|86|

432 42 4
                                        

Dava menuruni tangga sudah bersiap untuk mengunjungi Alvin di rumah sakit. Beberapa pesan ia dapat dari sang Bunda, untuk sekalian membawa makan. Kegiatannya memang di batasi apalagi untuk keluar rumah sekedar berkumpul dengan teman dapat dihitung jari. Peraturan di mension Opanya ini sangat ketat setelah kejadian itu. Meskipun Opa Zafar tidak lagi tinggal di mension ini, dapat dihitung jari bila pulang dari Singaporepun tidak pernah lama.

Peraturan rumah di pegang oleh Omnya Lingga sedangkan sang Ayah Langga. Terakadang ada rasa enggan Dava untuk berkomunikasi. Seperti sekarang, Dava membuka pintu ruang kerja Omnya disana terdapat juga Langga. Keduanya duduk berhadapan. Entah apa yang mereka bahas.

"Om Lingga.. Aku mau jenguk Alvin kerumah sakit, sambil bawa makan juga pesanan Bunda." Ucapnya, meminta ijin.

"Di antar Malik?" Tanya Lingga.

"Iya"

"Baiklah, hati-hati" Lingga kembali fokus pada dokumen.

Langga dirinya disana, berharap bahwa Dava berbicara seperti itu padanya sebagai Ayah bukan pada Lingga saudaranya. Tatapannyapun tidak terbalas. Dava menghindar darinya, sampai Dava berbalik untuk keluar dari ruang kerja.

"Tunggu.. Dava" Cegah Lingga.

Dava berbalik menatap ayahnya dengan wajah datar. Alis tebalnya terangkat. Menunggu Langga yang akan berbicara.

"Apa Ayah bisa menitipkan barang untuk Alvin?" Dava mengangguk, Lingga tersenyum bangkit dari duduknya.

"Bereskan dulu urusan mu" ucap Lingga pada saudaranya.

Kedua berdiri di pintu depan mension. Langga baru saja tiba dari Singapura malam tadi. Di tangannya, sebuah kotak Lego seri F1 Red Bull ia serahkan kepada Dava. Kotak itu cukup familiar beberapa waktu lalu, Dava juga pernah membawa Lego seri F1 Ferrari untuk dirangkai bersama Alvin.

Namun kali ini berbeda. Dava yang dulu begitu antusias kini hanya menerima dengan ucapan singkat.

"Makasih, Yah." Dava datar.

Tanpa senyum, tanpa ekspresi. Langga menatapnya heran, ada rasa kehilangan di balik sorot mata ayah itu. Saat kotak Lego berpindah tangan, Dava mendapati box sudah terbuka. Ia mengernyit, nada suaranya terdengar meremehkan.

"Kenapa udah begini? Barangnya bahkan engga utuh." tanya Dava, Ia mengernyit, nada suaranya terdengar meremehkan.

"Itu pesan dari Reval. Lego ini sudah setengah dirakit oleh Papah dan Reval di Singapura. Sisanya... Reval ingin Alvin yang menyelesaikan." Langga menarik napas, lalu menjawab dengan tenang.

Mendengar nama Reval, Dava tertegun. Ada jeda hening, seolah pikirannya berputar mengingat kembali kebersamaan yang pernah ada. Tanpa banyak kata, Dava segera melangkah keluar. Ia masuk ke mobil, duduk di kursi penumpang. Malik, bodyguard keluarga, menutup pintu dengan sigap. Langga melepas pesan singkat.

"Hati-hati di jalan."

"Baik, Tuan. Saya pamit." Malik menunduk hormat.

Mobil hitam itu perlahan melaju keluar dari mansion megah. Lampu-lampu halaman redup tertinggal di belakang, sementara Dava menatap kosong ke luar jendela. Kotak Lego di pangkuannya terasa berat bukan karena isinya, melainkan karena pesan yang dibawanya.

"Apa ada yang perlu saya bantu, tuan muda?" Malik menawarkan bantuan, saat membuka pintu penumpang.

"Aku bisa sendiri" ucap Dava. Ia keluar dari mobil dengan kedua tangan uang membawa tas.

"Oh ya.. Jangan jemput lagi kesini. Aku mau nginep di rumah sakit. Tolong kasih tahu Om Lingga" pintanya.

"Tapi, tuan muda anda belum meminta izin menginap di rumah sakit" Malik mengingatkan.

ALvInCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang