|85|

332 34 4
                                        

Langga duduk tenang di kursi pesawat, ditemani Malik sang asisten pribadi. Penerbangan pagi menuju Singapura terasa berbeda ia bukan lagi seorang pebisnis semata, melainkan seorang ayah yang harus membagi waktu untuk kedua anaknya. Alvin, si bungsu, kini menunjukkan perkembangan baik di rumah sakit. Setiap malam Langga menatapnya dari balik kaca, hatinya tenang.

Namun kali ini, hatinya tertuju pada Reval, anak ketiganya yang sedang menjalani terapi psikologis di Singapura bersama pengawasan ketat sang Opa, Zafar. Pesawat mendarat mulus di Changi Airport.

Langga menatap sekeliling bandara itu megah, penuh cahaya alami dari kaca-kaca besar, aroma kopi dari kafe internasional bercampur dengan wangi parfum para penumpang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Langga menatap sekeliling bandara itu megah, penuh cahaya alami dari kaca-kaca besar, aroma kopi dari kafe internasional bercampur dengan wangi parfum para penumpang. Malik segera menuntunnya ke pintu keluar, di mana sebuah mobil mewah sudah menunggu. Interior mobil itu berlapis kulit hitam dengan aksen kayu elegan, aroma leather baru memenuhi ruangannya.

Perjalanan menuju mansion Zafar melewati jalanan Singapura yang rapi, pepohonan hijau di kanan kiri, hingga akhirnya tiba di gerbang tinggi berlapis besi berukir. Mansion itu berdiri megah, dinding putih berkilau, halaman luas dengan air mancur di tengah. Penjaga menyambut hormat, jam tangan Langga menunjukkan pukul tujuh pagi.

Begitu pintu mansion dibuka, aroma wangi bunga segar bercampur dengan harum kayu mahal menyambutnya. Interiornya luas, lantai marmer berkilau, chandelier kristal menggantung anggun. Zafar muncul dengan senyum tipis.

"Pagi sekali kamu sampai, Langga" ucap Zafar.

"Iya pak, aku memutuskan untuk penerbangan pagi saja" ucap Langga di balas angfukan oleh Zafar.

"Reval masih tidur, kalau akhir pekan memang begitu," ucapnya. Langga hanya mengangguk, rindunya membuncah.

Langga membuka pelan pintu kamar. Reval masih tertidur, wajahnya damai, napas teratur. Rambutnya sedikit berantakan, membuat Langga gemas. Ia mengusap pelan helaian rambut itu.

Langga banyak mengucapkan rasa syukur. Reval bisa melalui masa keterpurukannya. Trauma itu perlahan hilang dengan ke ikhlasan untuk menerima. Tubuh itu kini telah kembali merasa baik, meskipun meninggalkan luka-luka kelam. Alvin dan Reval kedua anaknya, telah melewati badai pertempuran akan rasa trauma.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ALvInCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang