Dua minggu setelah kejadian itu, Gerald sama sekali tidak menunjukan batang hidungnya di hadapan Aiza ataupun keluarga Atmaja. Lelaki itu seperti orang gila mencari keberadaan Amanda kesana kemari.
Bram dibuat berang karena Gerald lebih memedulikan wanita lain dibandingkan istrinya sendiri. Lelaki itu bahkan memecat Gerald secara tidak hormat dari posisinya sebagai ekspresi dari kekecewaannya. Mungkin lelaki paruh baya itu berharap Gerald akhirnya akan menyerah dan kembali pada keluarganya.
Tapi usaha Bram itu nihil. Gerald sama sekali tidak menggubrisnya dan cenderung enjoy karena ia lepas dari tanggung jawab itu hingga lelaki itu bisa dengan leluasa mencari keberadaan Amanda tanpa di bayang-bayangi oleh tugasnya.
“Ini!” Aiza menyodorkan potongan mangga muda yang sudah dibaluri sambal tepat di depan mulut Elena.
Elena bergidik ngeri melihat potongan mangga muda itu yang bau asamnya saja sudah tercium apik di hidungnya. “No. Gue masih waras dan sayang sama lambung gue.”
“Ini maunya ponakan lo.”
“Meskipun gue sayang sama ponakan gue, tapi gue gak akan ikutan gila kayak bokap dan nyokap gue yang mau aja lo suruh pergi ke Palembang cuma buat beliin pempek buat lo.”
Yah, seminggu yang lalu, Ranti dan Bram sengaja pergi ke Palembang hanya untuk mengikuti ngidam Aiza yang ingin makan pempek langsung dari Palembang. Saat Bram menghubungi pegawai hotelnya yang ada di Palembang dan meminta mereka untuk mengantarkan empek-empek ke Jakarta, Aiza langsung menolaknya.
Ia ingin Bram dan Ranti langsung yang pergi kesana membelikannya untuk Aiza. Bram yang antusias karena akan menjadi seorang Kakek tentu saja langsung menyanggupinya tanpa protes. Dengan semangat empat lima ia langsung meluncur ke Palembang hanya untuk menuruti keinginan Aiza.
Namun nyatanya, ngidam Aiza itu hanya sebuah alasan dan pengalihan agar Bram tidak lagi fokus untuk menundukkan Gerald. Semua itu adalah ide Ranti yang memohon pada Aiza. Wanita itu sudah sangat lelah melihat pertikaian antara suami dan putranya. Ibu dua anak itu tidak mau harus benar-benar kehilangan putra satu-satunya itu.
“Kalau ponakan lo ileran gimana?”
“Gue akan degan senang hati hapus ilernya. Puas lo.” Balas Elena yang setia mengupaskan mangga muda untuk Aiza.
“Gue seneng dengernya. Setidaknya ada yang bersedia hapus iler anak ini seandainya gue gak ada.”
Elena menghentikan gerakan tangannya mengupas mangga, ia menetap kearah wajah pucat Aiza yang terlihat sangat menikmati rujak buatan bi Inah itu. “Maksud lo apa?”
Seketika, Aiza sadar dengan apa yang ia ucapkan. “Maksud gue, kalau misalnya gue pergi ke mall belanja, mungkin lo yang harus jaga anak gue.” Jawab Aiza asal, namun berusaha senatural mungkin.
“Enak aja. Saat itu terjadi, gue mungkin lagi sibuk sama anak dan suami gue dan gue gak mau diganggu sama sekali.” Desis Elena kembali fokus mengupas mangga muda ditangannya.
Syukurlah Elena sepertinya tidak curiga. Hampir saja ia membocorkan kondisi dirinya yang tidak baik-baik saja. Padahal, Aiza sudah memutuskan untuk menyembunyikan kondisinya dari semua orang termasuk Gerald. Ia tidak mau semakin dikasihani dengan kondisinya ini. Ia sudah capek melihat tatapan kasihan orang-orang terhadapnya, ia tidak mau melihat hal itu lagi.
“Sebelum itu, lo paksa si Alex buat nikahin lo.” Cibir Aiza mengingat tidak ada perkembangan dalam hubungan Alex dan Elena padahal Gerald yang menjadi penghalang sudah menikah cukup lama.
“Kayaknya, harus anak gue deh yang paksa dia buat nikahin gue.”
UHUK UHUK
Sontak saja Aiza terbatuk mendengar ucapan ambigu penuh makna Elena itu. Ia langsung meraih jus jeruk disampingnya untuk meredakan rasa panas cabe di tenggorokannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romansa"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
