BAB 63

2.4K 78 3
                                        

Aiza mengerang kecil saat merasakan rasa sakit di kepalanya begitu ia membuka matanya dengan susah payah. Perutnya seketika bergejolak mencium aroma obat yang menyengat membuatnya refleks menutup hidung berusaha menghalau aroma yang mengganggunya itu.

“Akhirnya lo  sadar, Zahra.”

Suara datar itu sontak saja membuat Aiza menoleh kearahnya. Stevan, lelaki itu tengah duduk santai di kursi disamping ranjangnya. Entah halusinasinya saja, tapi Aiza menangkap nada lega dari suara datar lelaki itu.

“Ngapain lo disini?” Tanya Aiza sembari memijat keningnya yang masih terasa pusing.

“Nungguin lo.”

Setelah pusingnya mereda, Aiza bangun dari berbaringnya. Ia lalu menurunkan kakinya membuat Stevan yang tengah duduk santai langsung berdiri.

“Lo mau kemana? Lo gak boleh pergi sebelum infus lo... Lo gila, Zahra.” Pekik Stevan panik melihat apa yang dilakukan Aiza.

Entah gila atau memang tidak waras, Aiza dengan kesadaran penuh mencabut infus yang menancap di tangannya hingga mengeluarkan darah, tanpa memedulikan tetesan darah yang keluar dari tangannya, wanita itu beranjak dari kasur dan keluar dari area ranjang yang dibatasi garden putih begitu saja.

Sembari mencebik kesal, Stevan membuntuti Aiza dan mengikuti wanita itu yang berjalan sempoyongan untuk  keluar dari ruangan IGD yang ramai itu.

Dengan mudah, Stevan menghentikan langkah Aiza dengan menahan tangan wanita itu. “Kondisi lo belum stabil, Zahra.”

“Lepasin gue!” Dengan sisa tenaganya, Aiza menarik kuat tangannya dari Stevan. “Jangan pernah lo sentuh gue lagi!”

Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya, tapi Lagi-lagi Stevan menghentikan Aiza, kali ini ia berdiri dihadapan Aiza menghalangi langkah wanita itu.

“Gue anterin.”

“Jangan sok peduli lagi sama gue, Stevan!” Bentak Aiza yang sudah muak dengan sikap Stevan yang sok baik padanya.  “Lo mau gue pergi dari Gerald, kan? Gue akan lakuin itu. Gue akan pergi dari dia, gue gak peduli soal pernikahan kontrak itu lagi. Gue muak sama lo, Gerald, Amanda dan pernikahan ini. Gue muak sama hidup gue, gue akan pergi dari kehidupan kalian supaya lo puas, Stevan.” Teriak Aiza yang tidak peduli dengan orang-orang disekitar mereka yang mulai memperhatikannya.

Yah, setelah melihat Gerald melamar Amanda dan mengecup kening gadis itu penuh cinta, Aiza sudah memutuskan kalau ia akan pergi dari kehidupan Gerald. Ia cukup tahu diri untuk tidak akan mungkin memiliki laki-laki itu, tapi harus melihatnya bahagia dengan wanita lain, rasanya Aiza tidak akan sanggup.

Rasanya Aiza ingin menertawakan dirinya sendiri, dengan Bodohnya dulu  ia mengatakan akan baik-baik saja melihat Gerald dan Amanda bersama, tapi setelah Aiza mengakui perasaannya semua itu tidak sama lagi. Ia akan hancur jika harus terus menerus melihat kebahagiaan Gerald dengan wanita lain. Jadi, pergi dari hidup Gerald adalah hal yang terbaik yang bisa ia lakukan. Yah, Aiza menyerah, ia menyerah dengan perasaannya sendiri dan menyerah dengan Gerald.

Stevan memebeku mendengar teriakan Aiza yang menghardiknya itu. Jika Aiza tidak salah lihat, ada gurat rasa bersalah dalam ketertegunan lelaki itu. Tapi Aiza tidak perduli, ia lebih memilih untuk memanfaatkan keterpakuan Stevan untuk lepas dari kejaran lelaki itu.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang