadi Tante? Kenapa tubuh Tante kotor seperti ini?”
“Dimana Nenek kamu?” Salina mengabaikan pertanyaan Elena dan langsung menanyakan keberadaan orang yang menjadi alasan kedatangannya ke tempat itu.
“Dia ada di...”
“Ada keributan apa ini, Elena?”
Salina dan Elena kompak menoleh kearah pintu, dilihatnya Rosa tengah berdiri di ambang pintu masuk dengan Ranti dan Bram disisinya.
Melewati Elena, Salina berjalan cepat ke arah ibu dan kakak angkatnya itu berada. Ia mengabaikan kalau teras marmer rumah itu akan kotor karena diinjak oleh kaki telanjangnya yang penuh lumpur.
“Salina, kamu baik-baik saja? Kenapa tubuh kamu kotor seperti ini?” Ranti hampir saja tidak mengenali Salina jika saja ia tidak melihat mata Almon Aiza di wajah wanita itu.
“Sepetinya dia baru saja keluar dari kubangan lumpur, tempat yang sama yang ia pilih saat ia memutuskan untuk menikah dengan pembunuh itu.” Timpal Rosa dengan senyum sinis di wajahnya.
“Yah, tempat anakmu memang penuh dengan lumpur, mungkin tanah merasa jijik padanya karena berani berselingkuh dariku.” Tanpa takut sedikitpun Salina membalas tatapan sinis ibu angkatnya itu dengan lebih menusuk.
Wajah sinis Rosa seketika tenggelam dan berganti dengan kebingungan yang kentara. “Apa maksudmu, Salina?”
Tapi bukannya menjawab, Salina malah tertawa, tertawa keras hingga air mata keluar dari sudut mata almonnya.
“Salina katakan padaku? Apa yang sebenarnya terjadi?” Kali ini Bram yang bertanya karena pernyataan Salina langsung membangkitkan ingatan lama Bram tentang sesuatu.
Dengan sisa tawa dan air mata di pipinya, Salina kembali melihat ke arah Rosa dan dengan ringan ia berujar penuh ejekan.
“Aku baru saja menggali kuburan anakmu, Rosalina Atmaja.”
Bersambung...
Hi hi haaai! Yok, siapa yang nunggu cerita ini?
Sebenarnya aku ngerasa gak enak banget karena harus gantung cerita ini lama-lama.
Kalau aja ada mesin print otak, kayaknya aku bakal langsung print cerita yang udah tamat di otaku supaya kalian bisa langsung baca. Tapi yah gimana lagi, mesinnya gak ada 🤭🤭
Aku gak akan berhenti bilang terimakasih dan maaf untuk kalian yang udah mau dengan sabar nunggu cerita ini. Sekali lagi terimakasih, semuanya! Love you.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
