BAB 28

4.2K 81 0
                                        

Rumah Keluarga Atmaja. Rasanya Sudah lama sekali Aiza tidak menginjakkan kakinya di rumah bergaya klasik dengan tiang-tiang yang menjulang tinggi itu. Dengan didominasi dengan cat putih dan corak abu-abu, rumah itu terlihat sangat mewah dan elegan disaat yang bersamaan.

Kediaman Atmaja adalah rumah terbesar di area itu. Jika dibandingkan dengan rumah milik Mamangnya dulu, rumah itu mungkin lebih besar tiga kali lipat. Dengan tinggi tiga lantai, dimana terdapat ruang karaoke, ruang gim, bioskop mini dan fasilitas lain untuk membuat nyaman sang penghuni rumah.

Jika saja Gerald tidak mengajaknya untuk mengambil barang sekaligus menyapa orangtuanya yang sudah menjadi mertua Aiza, gadis itu sangat enggan harus menginjakkan kakinya lagi disana. Bukan karena rumahnya, tapi ia malas harus berhadapan dengan ibu suri rumah itu yaitu Rosalina, Nenek Gerald sekaligus musuh bebuyutan Aiza.

Entah apa yang mendasari wanita tiga perempat abad itu begitu membencinya, hingga semua usaha Aiza untuk memperbaiki hubungan mereka berbuah pahit dan menyakitkan. Semua kebaikan yang gadis itu lakukan selalu terlihat salah di mata wanita itu dan berujung dengan penghinaan.

TOK TOK TOK

Suara ketukan di pintu mobil menghentikan lamunan Aiza. Gadis itu menurunkan kaca mobil dan melihat ke arah Gerald dengan tidak semangat.

“sampe kapan lo ngejogrog disana? Turun!” Titah Gerald yang sepertinya sudah jengah menunggu Aiza sedari tadi.

“Lo aja deh yang masuk. Gue tunggu disini.”

Gerald menghela napas panjang, ia tahu Aiza sangat anti datang ke rumah Atmaja jika tidak dalam kondisi terdesak seperti beberapa minggu lalu. “Lo harus turun, setidaknya sapa mertua lo. Lo mau di cap sebagai menantu yang gak punya sopan santun?”

Benar kata Gerald, ia harus turun untuk menyapa mertuanya. Meskipun ia punya masalah dengan Rosa, tapi hubungannya dengan Ranti dan Bram sangat baik, bahkan dua orang itu sudah menganggap Aiza sebagai putrinya sendiri.

“Udah, bentar aja, kok. Setelah itu kita langsung ke apartemen gue.”

Yah,setelah diskusi alot, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di apartemen Gerald, lebih tepatnya lelaki itu yang memaksa dengan alasan apartemen Aiza terlalu kecil untuknya. Memang benar, apartemennya tidak akan bisa dibandingkan dengan apartemen Gerald, tapi tetap saja, bagi gadis itu apartemennya adalah rumah ternyaman dan tidak akan bisa dibandingkan dengan rumah manapun. Hingga lelaki itu memberikan dua pilihan padanya, antara rumah Atmaja atau apartemennya. Tentu saja, Aiza langsung memilih apartemen Gerald.

Dengan ogah-ogahan, Aiza turun dari mobil Gerald. Lelaki itu langsung menggandeng tangannya, berusaha bersikap semesra mungkin agar orang-orang di rumah itu tidak curiga.

Saat membuka pintu, mereka langsung disuguhkan dengan ruang tamu yang luas nan mewah dan didominasi oleh warna abu-abu dan putih, dimana seluruh dindingnya di cat putih sementara sebagian besar furniturnya berwarna abu.

Aiza menghentikan langkahnya, membuat Gerald yang tengah menggandeng gadis itu ikut menghentikan langkahnya. Istri Gerald itu menatap dalam kearah pigura besar di dinding. Entah kenapa setiap kali memasuki ruangan itu, hal pertama yang selalu menarik perhatian Aiza adalah foto besar keluarga Atmaja zaman dulu yang terbingkai apik disalah satu dinding ruangan itu.

Bukan kehangatan keluarga yang tergambar disana yang berhasil menarik perhatian Aiza, tapi sebuah tangan ramping yang tersampir di bahu almarhum Prasetyo, adik dari Bram yang selalu membuatnya gagal fokus. Jika dilihat dengan seksama, sepertinya foto itu memang terpotong, tapi entah siapa yang menyampirkan tangannya di bahu Prasetyo, ia yakin itu bukan tangan Opa Gerald, karena lelaki itu sudah lama sekali meninggal bahkan sebelum Bram lulus SMA. Dan lagi, tangan itu sepertinya adalah tangan seorang wanita.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang