BAB 54

2.5K 80 8
                                        

“Will you marry me?”

Akhirnya kata-kata sakral itu keluar dari mulut Rendi, membuat semua orang dalam ruangan riuh sesaat sebelum kembali senyap menunggu jawaban sang wanita.

Hera tertegun mendapatkan lamaran mendadak seperti ini. Ia terdiam cukup lama, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi kemudian, wanita itu berdiri dari kursinya berjalan perlahan mendekati Rendi yang masih bersimpuh membuat semua orang kembali menahan napas mereka.

TAK

Suara kotak cincin yang ditutup terdengar nyaring ditengah keheningan ballroom hotel itu. Yah, Hera menutup kotak cincin yang sempat terbuka itu rapat.

“Simpan cincin ini buat orang yang lebih pantas dari gue, Ren.”

Tanpa mengucapkan kata ‘tidak’, Rendi dan semua orang sudah tahu bahwa Hera sudah menolak lamaran lelaki itu.

“Gak ada orang yang lebih pantas dari kamu, Hera.” Balas Rendi dengan senyuman yang sepenuhnya memudar.

Hera menarik Rendi untuk berdiri dan mensejajarkan tubuh mereka hingga tatapan mereka saling bertaut.

“Lo pantas dapat yang lebih baik dari gue. Lihat perbedaan umur kita! Lo pantas dapat yang seumuran sama lo atau lebih muda dari lo. Gue udah terlalu tua buat Lo.” Tutur Hera berusaha sesantai dan sejenaka mungkin walaupun itu samasekali tidak bisa menghibur Rendi.

“Umur bukan masalah, Hera. Itu hanya angka.”

Sedari awal Rendi memang tidak mempermasalahkan perbedaan umur mereka. Terlebih, selisih umur mereka tidak terlalu jauh, hanya lima tahun.

Hera menggenggam kedua tangan Rendi erat dengan matanya yang tidak lepas menatap Rendi. “Gue sayang sama lo, Ren. Dan gue gak mau nyakitin lo dengan hati gue yang masih tertaut di masa lalu.”

Rendi melepaskan tatapannya, tidak sanggup menatap mata Hera karena meskipun ia tahu akan ditolak, tapi hatinya tetap sakit.

“Kita bisa jadi teman, sama seperti sebelumnya.” Saran Hera berusaha membujuk Rendi.

“Jangan kurung perasaan aku dengan ikatan itu, Hera... Aku akan tunggu kamu sampai kamu siap mengisi celah-celah di hati kamu dengan goresan tentang kita.”

Hera tidak mampu membendung air matanya lagi, ia langsung menghambur memeluk Rendi erat. Ia tumpahkan perasaan sedih dan rasa bersalahnya pada lelaki itu. Begitu juga dengan Rendi, ia balas memeluk Hera tidak kalah eratnya.

Semua tamu undangan memberikan tepukan riuh, beberapa diantaranya ada yang meneteskan air mata haru karena meskipun tidak diterima, mereka masih bisa merasakan kasih sayang Hera lewat air mata wanita itu.

Dela, Salma dan Tasya juga merasakan itu, mereka berusaha menahan tangisnya tapi tidak mampu. Sementara Aiza, wanita itu menatap mereka dengan cara berbeda, karena ia sudah tahu ini akan terjadi. Meskipun begitu, Hera yang menangis tidak pernah ada dalam bayangan Aiza sebelumnya.

*

Angin malam yang dingin langsung menerbangkan gaun dan helaian rambut Aiza saat wanita itu melangkah ke rooftop cafe hotel yang masih belum resmi dibuka.

Sembari memeluk tubuhnya sendiri, Aiza melangkahkan kakinya ke sudut rooftop dimana seseorang tengah duduk diatas tembok pembatas  seraya menatap langit malam tanpa bintang.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang