|89|

395 50 4
                                        

Jam menunjukan pukul tiga dini hari. Alvin sudah membuka mata cukup lama. Kantuk menguap begitu saja. Tubuhnya seperti terbiasa dengan sosok hangat sang Ayah yang menemaninya. Matanya terus berharap menunggu, menatap kearah kaca pintu ruang rawatnya.

Ruangan rawat di dominasi dengan suara 'klik' dari tangan Alvin, terkadang potongan kecil itu tidak terpasang dengan benar. Tidur Raka terusik, ia bangun ketika melihat sang adik tidak tertidur. Tangannya sibuk dengan beberapa potongan kecil Lego yang sedang di rangkainya.

"Alvin, kapan bangun? Kenapa engga bangunin bang Raka juga?" Tanya Raka.

"Alvin nunggu Ayah" lirihnya.

Alvin tidak menatap ke arahnya, ia fokus pada kedua tangannya. Raka melihat raut sedih sang adik. Ia mendekat duduk di kursi dekat ranjang Alvin. Tangannya terulur untuk mengusap helaian rambut yang menutupi sebagian wajah adiknya.

"Tidur lagi ya, ini masih malam. Rakit Legonya di lanjut nanti pagi abang bantu." Ucap Raka, tangannya membereskan Lego yang Alvin rakit disimpannya di nakas.

Matanya terlihat mengantuk lelah. Tetapi tatapannya masih tertuju pada kaca pintu ruang rawatnya. Di mana itu tempat Langga berdiri untuk menyapa sang adik.

"Mungkin Ayah udah kesini, pas Alvin lagi tidur."

"Kenapa Ayah engga bangunin Alvin?"

"Karena Ayah sayang Alvin. Ayah tahu anak bungsunya harus istirahat, buat cepat sembuh dan pulang ke rumah." Ucapnya tersenyum, menenangkan.

"Tapi.. Ayah janji bakal kesini. Ayah kemarin juga nunggu Alvin bangun. Berdiri disana lama" Tangan yang diinfusnya menunjuk kearah kaca, membuat Raka memegang tangan itu.

"Alvin mau telpone Ayah?" Tawar Raka.

"Nanti, Bunda tahu" lirihnya.

"Abang yang bakalan telpone Ayah. Tapi kalau udah pagi. Mungkin ayah juga udah sampai di rumah sekarang, Ayah pasti udah tidur istirahat. Sekarang Alvin tidur juga, Abang disini." Jelas Raka, memberi pengertian pada Alvin.

Tubuh tegang itu mulai melemas matanya terpejam, bersamaan dengan kelembutan tangan Raka pada surai hitamnya. Raka melirik kearah jam tangannya menujukan pukul empat dini hari. Ia menguap, namun tidak kembali untuk tidur untuk menjaga sang adik dalam tidurnya.

Pagi itu, cahaya matahari menembus tirai tipis ruang rawat, menciptakan kilau hangat di dinding putih. Aroma antiseptik masih terasa. Alvin duduk bersandar di ranjang, wajahnya sedikit pucat, tatapan kosong menatap meja kecil di samping tempat tidur.

Dokter masuk dengan langkah tenang, jas putihnya berayun ringan. Stetoskop tergantung di leher, clipboard di tangan. Raka yang berjaga semalaman segera berdiri menyambut.

"Selamat pagi, Raka. Bagaimana keadaan adikmu semalam? Apakah Alvin bisa tidur dengan baik?" Dokter.

"Sejujurnya, Dok... Alvin banyak terjaga. Pikiran dan kecemasannya membuat ia sulit tidur." Ucap Raka.

Dokter mengangguk, lalu mendekat memeriksa tensimeter yang baru saja dipasang perawat. Jarum menunjukkan angka yang cukup tinggi.

"Tekanan darahnya memang naik. Ini akibat kurang tidur dan beban pikiran. Secara medis, kondisi seperti ini bisa memicu hipertensi sementara. Untungnya, tidak ada tanda pusing atau sesak napas. Bagaimana, Alvin, apakah kamu merasa pusing?" Ucap Dokter.

"Tidak, Dok. Hanya agak lelah." Lirih Alvin

Dokter tersenyum tipis, menuliskan catatan di clipboard. Ia menatap piring sarapan yang hanya setengah habis.

"Sarapan tadi hanya sedikit, ya? Itu wajar, nafsu makan bisa menurun saat tubuh lelah. Tapi tetap usahakan makan meski sedikit, agar energi tidak drop." Dokter.

ALvInCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang