|88|

420 49 3
                                        

Terkadang rasa rindu dapat mengalahkan segala resah rasa takutnya. Meskipun itu adalah sumber utama dari segala lukanya. Luka itu hadir Alvin anggap sebagai kasih sayang. Tidak ada rasa benci dalam hati kecilnya. Meskipun banyak pertanyaan yang menumpuk. Kenapa harus dirinya? Mengapa hanya dirinya?

"Rambutnya udah panjang banget. Nanti kalau udah pulang kita potong, oke." Ucap Raka.

Raka duduk di kursi dekat ranjang rawat Alvin. Tangannya mengusap helaian rambut yang sudah panjang sebahu. Matanya menatap kearah Alvin, yang menunduk memperhatikan kedua tangannya mengenggam Lego serise F1 Redbull pemberian Reval.

"Legonya bagus"

"Ini dari abang Reval"

"Reval?"

"Heem

Mendengar nama itu membuat Raka terkejut. Tetapi melihat respon Alvin setenang ini membuat hatinya tidak khawatir. Seluas apa hati adiknya ini, bisa menerima dengan lapang atas apa yang terjadi.

"Kata Abang Dava. Legonya di beliin bang Reval di Singapore, sebagian udah di rakit juga disana. Terus di bawa kesini, Alvin nerusin ngerakitnya sampai selesai. Tapi kebanyakan di bantu bang Dava" Alvin menjelaskan dengan perlahan.

"Kalau yang merah itu, abang Dava yang beliin" Alvin menatap kearah nakas sebelah ranjangnya.

"Woah! Bagusnya juga. Hebat Dava sama Alvin bisa rakit yang ukuran besar juga." Puji Raka.

Melihat kearah nakas dekat ranjang rawat. Lego serise F1 Ferarri berwarna merah mentereng tersimpan gagah disana dengan berbeda ukuran.

"Tangan Alvin waktu itu masih lemes, jadi cuman bisa liat. Bang Dava sendiri yang ngerakitnya sebagian sampai selesai.... sama Ayah." Ucapnya sedikit ada jeda dengan nada pelan di akhir, gelisah tidak menatap kearah Raka.

"Ayah juga kesini?" Tanya Raka.

"Iya, ayah kesini. Tapi enggak masuk." Ucapnya sedih.

Raka sengaja bertanya. Ia tahu dari Omnya Lingga, bahwa Ayahnya sering menjenguk Alvin saat malam hari. Beberapa kali juga melihat Ayahnya pergi malam hari di dampingi Malik.

"Abang Raka"

"Heem."

Ada jeda cukup panjang di sana. Alvin ragu untuk bertanya tetapi bila tidak sekarang kapan lagi. Pertanyaan yang keluar dari mulutnya, Alvin takut menyakiti hati sang Bunda. Meskipun Lisa sedang pulang.

"Alvin mau nanya apa?" Raka bertanya, memberikan keyakinan pada Alvin dengan tersenyum lembut.

"Emm.. Ayah." Ucapnya, ragu.

"Ayah, ada di rumah."

"Abang.. Ayah selalu datang kesini, setiap malam. Cuman berdiri di depan kaca."

"Enggak takut sama Ayah?" Tanya Raka.

"Alvin rindu Ayah, tapi.. takut Bunda" ucapnya menatap Raka.

"Kenapa takut Bunda? Bundanya memang kenapa?" Tanya Raka, membuat Alvin menunduk.

"Marah"

Raka tahu bukan arti marah yang sebenarnya Alvin maksud, tetapi adiknya takut akan menyakiti perasaan sang Bunda. Itu yang menjadi alasan mengapa Alvin jarang berbicara terbuka dengan Lisa.

"Bunda enggak bakal marah ko. Bunda kan sayang sama Alvin. Alvin tahu itukan?" Tanya Raka. Alvin mengangguk sebagai jawaban.

"Alvin mau ketemu Ayah, Bukan cuman di depan kaca aja. Tapi masuk kesini duduk dekat Alvin. Kaya Abang sama Bunda jaga Alvin sekarang." Ucapan Alvin membuat Raka tertegun, menayap wajah sang adik yang tidak ada keraguan.

ALvInCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang