Lima hari sudah Aiza dan Gerald menghabiskan waktu mereka berlibur di Bandung, hari ini mereka memutuskan untuk pulang, lebih tepatnya Gerald yang memaksa untuk mereka pulang lebih awal. Yah, tidak seperti rencana awal, Gerald memutuskan untuk pulang lebih awal dengan alasan ada pekerjaan yang tidak bisa ditangani oleh ayahnya.
Dan alasan itu hanyalah sebuah alasan, tidak ada masalah sama sekali dengan pekerjaannya, Gerald hanya sudah tidak tahan dibayangi rasa bersalah setiap kali ia melihat Reno atau Khadijah. Apalagi, setelah perbincangan mereka beberapa hari lalu, sikap Reno kembali berubah seperti sebelum kejadian di Bali terjadi.
Ia memperlakukan Gerald dengan baik, tidak ada sikap dingin, yang ada hanyalah sikap hangat. Lelaki itu juga sering mengajaknya ke pabrik teh dan mengatakan bahwa semua itu sudah ia balik nama atas nama Aiza. Reno berharap Gerald akan membantu Aiza untuk mengelolanya suatu saat nanti.
Dan tadi pagi sebelum mereka berangkat, lagi-lagi Reno meminta Gerald untuk menjaga Aiza dan mewanti-wanti Gerald untuk tidak menyakitinya. Begitu juga dengan Khadijah, wanita itu bahkan mengatakan dengan gamblang bahwa mereka tidak salah mempercayakan Aiza pada Gerald.
Gerald menoleh ke samping, tepatnya kearah Aiza yang saat ini tertidur lelap. Entah kenapa disempanjang perjalanan gadis itu hanya diam sampai akhirnya tertidur. Lelaki itu menurunkan sunvisor untuk menghalangi sinar matahari yang langsung menembus pada wajah Aiza.
Hingga mobil Gerald berhenti di besment apartemen Aiza dan gadis itu masih setia menutup matanya. Tidak ada niat Gerald untuk membangunkan Aiza, lelaki itu malah menikmati memandang wajah tenang Aiza yang terlelap dengan kepala bersandar di pintu mobil.
Gerald membuka sabuk pengamannya, ia menarik tubuh Aiza untuk bersandar dipundaknya. Seperti biasa gadis itu sama sekali tidak terganggu dengan pergerakan yang dilakukan Gerald. Gadis itu malah memeluk tubuh Gerald dan menyamakan dirinya di pelukan lelaki itu.
Hingga hampir sepuluh menit mobil itu terparkir, Gerald hanya diam sembari menatap Aiza dengan tatapan yang dalam. Pikirannya tercampur dan hatinya tidak bisa lepas dari rasa bersalah.
Bukannya segera membangunkan Aiza, Gerald malah balas memeluk Aiza membuat gadis itu semakin nyaman dalam tidurnya. Bahkan dengan berani Gerald mengelus rambut Aiza dan mencium puncak kepala gadis itu sayang berkali-kali sembari menggumamkan kata ‘maaf'. Entah apa yang ada dipikiran Gerald saat ini hingga ia terus menerus membisikkan kata itu.
Hingga gerakan dipelukan Gerald menyadarkan lelaki itudari lamunannya. Perlahan tapi pasti Aiza mulai mengerjapkan matanya. Untuk beberapa saat dia hanya diam, otaknya belum bekerja dengan baik hingga gadis itu menyadari kalau ia ada di pelukan seseorang.
Seketika itu juga ia melepaskan diri dengan meleparkan dirinya ke belakang. Dan...
Duk
Bodohnya Aiza malah terpentok ke pintu mobil membuat ia meringis kesakitan sembari memegangi kepalanya.
“Lo gapapa, Az?” Tanya Gerald sedikit panik sembari membantu Aiza membenarkan posisi duduknya.
“Aduuh. Ini semua gara-gara Lo.” Tuduh Aiza sembari masih asyik memegangi kepalanya yang terbentur.
“Kenapa jadi salahin gue?” Gerald lalu menahan tangan Aiza mengambil alih tugas gadis itu mengelus kepalanya. Dengan polosnya ia meniup kepala gadis itu berharap sakitnya menghilang.
“Salah Lo! Ngapain Lo meluk gue! Nyari kesempatan banget sih Lo, Er.”
Gerald menghentikan tiupannya karena ia tidak tahan untuk tidak tertawa. “Bukan gue yang meluk Lo. Tapi Lo yang nyosor meluk gue. Yah, sebagai suami yang baik gak mungkin dong gue dorong Lo gitu aja... Aaaa!”
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Lãng mạn"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
