“Gimana? Kalian sudah berhasil menghubungi Gerald?” Tanya Bram pada Reynald dan Ali yang tengah duduk di ruang keluarga di rumah Reno di Bandung. Kedua lelaki itu hanya menggeleng putus asa membuat semua orang di ruangan itu termasuk Ranti, Michel dan Elena menghela napas kecewa.
Tiga hari sudah setelah pemakaman Reno dan Khadijah, tapi Gerald masih tidak bisa dihubungi. Sudah berbagai macam cara Bram lakukan untuk bisa menemukan menghubungi Gerald, tapi ia tidak kunjung berhasil. Suami Aiza itu menghilang bak ditelan bumi, tidak ada yang berhasil menghubunginya.
“Dasar Brengsek. Istrinya lagi berduka dia malah kelayaban sama cewek lain. Pengen gue pites itu orang.” Geram Elena membuat Michel yang tengah duduk menggendong Reyna refleks menutup telinga anaknya itu.
CEKLEK
Pintu kamar Khadijah dan Reno yang selalu tertutup itu akhirnya terbuka, semua orang dibuat terkejut juga senang melihat pergerakan dikamar itu.
Tapi kemudian rasa senang mereka harus lenyap saat pintu kamar itu terbuka lebar memperlihatkan Bi Enah yang keluar dengan nampan berisi makanan yang masih utuh.
“Gak dimakan lagi bi?” Tanya Ranti.
“Muhun juragan. Kalau kayak gini terus, saya takut Neng Aiza sakit.” Ucap Bi Enah yang langsung pamit dan kembali ke belakang.
Ranti dan semua orang di ruangan itu hanya bisa menghela napas panjang juga cemas. Tiga hari sudah berlalu setelah pemakaman dan wanita itu hanya berdiam diri di kamar Reno juga Khadijah, tidak pernah sekalipun ia keluar meski hanya untuk makan. Meskipun tidak setetes air mata pun yang jatuh dari matanya, tapi Semua orang bisa merasakan bahwa wanita itu masih tenggelam dalam kesedihannya.
Sesekali Ranti, Elena dan Michel akan masuk ke kamar itu berusaha menghibur Aiza, tapi wanita itu hanya diam. Mereka juga sering mengajak Aiza untuk keluar dari kamar itu, tapi Aiza selalu menolak dengan berbagai alasan.
Seperti sekarang, Aiza hanya duduk diam di dekat dinding kaca yang langsung menghadap kearah taman bunga milik Bibinya sembari menggenggam kalung pemberian Mamangnya saat menikah. Rintikan hujan diluar membuat bunga-bunga terlihat seakan bersedih, menangisi sang pemilik yang sudah tiada.
Aiza tahu Bibinya sangat mencintai taman bunganya, ia tidak pernah membiarkan orang lain untuk menyentuhnya, bahkan pamannya sendiri dilarang untuk masuk kearea itu. Pernah sekali Aiza masuk ke area itu dan memetik beberapa kuntum mawar yang tengah mekar, Bibinya yang terkenal kalem itu langsung memarahinya dan juga Mamangnya, padahal Reno tidak tahu menahu tentang itu.
Tapi mamangnya yang jahil sering sekali dengan sengaja mencomot beberapa bunga untuk menyulut kekesalan Bibinya. Setelah Aiza tanya alasannya, ternyata Mamangnya memang senang melihat wajah kesal Bibinya yang memang sangat lucu saat sedang marah, dan itu menjadi hiburan tersendiri untuk mamangnya.
Sekarang, itu semua hanya akan jadi kenangan Aiza, tidak akan ada lagi Khadijah yang meskipun marah tapi masih tetap terlihat imut, tidak akan ada lagi Reno yang menjahili Khadijah karena senang melihat wajah kesal istrinya. Dan yang lebih menyakitkan, tidak akan ada lagi Khadijah dan Reno yang selalu mengkhawatirkannya, tidak akan akan ada Reno dan Khadijah yang dengan tulus mencintainya. Tidak akan ada lagi sosok orangtua yang akan membelanya paling depan, menjadi tamengnya dan berusaha melindunginya.
Ia benar-benar sendiri sekarang, ia sebatang kara, karena meskipun ia punya Ibu dan Suami, tapi mereka tidak pernah menjadi milik Aiza sepenuhnya. Ibunya membencinya sementara suaminya tidak pernah benar-benar mencintainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
