|90|

411 42 2
                                        

Langga duduk di sisi ranjang, jemarinya tak pernah lepas dari genggaman tangan mungil Alvin yang baru saja terlelap setelah tangis panjang di pelukan ayahnya. Tubuh kecil itu terasa lebih kurus, meski Raka sempat berkata bahwa adiknya sudah sedikit berisi. Wajah Alvin masih pucat, namun senyum samar yang tertinggal di bibirnya membuat hati Langga bergetar.

Langga menatap lekat, seolah tak percaya hari ini benar-benar tiba hari di mana ia bisa memeluk, menggenggam, dan menatap sang bungsu dari dekat. Ada rasa penebusan yang mengalir, kasih sayang yang selama ini tertahan kini ia curahkan tanpa batas. Raka, yang duduk di kursi dekat jendela, membuka percakapan dengan suara pelan.

"Ayah... kondisi Alvin memang naik turun. Kadang keliatan kuat, kadang drop lagi. Tapi kata dokter dalam satu minggu ini, kalau kondisinya stabil. Alvin bisa pulang" Jelas Raka.

"Ayah menyesal, Raka... Ayah terlalu lama mengumpulkan keberanian untuk bertemu. Alvin harusnya tak perlu menunggu selama ini untuk merasakan pelukan ayahnya." ucao Langga penuh penyeslaan menatap sang bungsu.

"Yang penting sekarang Ayah ada. Alvin butuh itu. Aku juga... kita semua." Raka menarik napas panjang.

Suasana sore terasa hangat. Cahaya matahari menembus tirai tipis, memantul di lantai putih kamar rawat. Perawat masuk membawa nampan berisi makanan sore, disambut Raka dengan senyum singkat.

"Ini makan sore untuk Alvin. Kalau nanti bangun, bisa langsung disantap." ucap perawat.

"Baik, terima kasih." Raka.

Langga masih menggenggam tangan Alvin. Jemari kecil itu mulai terasa hangat, sedikit berkeringat. Dengan hati-hati, ia membelai rambut Alvin, lalu berbisik lirih.

"Bangun, Nak... sudah sore."

Alvin terusik dari tidur, tubuh itu tersentak dengan nafas yang memburu. Langga menenangkan Alvin. Ia tahu kondisi ini dari Langga maupun anak sulungnya Raka. Mata itu mengerjap pelan, matanya terbuka setengah, menatap wajah ayahnya yang begitu dekat. Senyum tipis muncul, meski masih lemah.

"Ayah... jangan lepaskan tangan Alvin." Alvin suara serak.

"Tidak akan, Nak. Ayah di sini... selalu." Langga tersenyum haru, menahan air mata.

Raka menatap keduanya, dadanya sesak oleh pemandangan yang jarang ia lihat. Ada kehangatan yang menembus dinginnya ruang rawat, sebuah momen yang seakan menjadi penebusan masa lalu.

Gelas berisi minuman hangat ia angkat perlahan, lalu mendekatkannya ke bibir sang bungsu. Alvin membuka mata setengah, menerima bantuan ayahnya dengan senyum kecil.

"Pelan-pelan saja, Nak... jangan terburu-buru." Langga suara bergetar. Alvin meneguk perlahan, matanya berbinar meski tubuhnya masih lemah.

"Makan ya.. Ayah suapi"

"Iya"

Raka yang duduk di kursi samping menatap dengan takjub. Ia melihat Alvin begitu lahap saat ayahnya menyuapkan makanan. Sendok demi sendok, tangan Langga bergerak hati-hati, penuh kelembutan. Setiap suapan terasa seperti doa yang ia titipkan pada anaknya.

Langga menatap wajah Alvin, air matanya menahan di sudut mata. Jemari yang dulu pernah melempar air dengan amarah kini justru menggenggam sendok dengan penuh kasih. Alvin tersenyum, pipinya memerah sedikit karena rasa senang.

"Ayah... Alvin suka kalau Ayah yang nyuapin. Rasanya beda.." ucap Alvin. Langga tersenyum haru, menahan tangis yang hampir pecah.

"Ayah akan terus ada, Nak. Enggak akan pergi lagi." Langga

Raka menunduk, matanya berkaca. Ia tahu betul betapa momen ini adalah keajaiban kecil yang tak pernah ia bayangkan. Suasana kamar rawat dipenuhi cahaya sore yang lembut, tirai bergoyang pelan diterpa angin dari jendela.

ALvInCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang