[UPDATE SETIAP RABU DAN JUMAT]
Ketika aku terbangun, aku menyadari bahwa aku berada di sebuah bangunan tua kecil di dunia atau bisa dikatakan dimensi yang berbeda. Aku tidak tau apa dan kenapa aku bisa berada di sini, tapi aku tau satu hal yang past...
Bunyi langkah kaki berlarian di atas rumput serta suara alam mengisi kesunyian malam. Killua buru-buru kembali ke lokasi Gon setelah ia mengalahkan Rammot. Napas anak itu tergesa-gesa, pakaiannya dipenuhi debu dan tanah, bahkan noda darah masih membekas di rambut lembutnya.
Tubuhnya membeku saat tak menemukan siapa pun di tepi sungai. Kunang-kunang yang semula hinggap di pohon pun berterbangan di udara. Hanya barang-barang yang tersisa. Kursi dan tas Gon juga Palm.
'Mereka menghilang...'
Killua mendekat, memeriksa sekitar. Tangannya meraba rumput yang sempat diduduki oleh kedua orang tersebut. 'Barang mereka masih di sini... Jangan-jangan ada semut lainnya?' Kepala anak itu menoleh ke kiri dan ke kanan. 'Aku tak merasakan apa pun. Itu berarti...'
Anak dari keluarga Zoldyck itu berbalik. Kakinya kembali bergerak. Kali ini, tujuannya penginapan.
Pintu penginapan didorong oleh Killua. Matanya membelalak melihat pemandangan ruangan itu.
Lampu tak menyala, hanya ada sebuah lilin yang menerangi. Gon dan Palm ada di tengah ruangan. Puluhan kertas yang ditulis dengan tinta hitam mengelilingi mereka. Gon duduk di lantai, tangannya sibuk menggerakkan kuas dan menulis di atas kertas. Palm berdiri di depannya, memegang sebuah pisau di tangan kanannya.
Jika Gon sedang menulis di atas kertas, berarti semua kertas yang bertebaran itu hasil tulisan tangan Gon.
Dengan ekspresi marah, Palm menoleh tajam pada Killua. Bola mata wanita itu mengikuti gerak Killua yang bergegas masuk dan menghampiri Gon. "Kau sedang apa?" tanya Killua pada Gon.
"Hah? Kau tidak tahu? Aku menghukum dia." Palm menjawab alih-alih Gon. Wanita itu tampak sangat kesal. "Aku menghukum dia karena mempermainkan perasaanku!" lanjut Palm.
Kening Killua mengerut, anak itu balas menatap Palm. "Kau yang apa-apaan? Kau yang bersikap tidak masuk akal sejak awal!" balas Killua.
'Yah, setidaknya Gon tidak apa-apa...' batin Killua lega, matanya melirik sekilas pada Gon yang terus menulis.
"Tinggalkan kami! Ini bukan urusanmu!" usir Palm.
"Kau juga sama, baaka. Kenapa bukan kau saja yang pergi?" balas Killua tak mau mengalah.
Gon sweatdrop mendengarkan pertikaian keduanya.
Palm terkejut akan balasan Killua. Namun wanita itu memincingkan matanya, menyadari rambut Killua yang ternodai oleh darah. "Kenapa kau terluka?" tanya wanita itu. Ia seperti memiliki maksud terselubung.
Killua melirik sekilas rambutnya yang masih kotor karena darahnya sendiri lalu mengalihkan pandangannya. "Oh... Aku habis berlatih. Kau keberatan?" gumam Killua.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tanpa babibu, Palm menggerakkan tangan kanannya yang memegang pisau. Mengarahkan senjatanya itu pada kepala Killua. "Akan kutambah lukamu!" ujarnya.
Manik Killua membola, namuna ank itu menghindar dengan cepat sehingga Palm tak sempat melukainya.