|91|

681 53 7
                                        

Maaf bagi Langga mungkin tidak cukup untuk memperbaiki masa lalunya. la terlau egois dengan amarahnya. Kini dirinya tenggelam dalam penyesalan yang menyesakkan. Langga hanya berharap bahwa sebuah kesempatan itu ada untuknya. Bisa bertemu dengan sang bungsu, Alvin. Memberinya kasih sayang dengan segenap cinta dalam hidupnya.

Malam baginya menjadi waktu untuk merenung. Matanya lelah, namun jiwanya enggan untuk beristirahat. Apalagi dengan Alvin yang tertidurdi dekapan hangatnya, sebuah kesempatan berharga dimana Langga merasakan sebuah kebahagiaan. Beberapa kali tidur Alvin terusik dengan kerutan di dahi, tubuhnya tersentak menegang tetapi kembali tenang. Entah apa yang di alaminya dalam mimpi.Tangan Langga tidak pernah diam untuk menenangkan.

"Ayah disini, Nak.. Ayah disini." Bisiknya.

Tangan besarnya ragu ketika ingin mengusap helaian rambut hitam Alvin. Rasanya tangan ini terlalu kotor untuk menyentuhnya. Tangan ini, tangan yang sama dimana ia memukul, menampar, menarik tubuh itu dengan kasar, mendorong tubuh lemahnya sampai tersungkur di lantai dingin. Tangan yang memberi luka pada tubuh Alvin, tubuhnya saja masih menyisakan bekas dimana luka itu pernah bersemayam menyakitkan.

Tapi entah hati Alvin selapang apa dapat menerima dirinya kembali. Air matanya meluruh tanpa diminta, ketika tangannya akan mengusap tanpa disangka tangan Alvin yang terinfus mengusap lebih dahulu.

"Ayah kenapa?"

"Ayah baik-baik aja"

"Tapi Ayah nangis"

"Alvin tidur lagi, ini masih malam. Lihat abang Raka aja masih tidur." Langga mengalihkan pembicaraan, membuat Alvin menoleh kearah Raka yang tertidur di Ranjang tambahan tidak jauh darinya.

"Iya, abang Raka pasti cape"

"Alvin juga butuh istirahat, tidur ya.. Ayah disini"

"Alvin tidur, kalau ayah juga tidur" Ucap Alvin dengan tersenyum, membuat Langga ikut tersenyum menghembuskan nafasnya pasrah.

"Ayah, kenapa belum tidur?"

"Ayah lagi rindu"

"Rindu?"

"lya, rindu.. anak ayah"

"emm.. Abang Reval ya"

Saat nama itu terucap, hatinya kembali bergetar rasa rindu kembali menyeruak. Langga mengangguk sebagai jawaban, tersenyum pada Alvin yang menatapnya penuh tanya.

"Alvin juga rindu." Adajeda, kembali mengingat wajah Reval saat terakhir kali keduanya bertemu.

"Abang Reval, di Singapore lagi apa? Sekolah? Atau pindah kesana, sama tante Dian? Alvinkan masih disini, dimana ada Alvin pasti ada abang juga." Ucap Alvin begitu jelas tanpa ragu dengan tenang.

Berbeda dengan Langga mulutnya kelu untuk menjawab. la pastikan dari pertanyaan Alvin, bahwa saat itu memang kesadarannya sudah di ambang batas.Langga sedikit bersyukur bahwa Alvin tidak mengingat dengan jelas. kejadian menyakitkan itu.

"Disana.." Ucapan Langga terasa ragu, membuat Alvin memotong ucapannya.

"Kalau Ayah enggak kasih tahu juga enggapapa, engga semuanya harus Alvin tahukan" Ucap Alvin tanpa rasa takut.

Langga tertawa pelan dengan sikap Alvin, dimana setiap respon tubuhnya. tanpa ada rasa takut maupun ragu. Ini kemajuan dari perkembangan spikis Alvin, sekarang lebih berani.

"Alvin mau ketemu abang reval, boleh?"

"Boleh, asalkan Alvin sembuh"

"Alvin udah sembuh Ayah"

"iya, Alvin benar sudah sembuh. Tapi ini juga harus sama-sama sembuh." Tangan Langga menepuk dada Alvin pelan, membuatnya terdiam menunduk.

"Abang reval..baik-baik ajakan?"

ALvInCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang