*KARYA INI DI BUAT UNTUK DI NIKMATI*
*BUKAN UNTUK DI PLAGIASI*
2019 - Hari ini
#1 hope 12.09.2021
#1 hope 09.02.2022
#1 ingin 01.11.2021
#1 Alvin 07.01.2022
#1 Hyunjin 10.02.2022
#1 Masalah 24.02.2022
# 3 alone 08.12.2024
# 4 sick 18.11.2024
# 1 al...
Cahaya matahari menembus tirai tipis kamar rawat, jatuh lembut di wajah Alvin yang masih terlelap. Nafasnya teratur, pelan, seolah tubuh mungilnya enggan beranjak dari mimpi yang menenangkan. Lisa duduk di tepi ranjang, matanya menatap penuh kasih. Jemarinya menyusuri helaian rambut Alvin, lembut seperti doa yang tak pernah putus.
"Sudah siang, Nak... ayo bangun. Terapis udah menunggu. Bunda di sini, jangan takut," bisiknya lirih, suara seorang ibu yang penuh kelembutan.
Alvin mengerutkan kening, tubuh itu tersentak menegang. Nafasnya berhenti sesat. Kedua tangannya mengepal kuat. Lisa mencoba untuk tenang, tangannya dengan lembut menepuk pelan dada Alvin.
"Sstt.. Ini Bunda, nak." Bisiknya.
Matanya perlahan terbuka. Pandangan yang masih kabur menangkap sosok Lisa. Hari ini, wajah bundanya tampak segar, rapi, berbeda dari biasanya yang selalu terlihat lelah.
"Bunda"
"Heem"
"Bunda... udah siap?" ucapnya dengan suara serak, nyaris seperti keluhan kecil.
"Iya, Bunda sudah siap." Lisa tersenyum, menahan air mata yang hampir jatuh.
Setelah kejadian itu, yang selalu menyayat hati Lisa. Saat tubuh Alvin terbangun dari tidurnya yang tidak pernah tenang. Entah itu bermimpi atau bangun seperti pagi ini.
Langkah Alvin masih goyah, tapi Lisa merangkulnya dengan sabar. Aroma antiseptik bercampur dengan dingin lantai keramik kamar mandi. Alvin berdiri di depan wastafel, menatap bayangan dirinya di kaca. Mata itu berkaca, seolah tak percaya ia bisa berdiri tegap setelah berbulan-bulan hanya terbaring.
Lisa membantu membasuh wajahnya, menggosok gigi, lalu mengelap tubuhnya dengan handuk lembut. Setiap gerakan penuh kasih, penuh doa. Air mata Lisa jatuh tanpa suara, membasahi pipinya.
Dulu lisa melihat sang bungsu hanya bisa duduk. Itupun penuh akan perjuangan rasa sakit dan bantuan orang lain. sekarang ia melihatnya Alvin yang sudah bisa berdiri sendiri dengan penuh keseimbangan tanpa bantuan. Hatinya merasa haru bahagia melihat perkembangan Alvin saat ini.
Selesai dari kamar mandi, Alvin berjalan pelan menuju ranjang. Lisa merangkul tangan kanannya, takut ia jatuh. Pandangan Alvin tertuju pada nakas. Di sana, sebuah Lego F1 Ferrari merah berukuran besar berdiri gagah, bersanding dengan Lego yang pernah ia rakit bersama Dava.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ingatan dini hari itu kembali ayahnya, Langga, merakit Lego dengan cepat, memperlihatkannya dari balik kaca kamar. Senyum antusias sang ayah masih terpatri jelas di benaknya. Alvin tersenyum getir, matanya berkaca. Lisa mengikuti arah pandang Alvin.
"Itu dari Dava. Di bawa pagi tadi, Alvin masih tidur," ucapnya lembut.
Alvin hanya mengangguk, hatinya berdesir. Ada rasa ingin bertanya tentang ayahnya, tapi ia takut membuat bundanya marah.