“Ibu!”
Gerald sudah menggerakkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya, saat lirihan suara itu mengalihkan perhatiannya.
Bukan suara itu bukan berasal dari Amanda, tapi dari seseorang yang saat ini sudah berdiri dibelakang Gerald dengan mata yang berkaca-kaca.
Yah, meskipun matanya memburam karena air mata, tapi Aiza tidak mungkin salah mengenali orang itu. Seseorang yang meninggalkannya dengan luka di hati dan fisiknya, seseorang yang ia cari selama ini, seseorang yang menjadi alasannya ingin pergi ke Jepang, seseorang yang tanpa sadar ia rindukan ditengah lukanya. Dia adalah Salina, ibunya, ibu kandungnya.
Semua orang dibuat terkejut dengan panggilan Aiza itu, terutama ibu Amanda. Wanita itu terlihat tertegun mendengar panggilan dari seorang perempuan yang baru dilihatnya itu.
Dengan langkah gemetar Aiza melangkah mendekati ibunya, perasaannya bercampur, antara senang, sedih, marah, entahlah Aiza tidak bisa menggambarkannya. “Ini Zahra, Bu. Aiza Az-zahra, putri ibu.”
Mata Gerald dan Amanda membulat mendengar pengakuan Aiza itu. Gerald menoleh kearah ibu Amanda yang sama terkejutnya dengan dirinya. Laki-laki itu menilik wanita itu, dan baru Gerald sadari wanita itu sangat mirip dengan wanita yang ada di foto keluarganya.
Hanya penampilannya yang berubah, jika dulu wanita itu memliki rambut panjang bergelombang, wanita dihadapannya ini memiliki rambut Bob yang membuat penampilannya lebih fresh. Dan mata almon itu, wanita itu menutupinya dengan kacamata bening meskipun begitu Gerald bisa melihat Aiza lewat mata almon itu karena mereka sangat mirip.
Tapi dengan cepat wanita paruh baya itu menguasai dirinya. Keramahan yang sempat ia tunjukan berubah menjadi aura dingin dengan tatapan yang menusuk ke mata Aiza.
“Saya tidak pernah punya putri bernama Aiza Az-zahra. Putri saya hanya satu, yaitu Amanda Az-zahra.”
Bukan hanya tatapan dan sikap dinginnya, tapi kata-kata itu lebih menusuk relung hati Aiza.
“Ibu...”
“Jangan panggil saya dengan panggilan itu! Saya bukan ibu kamu.” Potong wanita itu dengan suara tajamnya.
Kali ini pertahanan Aiza hancur, sekuat apapun ia berusaha, bendungan air matanya tidak bisa ia tahan lagi. Dadanya sangat sesak karena ibu kandungnya sendiri tidak mau mengakuinya, dan yang lebih menyakitkan wanita itu malah mengakui orang lain sebagai anaknya saat ia menolak dipanggil Ibu oleh Aiza.
Suara dari mesin di samping ranjang Amanda mengalihkan mereka, mesin itu berbunyi sangat keras dengan Amanda yang bergerak tidak beraturan sembari memegang dadanya. Gadis itu terlihat sangat kesakitan dan berusaha meraup oksigen dari mulut dan hidungnya. Sepertinya Amanda sangat syok dengan kenyataan ini hingga ia terserang panik.
Gerald dan Wanita yang menamai dirinya Karina itu segera menghampiri Amanda, beberapa kali Gerald menekan tombol disamping ranjang untuk memanggil dokter.
Tidak berapa lama, seorang dokter dengan beberapa perawat masuk ke ruangan itu, seketika suasana menjadi kacau. Dokter dan perawat itu menyuruh mereka bertiga untuk keluar, tapi ibunya Amanda keuekeuh ingin menemani putrinya hingga hanya Aiza dan Gerald yang keluar dari ruangan itu.
Diluar ruangan itu hanya ada mereka berdua. Keduanya sama-sama diam, berusaha mencerna hal yang baru saja terjadi.
Kenapa? Kenapa semua ini harus terjadi pedanya? Kenapa rasa sakit itu terus menerus datang padanya? Masalahnya dengan Gerald bahkan belum selesai dan sekarang ia harus dihantam kenyataan bahwa ibunya tidak hanya membencinya, tapi ia tidak mengakui Aiza sebagai anaknya bahkan mungkin sudah melupakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
