BAB 79

3.6K 126 37
                                        

Dengan langkah gontai, Aiza berjalan di lorong apartemen Gerald yang sunyi senyap karena waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam dimana orang-orang sudah mulai beristirahat.

Setelah puas mengeluarkan isi hatinya di lobi hotel yang ramai, Aiza akhirnya sadar dan meminta maaf pada semua orang karena membuat mereka khawatir. Ia lalu pergi dari tempat itu, tapi Aiza tidak langsung pulang, ia berjalan tak tentu arah hingga tanpa sadar matahari mulai tenggelam.

Wanita itu lalu terdiam cukup lama di sebuah halte memperhatikan orang-orang yang silih berganti naik dan turun dari bis. Ada sepasang kakek dan nenek yang keluar dengan bergandengan tangan menjaga satu sama lain, terlihat sederhana, namun sangat romantis menurut Aiza.

Lalu ada segerombolan remaja yang masih mengenakan seragam SMA-nya, menaiki bis sembari bersenda gurau dengan tawa ceria. Dari yang ia dengar, mereka baru saja selesai menonton sebuah film dan tengah berupaya mencari alasan pada orangtua mereka karena terlambat pulang.

Seketika angan Aiza dibawa ke masalalu dimana Gerald, Reynald dan Ali menggeret Aiza dan Elena untuk pulang. Setelah pulang sekolah, Elena mengajak Aiza untuk ikut ke pesta teman Elena, dimana temannya teman Elena tengah mencoba mendekati gadis itu.

Elena sudah mencoba meminta izin pada Gerald sehari sebelumnya dan langsung ditolak mentah-mentah oleh pemuda itu. Tapi dasarnya Elena keras kepala, ia tetap datang ke pesta itu dengan mengajak Aiza, Aiza awalnya ragu karena ia tidak terlalu nyaman berada di keramaian, tapi Elena terus merengek pada Aiza. Saat itu, mereka baru saja dekat dan berkoalisi untuk melawan ke posesifan Gerald.

Dengan sangat-sangat terpaksa, Aiza menuruti permintaan Elena. Secara sembunyi-sembunyi mereka pergi ke pesta teman Elena dengan masih menggunakan seragam sekolah. Ternyata, orang yang mendekati Elena bukan orang biasa, ia adalah anak geng motor dan pesta yang mereka maksud bukanlah pesta yang Aiza dan Elena pikiran, tapi pesta minuman keras dengan banyak anak berandal yang mengelilingi mereka.

Aiza dan Elena sudah bersiap untuk mundur, tapi Tristan, pemuda yang tengah mendekati Elena memaksa mereka untuk masuk dan bergabung dalam pesta itu. Entah darimana Elena mengenal lelaki berandal itu, tapi Aiza benar-benar panik berada di tempat penuh orang juga musik yang menggema di ruangan kecil itu.

Aiza dan Elena seperti dijadikan objek disana, para lelaki berpenampilan tidak karuan itu tidak segan menggoda dan menyentuh Aiza juga Elena. Kedua gadis itu menangis dan meminta untuk dilepaskan, tapi para lelaki berandal itu tidak membiarkannya.

Aiza semakin panik saat Tristan menarik Amanda ke sebuah ruangan. Gadis itu berusaha mencegahnya, begitu juga dengan Elena yang terus menolak, tapi lelaki itu tidak mendengar dan tidak segan memukul Elena. Melihat itu, Aiza semakin panik dan ketakutan.

Beruntung sebelum Elena berhasil dibawa oleh Tristan, keributan besar terjadi diluar. Ternyata yang membuat keributan itu adalah Gerald, Reynald dan Ali. Mereka berusaha masuk untuk menjemput kedua adik mereka, tapi mereka tidak dipersilahkan. Akhirnya, mereka nekat membakar sebuah motor milik anak disana hingga terjadi keributan besar.

Gerald tidak datang tanpa membawa persiapan, lelaki itu membawa semua anak-anak berandal di sekolah yang adalah musuh anak-anak geng motor hingga terjadi pertempuran besar-besaran disana.

Aiza dan Elena yang melihat keributan itu langsung memanfaatkan keadaan dan pergi dari sana, bersamaan dengan itu, Gerald masuk hingga membuat Elena dan Aiza langsung menghambur ke pelukan pemuda itu dan menangis sejadinya disana.

