BAB 32

4.1K 86 0
                                        

BAB 32


Satu jam. Satu jam sudah Aiza menunggu kedatangan Rendi. Lebih tepatnya, mobil yang akan membawa mereka ke vila di puncak yang rencananya akan dibawa Rendi. 

Tasya, Aldi, Dela, Salma dan Alan, Sepertinya sudah sangat lelah menunggu kedatangan Rendi. Alan bahkan sudah membaringkan tubuhnya di teras depan kantor saking lelahnya menunggu.

Yah, saat ini mereka tengah menunggu di kantor karena itu adalah tempat yang paling strategis bagi semua orang. Beruntunglah orang-orang yang mengundurkan diri hingga mereka tidak perlu menunggu selama ini hanya karena liburan gratis. 

Benar, setelah tahu Aiza akan ikut dalam liburan ini hampir semua orang langsung membatalkan keikut sertaaan mereka dengan berbagai alasan. Hanya tersisa para anak baru ini yang belum terpengaruh oleh racun senior mereka. Entah apa kesalahan Aiza hingga mereka begitu terang-terangan menjauhinya. Tapi Aiza tidak perduli, karena yang ia pedulikan adalah bagaimana caranya ia menghukum Rendi dan Hera karena mereka mendadak sulit dihubungi. 

Ingin sekali Aiza kembali ke rumah, tapi jika dipikir lagi, lebih baik ia menunggu lama hingga lumutan daripada harus kembali ke rumah Atmaja dan harus menghabiskan libur panjangnya bersama Rosa, musuh bebuyutannya.

Belum dua minggu saja Aiza tinggal di rumah itu, entah sudah berapa kali ia harus bersinggungan dengan Oma mertuanya. Belum lagi dengan drama yang selalu dibuat oleh wanita tua itu, rasanya ia hampir gila menghadapi Oma mertuanya itu.

“Mba Aiza, Bang Rendi bisa dihubungi? Sedari tadi saya coba hubungi, tapi tetap gak bisa.” Aldi yang sedari tadi hanya diam akhirnya buka suara saking lelahnya menunggu. 

Terlebih, mereka lebih dulu sampai dari Aiza. Mungkin sekitar lima belas menit sebelum Aiza datang. 

“Kayaknya ada problem sama si Rendi. Gue juga gak bisa hubungin dia. Dan, gak perlu seformal itu lah Di. Terlebih, kita gak lagi kerja." Jawab Aiza yang merasa risih dengan sikap formal lima orang anak baru itu.

Aldi dan empat orang temannya mengangguk paham. Sementara Aiza, gadis itu kembali meraih handphonenya yang ada di dalam tas rajut lusuhnya. Ia berniat untuk kembali menghubungi Rendi. 

Tapi belum sempat ia menyalakan handphonenya sebuah mobil trevel besar masuk ke area kantor. Bisa ia pastikan itu adalah Rendi. 

Aiza segera memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas lalu bergegas menghampiri Rendi yang sudah turun untuk membuka bagasi mobilnya. 

“Lo kemana aja sih, Ren? Gue sama yang lain hampir lumutan nungguin Lo.” Gerutu Aiza yang menumpahkan semua kesalnya pada Rendi.

“Nanti gue jelasin di mobil. Mending Mba masuk dulu ke mobil biar gue yang masukin kopernya ke bagasi.” Saran Rendi yang langsung diamini Aiza karena yang lain sudah mengantre untuk memasukan barang bawaannya kedalam bagasi mobil itu.

Aiza membuka pintu depan mobil berniat untuk duduk disana. Tapi sepertinya, ia harus mengurungkan niat itu karena Hera sudah mengisi tempat itu dan melambaikan tangannya pada Aiza dengan senyum menjijikannya. 

Aiza kira Hera tidak jadi ikut karena wanita itu tidak kunjung datang. Ia juga berusaha menghubunginya tapi tidak mendapat jawaban.

“Nanti gue jelasin. Mending Lo masuk dulu aja ke dalem mobil.” Ujar Hera seakan bisa membaca pikiran Aiza.

Setelah semua masuk kedalam mobil dan Rendi melanjukan mobil itu. Akhirnya Hera dan Rendi menjelaskan semuanya. 

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang