Senyuman tersipu sarat akan kehangatan itu tidak bisa lepas dari bibir tipis wanita pemilik mata Almon yang memukau. Cintanya yang sejak lama tertutup awan itu kini menampakan cahaya hangatnya. Merubah semua keabu-abuan itu menjadi tampak terang benderang.
Setelah sekian lama ia menyadari semua rasa ambigu yang ia rasakan selama ini. Bukan karena haus akan perhatian dari seorang kakak, tapi hatinya yang penuh dengan nama Gerald tidak rela berbagi kasih lelaki itu dengan siapapun, terutama Amanda.
Entah sejak kapan perasaan itu hadir, tapi yang jelas saat ini Aiza sudah menyadari rasanya untuk Geral. Rasa itu akhirnya bisa Aiza rasakan, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di hatinya. Ia kira, kata-kata itu sangat klise, tapi seperti itulah yang Aiza rasakan sekarang. Hatinya merasa luang setelah ia jujur pada perasaannya sendiri.
Ia berharap suatu saat nanti Gerald akan memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi dengan semua pengorbanan yang Gerald lakukan, bolehkan ia berpikir kalau Gerald sudah memiliki perasaan itu? Hanya saja lelaki belum bisa mengakuinya, sama seperti Aiza beberapa waktu lalu.
Untuk pertama kalinya, Aiza memandang lain tentang pernikahan. Ia merasa pernikahannya dan Gerald tidak seburuk itu. Ia yakin, pernikahannya akan berakhir baik, tidak seburuk pernikahan orang tuanya.
Aiza menghentikan gerakan tangannya yang tengah memotong wortel saat sepasang tangan memeluknya erat dari belakang. Seketika wangi khas Gerald memenuhi indra penciumannya, sepertinya lelaki itu baru saja selesai mandi.
Dan lagi-lagi pelukan yang biasa lelaki itu berikan mendadak terasa berbeda. Ada desiran aneh di hati Aiza saat ia merasakan kehangatan tangan besar itu menyebar ke hatinya.
“Masak apa?” Tanya Gerald seraya mengecup bahu Aiza yang terbalut kaos lengan pendek berwarna ungu muda paforitnya.
“Sop, Tapi bukan sop buntut. soalnya cuman ada ayam di kulkas. Jadi gue masak sup ayam.” Aiza kembali melanjutkan kegiatannya memotong wortel
“Gapapa. Apapun masakan lo pasti enak.” Puji Gerald yang memunculkan semburat merah di pipi Aiza. “Yah, setidaknya gak sia-sia gue ngijinin Ali masuk kesini.”
“Lo tahu dia sering kesini?”
“Lo juga tahu dia sering kesini?” Tanya balik Gerald dengan suara tidak suka.
Refleks Aiza menggigit bibir dalamnya. Sial, sepertinya Gerald tidak tahu kalau ia pernah datang ke apartemen ini dan mengobrol berdua dengan Ali.
Gerald segera kembalikan tubuh Aiza lalu mengurung tubuh istrinya diantara tubuhnya dan pantry di belakang wanita itu. Dari sorot matanya, lelaki itu tengah menuntut penjelasan dari Aiza.
Sementara Aiza, wanita itu hanya bisa menelan ludahnya paksa karena tenggorokannya yang mendadak kering. “Ali gak ngasih tahu lo kalo gue sama dia pernah ngobrol berdua disini sebelum ke pesta perayaan pernikahan kita?” Tanya Aiza gugup.
“Enggak! Dia cuma ngasih tahu gue kalo lo ada sama dia, tapi gue gak tahu kalo kalian cuma berdua di apartemen ini.”
“Oh, gitu?” Balas Aiza ambigu.
Aiza ingin membalikan tubuhnya kembali tidak sanggup ditatap Gerald seintens dan sedekat ini, tapi lelaki itu tidak membiarkannya dan malah semakin memerangkap dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