Tidak lama, Reynald dan Ali datang dan mengajak mereka untuk segera keluar dan pergi dari tempat itu meninggalkan dua kelompok berandal disana bertempur. Terdengar seperti pengecut memang, tapi ketiga lelaki itu tidak perduli, yang mereka perdulikan adalah dua adik perempuan mereka.

Akhirnya, mereka pulang dengan menggunakan bus, ketiganya meninggalkan motor mereka disana karena meninggalkan pertempuran begitu saja. Entah bagaimana nasib motor-motor itu, sampai saat ini Aiza tidak pernah melihatnya.

Dua hari kemudian, semua anak yang terlibat dipanggil beserta orangtua mereka karena tawuran itu menimbulkan masalah besar. Ternyata, setelah Gerald dan sahabat-sahabatnya pergi pololisi datang dan menangkap mereka semua tampa terkecuali.

Gerald, Ali, Reynald dan para berandal sekolah itu dikenai SP1 dan SP2. Sementara Aiza dan Elena dihukum dengan harus membuat karya ilmiah.

Semenjak kejadian itu, rasa protektif Bram, Reno dan abang-abang Aiza semakin bertambah. Elena dan Aiza tidak diperbolehkan pulang dan pergi sendiri, mereka selalu diantar jemput oleh supir kepercayaan Bram. Mereka tidak boleh pergi kemanapun setelah sekolah sebelum pulang lebih dulu ke rumah mereka.

Mendadak, Aiza merindukan sikap protektif Gerald yang dulu ia benci. Mirisnya, ia tidak akan mungkin lagi merasakan hal itu mengingat rasa benci yang Gerald rasakan untuk dirinya. Ternyata benar, seseorang akan merasakan sesuatu itu berharga, saat ia kehilangan itu.

Hingga malam semakin larut dan Aiza memutuskan untuk pulang ke apartemen Gerald setelah sebelumnya menghubungi Ranti tentang ia tidak akan pulang ke rumah Atmaja supaya wanita itu tidak panik mencari dirinya.

Aiza tidak mau penampilannya yang berantakan membuat kedua mertuanya khawatir, selain itu ia juga ingin melihat bagaimana hancurnya Gerald saat ia tahu Amanda mengembalikan cincin pertunangan mereka dan memutuskan untuk pergi dari kehidupan lelaki itu. Ia berharap pemandangan itu bisa sedikit mengobati hatinya yang porak poranda setelah kejadian di hotel.

Awalnya, Ranti dan Bram kurang setuju mengingat kondisi Aiza yang tengah hamil dan belum tentu Gerald ada di apartemen itu. Jika pun ada mereka takut Aiza dan Gerald akan kembali bertengkar dan berpengaruh pada kandungan Aiza.

Tapi, Aiza tetap ngotot dan berjanji akan menjaga diri dengan baik, akhirnya Ranti dan Bram tidak bisa mencegahnya. Dan disinilah Aiza sekarang, terdiam cukup lama menatap kearah pintu apartemen sebelum akhirnya memasukan kode dan masuk begitu saja.

Hal yang pertama menyambut Aiza adalah aroma alkohol yang menyebar di udara. Kondisi apartemen yang berantakan menandakan bahwa Gerald tengah berada disana. Ditambah lagi, suara pintu kamar mereka yang terbuka membuat dugaan Aiza menguat.

Sayangnya, dugaan Aiza salah. Hati Aiza yang penuh sayatan itu seperti disiram air garam saat seorang wanita keluar dari kamarnya dan Gerald sembari membenahi pakaian merah menyala seksinya yang sedikit berantakan.

Ingatan masalalunya seketika berputar di kepala wanita hamil itu. Bayangan ayahnya yang membawa wanita berbeda setiap malamnya dan ibunya yang menangis di tengah malam setelah memastikan dirinya tidur kembali berputar seperti kaset rusak. Hampir saja tubuh Aiza oleng jika saja ia tidak bisa mengendalikan diri dan suasana hatinya.

“Lo siapa?” Tanya wanita tidak tahu diri itu degan percaya dirinya.

“Nyonya Gerald Atmaja.” Jawab Aiza penuh sarkasme.

“Ah, nyonya Gerald Atmaja. Silahkan, ranjangnya sudah saya hangatkan, Nyonya.” Tanpa rasa malu, tangan wanita itu mengarahkan Aiza menuju kamarnya.

“Oh begitu? Terimakasih banyak atas bantuannya.” Balas Aiza masih dengan nada sarkasnya.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang