BAB 49

2.9K 69 2
                                        

Nafas Aiza hampir habis mengimbangi gerakan Gerald yang berada beberapa langkah dihadapannya. Kaos hitamnya mulai basah karena keringat, jangan tanyakan penampilannya sekarang. Pipinya yang tidak sempat ia oles dengan apapun kini sudah sewarna dengan tomat. Begitu juga dengan rambut yang tertutup topi putihnya, semuanya berubah basah dan beberapa helai menempel di wajah berkeringatnya. Inilah resiko saat ia yang tidak pernah berolahraga akhirnya ikut joging setelah dipaksa Geradld.

Yah, kalian tidak salah dengar. Aiza si paling anti olahraga itu terpaksa harus ikut berjoging setelah Gerald memaksanya dengan ancaman akan mengunci dirinya dan Aiza di kamar seharian penuh mengingat hari itu adalah hari sabtu. 

Dan, disinilah Aiza sekarang, di sebuah taman yang menjadi paforitnya Gerald untuk joging. Jika disuruh memilih antara berolahraga atau menenggelamkan dirinya dalam setumpuk jadwal Gerald yang ruwet dan harus disusunnya. Aiza akan lebih memilih pilihan keduaxmeskipun kepalanya pusing, tapi ia masih bisa bernapas lega, tidak seperti sekarang. 

“Gue Nyerah, Er. Gue Nyerah.” Aiza mengangkat tangannya dengan tubuh luruh di tengah seliweran orang yang juga sedang berjoging disana. Rasanya Aiza hampir mati setelah berlari sepuluh menit nonstop tanpa henti.

Gerald yang berlari beberapa langkah didepan Aiza langsung berbalik dan menghampiri wanita itu lalu berjongkok didepannya. “Ayo dong, Az! Semangat! Baru juga beberapa menit.”

“Beberapa menit? Gue hampir mati Gerald. Napas gue abis. Gue gak mau lari lagi.” Sergah Aiza dengan napas tersengal yang dibuat semenyedihkan mungkin.

Gerald memutar bola matanya jengah melihat Aiza yang terlihat memelas seperti itu. Padahal, Gerald tahu Aiza masih sanggup untuk berlari, wanita itu hanya terlalu malas untuk olahraga.

“Bangun!” Titah Gerald setelah ia berdiri menjulang didepan Aiza.

“Gue capek, Er. Lo paham gak sih?” Masih dengan dengan wajah memelasnya Aiza memaku dirinya di tempat.

“Gue tahu, tapi lo ngalangin jalan orang, Az.”

Aiza memutar kepalanya, benar saja, ia memang menghalangi jalan orang-orang karena ia duduk tepat di tengah jalan taman. Beberapa orang yang melewatinya menatap Aiza aneh. Beruntunglah mood orang-orang Sepertinya cukup bagus hingga Aiza tidak mendapatkan teguran

Akhirnya, Aiza menuruti perintah Gerald. Lelaki itu langsung menarik Aiza untuk kembali berlari kecil dengan iming-iming semangkok bakso yang akan ia belikan didekat sana.

Dan dekat yang dimaksud Gerald tidak sama dengan dekat yang ada di pikiran Aiza. Lima belas menit mereka berlari kecil dan stan itu tidak kunjung tercapai. Gerald terus saja menyemangatinya dan mengatakan kalau stan bakso itu sudah dekat, tapi nyatanya mereka tidak kunjung sampai.

“Masih jauh gak sih, Er?” Tanya Aiza dengan dengan napas tersengal.

“Udah deket. Beberapa meter lagi.”

Aiza menghentikan langkahnya disusul Gerald yang juga ikut berhenti menyadari tidak mendengar suara napas berat Aiza dibelakangnya, ia lalu berbalik dan menemukan wajah merah padam Aiza entah karena cape atau marah. Sepertinya, istrinya sudah menyadari kalau ia tengah menipunya.

“Lo bohongin gue?” Pekik Aiza dengan napas tersengal.

“Enggak! Ngapain gue bohongin Lo?” Kilah Gerald berusaha membela dirinya sendiri.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang