|83|

400 37 2
                                        

Siang itu, Alvin baru saja menyelesaikan terapi berjalan. Keringat mengucur deras di keningnya, tubuh mungilnya tampak lelah setelah berjuang menjaga keseimbangan. Meski sudah bisa berjalan dengan lebih stabil, jarak dari ruang terapi ke ruang rawat terasa terlalu jauh baginya. Ia memilih menggunakan kursi roda, wajahnya pucat, napasnya terengah.

Suster datang membantu, memindahkan Alvin ke ranjang. Begitu tubuhnya bersandar, rasa sakit menjalar dari kaki kiri hingga ke pinggul. Otot betisnya menegang, seperti ditarik kuat tanpa kendali. Alvin meringis, tangannya menggenggam sprei erat.

"Bunda... aakhh sakit" Lisa segera duduk di samping ranjang, mengusap pundak Alvin, lalu merapikan helaian rambut anak bungsunya.

"Tenang, Nak. Tarik napas pelan. Bunda di sini." ucap Lisa.

Ototnya terasa seperti ditarik kuat, membuat wajahnya meringis. Suster yang mendampingi segera mengambil posisi di sisi ranjang.

Dengan gerakan terlatih, suster mulai memijat betis Alvin. Jemarinya menekan perlahan di bagian otot yang menegang, lalu mengusap sepanjang betis ke arah atas untuk membantu melancarkan aliran darah. Sesekali ia menahan pijatan di titik yang paling keras, lalu melepaskannya perlahan agar otot bisa lebih rileks.

"Sudah lebih baik, Alvin" ucap suster dengan suara tenang. "Keram memang sakit, tapi dengan pijatan dan peregangan ringan, ototmu akan kembali rileks."

Alvin menggenggam sprei erat, menahan rasa nyeri yang masih menusuk. Lisa di sampingnya mengusap pundak dan rambut Alvin, berusaha menenangkan.
Suster melanjutkan pijatan dengan ritme teratur, kadang menggerakkan telapak kaki Alvin ke arah tubuh untuk meregangkan otot betis.

"Keram ini wajar setelah terapi berjalan. Ototmu bekerja keras tadi, jadi sekarang menegang. Tidak berbahaya, hanya tanda ototmu sedang beradaptasi." Suster, memeriksa kaki Alvin.

"Kenapa sakitnya lama sekali, Sus?" ucap Lisa khawatir. Melihat Alvin menggertakkan gigi, wajahnya menahan sakit.

"Karena ototnya kelelahan dan aliran darahnya belum lancar. Kita pijat pelan, regangkan sedikit, nanti akan reda. Jangan khawatir, ini bagian dari proses pemulihan." ucap Suster.

Lisa mengusap rambut Alvin lagi, suaranya lembut. "Dengar itu. Keram ini tanda kamu sudah berusaha keras. Bunda bangga sekali."

"Kalau setelah terapi kamu merasa sesak napas seperti biasanya, segera tekan tombol bantuan di samping ranjang. Kami akan datang membawa oksigen dan memberikan penanganan cepat." Suster menambahkan arahan. Alvin mengangguk pelan, meski masih meringis.

Pijatan suster perlahan membuat otot betis Alvin mengendur. Rasa sakit yang tadi menjalar hingga pinggul mulai berkurang, meski masih ada sisa nyeri yang membuatnya sesekali meringis. Lisa tetap di sampingnya, mengusap pundak dan rambut Alvin, memberikan ketenangan yang tak tergantikan.

"Nah, Alvin keramnya sudah mulai reda. Ingat ya, setelah terapi berjalan, jangan langsung memaksakan diri. Istirahat sebentar, minum air, dan lakukan peregangan ringan di betis dan paha." Suster tersenyum kecil, melihat Alvin mulai bisa bernapas lebih teratur.

"Kalau keramnya muncul lagi, apa yang harus aku lakukan, Sus?" Tanya Lisa.

"Kalau terasa kaku, hentikan aktivitas. Regangkan kaki lakukan pijat ringan. Itu akan membantu otot lebih cepat rileks. Dan jangan lupa, hidrasi penting sekali. Kekurangan cairan bisa membuat otot lebih mudah keram." jawab Suster.

Suster melanjutkan arahan "Kalau nanti setelah terapi kamu merasa sesak napas, segera tekan tombol bantuan di samping ranjang. Jadi jangan takut, kamu aman di sini."

"Terima kasih, Sus...." ucal Lisa

Suster itu telah meninggalkaan ruang rawat. Tinggallah Alvin bersama sang Bunda di ruangan.

ALvInCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang