|87|

409 49 2
                                        

Malam itu, lorong rumah sakit terasa lengang. Lampu neon pucat memantulkan bayangan panjang di lantai putih yang dingin. Langga berdiri tegak di depan kaca ruang rawat, tubuhnya kaku seakan tertahan oleh penyesalan yang menumpuk.

Sudah beberapa hari ia absen, terbang ke Singapura demi menemui Reval. Kini ia kembali, membawa sebuah notebook besar di tangannya satu-satunya cara komunikasi dengan Alvin, anak bungsunya, tanpa diketahui Lisa.

Wajah Langga tampak letih, garis-garis usia semakin jelas, matanya merah karena kurang tidur. Namun di balik kaca itu, ia tetap setia menatap, seolah setiap detik adalah kesempatan untuk menebus kesalahan.

Di dalam ruang rawat, suasana begitu tenang. Alvin terbaring di ranjang utama, tubuh kecilnya tertutup selimut putih. Posisi tidurnya miring ke kanan, tangan itu menggenggam erat sebuah Lego seri F1 Red Bull.

Senyum tipis terbit di wajahnya meski ia masih nyenyak, seakan mimpi indah menemaninya. Lego itu telah sampai di tujuannya sebuah pesan dari Reval yang tersampaikan lewat benda sederhana, namun penuh makna. Langga menatapnya dengan haru, rindu pada Reval yang kini seakan hadir lewat potongan Lego itu.

Di ranjang sebelah, Dava, anak keduanya, tertidur lelap bersama Lisa. Nafas mereka teratur, damai, kontras dengan hati Langga yang bergemuruh. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Malik, bodyguard setia, berbisik pelan.

"Tuan, Anda sudah berdiri hampir tiga jam. Besok malam kita bisa kembali lagi. Ini sudah jam rawan, Lisa bisa saja melihat Anda." Langga menggeleng pelan, matanya tak beranjak dari Alvin.

"Lima menit lagi," jawabnya lirih, penuh kerinduan. Malik hanya menghela napas, memahami betapa kokohnya pendirian sang ayah.

Dan benar saja, lima menit kemudian, kelopak mata Alvin perlahan terbuka. Ia menggeliat kecil, jemarinya masih menggenggam Lego itu. Pandangannya kabur sesaat, lalu berhenti pada kaca. Di sana, sosok ayahnya berdiri. Mata Alvin melebar, lalu senyum hangat merekah di wajahnya. Tangannya bergerak pelan, seolah ingin menunjukkan bahwa ia sadar, bahwa ia melihat.

Langga tersentak haru. Senyum yang lama hilang kini kembali menghiasi wajahnya. Matanya berkaca-kaca, tubuhnya bergetar menahan emosi. Dari balik kaca, ia mengangkat notebook besar itu, menuliskan kata sederhana.

"Ayah di sini."

Alvin mengangguk kecil, matanya berbinar meski masih berat oleh kantuk. Gerakannya lambat, namun penuh makna. Ia mengangkat tangannya ke kaca, seakan ingin menyentuh ayahnya. Langga pun menempelkan tangannya dari sisi lain.

Tak ada suara, hanya tatapan dan senyum yang berbicara. Dalam keheningan dini hari itu, dua hati yang lama terpisah kembali bertemu meski hanya lewat kaca, meski hanya lewat Lego yang digenggam dalam tidur.

Langga mulai kembali menulis, dengan tersenyum penuh makna. Menunjukkan kearah kaca untuk Alvin melihatnya.

"Selamat malam, penonton setia satu orang Alvin! Malam ini ayah hadir lagi, tanpa tiket, tanpa panggung, cuma kaca rumah sakit."

Alvin tersenyum kecil, matanya berbinar, pura-pura tepuk tangan pelan. Langga tersenyum getir, menunduk sebentar, lalu menulis sambil menghela napas panjang. Tangannya sedikit bergetar, spidol menekan kertas lebih kuat dari biasanya.

"Kemarin ayah absen... maaf ya. Ayah lagi jadi turis Singapura. Tapi tenang, ayah nggak tersesat di Orchard Road, cuma tersesat di hati abangmu Reval."

Alvin menahan tawa, lalu menggenggam Lego lebih erat. Ia mengerutkan keningnya pura-pura marah. Menarik selimut ke dagu, lalu melirik kaca dengan tatapan nakal.

"Kamu rindu ayah nggak? Kalau iya, senyum. Kalau nggak... ayah siap pura-pura jatuh pingsan di lorong ini biar dramatis."

Alvin menutup wajah dengan tangan, lalu tersenyum lebar. Langga tertawa kecil, bahunya berguncang. Ia menulis cepat, spidol berputar jenaka, lalu mengangkat notebook tinggi-tinggi agar Alvin bisa jelas melihat.

ALvInCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang