BAB 38

3.8K 86 0
                                        

Selesai makan, Aiza dan Gerald memutuskan untuk melanjutkan perjalan. Kali ini mereka akan dipandu oleh Syahid dan Santi yang membawa motor.

Syukurlah, jalanan kembali lengang setelah hari makin siang. Beberapa pedagang juga sudah berkemas karena pembeli semakin berkurang. Dari penjelasan Santi, Aiza tahu bahwa pasar itu hanya buka satu Minggu satu kali yaitu pada hari Minggu.

Bukan hanya penduduk sekitar yang datang, tapi ada beberapa pengunjung dari luar daerah yang juga datang ke tempat itu. Kata Santi, jika hari-hari biasa jalanan itu tidak akan seramai hari ini. Paling hanya truk-truk besar yang melintas di jalanan itu.

Aiza masih tidak menyangka, dalam waktu kurang dari 20 tahun tempat itu menjadi tempat yang samasekali berbeda. Tempat itu dulu adalah kebun antah berantah yang bahkan orang-orang enggan mengunjunginya. Bahkan sekarang disana terdapat jembatan tinggi menjulang yang menghubungkan dua desa. Biasanya mereka harus berjalan memutar yang jaraknya lebih dari 2 Kilo.

“Er, Lo tahu? Kata Santi, dulu jalanan ini sebenarnya bukit. Terus dipugar habis sampe bisa tembus ke jembatan yang kita lewati tadi.” Jelas Aiza saat mereka melewati jalan menanjak yang disisi kiri dan kanannya terdapat tebing tinggi dengan beberapa batu besar yang hanya menempel di sisi tebing.

Tidak kunjung mendapat respon, Aiza menoleh kearah Gerald. Dilihatnya lelaki itu tengah fokus ke jalan dengan pikiran yang entah ada dimana.

Kesal karena tidak direspon, Aiza akhirnya mengeluarkan jurus mautnya, ia mendekati Gerald lalu mencubit lelaki itu tepat dipahamya. Gerald yang dicubit tentu saja langsung berteriak keras karena cubitan Aiza bukan main sakitnya.

“Az, lo gila yah? Kalo kita kecelakaan gimana?” Bentak Gerald yang terkejut.

“Justru gue yang nyelamatin kita supaya gak kecelakaan gara-gara lo yang ngelamun.” Sergah Aiza tidak kalah kerasnya.

“Sorry.” Ujar Gerald yang akhirnya mengalah.

Tapi itu percuma, Aiza sudah terlanjur kesal. Gadis itu melipat tangannya di dada lalu duduk menghadap jendela samping memunggungi Gerald.

 “Az!” Panggil Gerald kembali memecah keheningan.

“hm.” Sahut Aiza tidak bersemangat.

“Lo liat sini dong! Liat muka gue!” Pinta Gerald halus namun sedikit memaksa.

“Ngapain? Males banget!” Balas Aiza yang malah semakin melesakan tubuhnya hingga kini tubuhnya benar-benar menghadap jendela.

Gerald melirik Aiza sekilas, lelaki itu sedikit menghela napas, gadisnya ini memang sangat mudah sekali kesal. Tapi lelaki itu tetap melanjutkan kata-katanya.

“Menurut lo... Emang gue kelihatan tua banget yah, sampe disamain sama Syahid yang umurnya jauh diatas gue?”

Kepala Aiza hampir saja terantuk kaca mobil mendengar kata-kata Gerald itu. Dengan gerakan cepat gadis itu langsung merubah posisinya kembali menghadap Gerald.  “Jadi dari tadi lo diem dan gak gubris gue lagi cuma karena mikirin itu?” Tanya Aiza dengan suara penuh penekanan dan wajah merah padam.

Dengan polosnya Gerald hanya mengangguk setelah melirik Aiza dengan wajah keheranan.

Oh God. Ia pikir Gerald melamun panjang seperti tadi karena laki-laki itu masih memikirkan kejadian kemarin. Ia pikir lelaki itu masih belum menerima pengkhianatan Amanda, mencoba merenung dan berusaha menerimanya. Tapi Sepertinya Gerald sudah benar-benar sembuh dari patah hatinya hingga otaknya bisa memikirkan hal yang tidak penting dan berfaedah seperti itu.

“Malah bengong. Jawab gue dong, Az!”

Dan dengan bodohnya lelaki itu menuntut jawaban Aiza atas pertanyaan tidak penting samasekali itu.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang