Aiza dan Stevan keluar dari ruangan dokter kandungan dengan langkah lunglai, terutama Aiza. Masih terngiang di telinga Aiza bagaimana suara detak jantung anaknya, meskipun terdengar lemah, tapi mampu menggetarkan hati Aiza dan memunculkan rasa lain yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tidak kuasa menahan rangsekan air mata di sudut matanya dan menangis haru mendapati keajaiban tengah tumbuh di rahimnya itu.
Rasa haru itu semakin bertambah melihat bagaimana perkembangan anaknya yang sudah mulai sempurna. Yah, ternyata usia kandungan Aiza sudah hampir menginjak 4 bulan. Bodohnya, Aiza bahkan hampir tidak menyadari kehamilannya.
Sayangnya, air mata haru itu harus berubah menjadi air mata kesedihan, saat dokter menjelaskan kondisi Aiza. Rasanya, ruang dokter itu berubah menjadi ruangan pengadilan dengan dirinya yang tengah didakwa.
Ternyata, kondisi Aiza tidak baik-baik saja, ada tumor yang tengah tumbuh di rahimnya seiring dengan pertumbuhan bayinya. Beruntung hal itu tidak terlalu berpengaruh untuk bayinya, hanya saja itu sangat berbahaya untuk dirinya.
Rasa sakit yang beberapa waktu ini ia rasakan bersumber dari tumor itu, dan semakin besar kandungannya semakin intens juga rasa sakit itu akan datang. Yang paling parah, tumor itu berpotensi membuat komplikasi saat proses melahirkan nanti. Dunianya seperti terenggut saat ia harus memilih, antara dirinya atau bayinya.
Stevan yang sedari awal mendampinginya dan ikut merasakan emosi Aiza hanya bisa terdiam. Bahkan saat dokter menanyakan pendapatnya sebagai suami Aiza, lelaki itu hanya diam tanpa kata membuat dokter memberikan mereka waktu untuk memilih vonis mana yang akan mereka pilih.
“Zahra...”
“Jangan bicara apapun tentang apa yang terjadi di ruangan tadi.” Potong Aiza yang tidak mau mendengar apapun atau saran apapun menyangkut keputusannya kelak.
Stevan menghentikan langkahnya, lalu menggenggam tangan Aiza membuat wanita itu ikut menghentikan langkahnya. “Tapi kita harus bicarain ini, Zahra. Ini tentang hidup dan mati lo.” Desak Stevan yang entah kenapa ia merasa seluruh syaraf di tubuhnya berhenti berfungsi saat dokter memvonis Aiza tadi.
“Lalu kenapa?” Aiza melapaskan genggaman tangan Stevan paksa. “Ini hidup gue, gue yang berhak mutusin. Dan mungkin lo lupa kalau lo bukan suami gue dan kita hanya orang asing sekarang.” Tanpa berniat menunggu Stevan, Aiza kembali berjalan menuju ruang rawat Amanda yang berjarak beberapa pintu dari tempatnya berdiri.
Sementara Stevan, ia terhenyak dengan perkataan Aiza yang menyadarkannya dari sandiwara yang ia buat sendiri. Tapi mendengar perkataan dokter tadi, membuat Stevan kalut, ia lupa kalau Aiza bukan siapa-siapa, mereka bahkan tidak mempunyai hubungan apapun, baik itu teman, sahabat apalagi saudara. Mereka hanya dua orang yang dipaksa untuk terus berhubungan karena orang-orang yang mereka sayangi.
Stevan Sampai di depan ruangan Amanda dan melihat Aiza yang ternyata belum masuk dan hanya berdiri diam di depan pintu dengan tangan yang meremas keras gagang pintu. Stevan punya firasat buruk tentang ini, ia langsung berlari kearah Aiza dan berdiri tepat di belakang wanita itu.
Benar saja dugaannya, ternyata Aiza tengah menguping pembicaraan Gerald dan Amanda yang tidak seharusnya diketahui Aiza. Stevan sudah bergerak untuk membuka pintu agar percakapan dua orang di dalam ruangan itu berhenti, tapi Aiza lebih dulu memberikan tatapan tajam penuh peringatan pada Stevan, membuat lelaki itu urung membuka pintu.
Pegangan Aiza di gagang pintu semakin mengerat. Setiap kata yang keluar dari mulut Gerald berhasil memporak porandakan seluruh isi hatinya. Seketika, ingatan Aiza terbang jauh menuju masalalu, dimana Stevan pernah mengatakan kalau orang yang paling dekat dengannya adalah orang yang paling mungkin menyakitinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
