Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

PERAN PENGGANTI [5]

53 20 8
                                        

"Kamu telat 5 menit 30 detik." Satya bersidekap lalu menengok jam tangannya. Dia masih bersandar di sisi kiri mobil.

"Mas aku jalan kaki loh."

Satya menghela nafas. "Saya emang harus ngajarin kamu disiplin waktu ya, Yumna."

"Astaga mas. 5 menit doang."

Kebiasaan ini pasti dibawa Satya sejak pendidikan di keraton atau sejak di luar negeri. Seperti yang dia katakan di awal pernikahan, dia tidak suka orang yang meremehkan waktu dan tidak disiplin.

"Iya deh iya maaf. Tadi tuh aku dicegat muridku di dekat gerbang, katanya sebentar lagi ada pagelaran teater antar sekolah di pusat kota. Jumat depan mereka minta aku datang sama suami."

Satya mengerutkan alis dengan tatapan menyelidik. Yumna menghela nafas panjang.

"Serius, mas. Tapi kalau mas sibuk gak apa-apa aku pergi sendiri."

"Nanti saya cek jadwal, kalau bentrok ya gak bisa. Buruan masuk." Satya segera duduk di kursi kemudi, disusul Yumna di sampingnya.

"Beneran? Janji ya? Kalau beneran bisa luangin waktu, kamu ikut sama aku. Kamu kan gak pernah ajak aku nonton. Jadi biar aku aja. Oh ya, sebagai kompensasi karna aku telat, aku bakal beliin bakso."

"Saya gak suka banyak micin."

"Yah, terus apa dong. Mie ayam juga gak mau? Jangan yang mahal lah. Yang murah aja ya?" Ucapan bernada manja itu buat Satya meremat kemudi. Tatapannya fokus ke depan. "Kalau aku masakin tumis ayam kecap mau?"

Satya mendehem, selagi membuang muka. "Jangan pedas."

Yumna tertawa kecil. "Jadi kamu maunya makan masakanku ya, mas? Ngomong dong daritadi."

Sepasang suami istri itu telah tiba di rumah. Yumna lega Sasmita benar-benar sudah meninggalkan rumah mereka.

"Mbok Inem, biar saya aja yang masak menu sore ini ya. Mbok sama Mbak Dewi boleh pulang malam ini. Sehabis maghrib saya sama Mas Satya langsung berangkat ke rumah Romo."

Mbok Inem tersenyum lebar. "Ndoro ndak apa-apa saya tinggal pulang?"

"Saestu, Mbok." (Beneran, Mbok)

"Mbok ndak enak, lho."

"Halah mbok kayak sama siapa aja. Selama saya tinggal disini, Mbok Inem selalu perhatian sama saya kayak anak sendiri. Jangan sungkan ya. Oh iya, kue yang di kulkas bawa pulang aja, buat Mbok Inem sama Mbak Dewi."

Mbok Inem mengangguk dengan mata berkaca-kaca saat berterimakasih, kemudian berlalu membereskan cucian sebelum pulang.

Satya memang udah mulai nerima kehadiranku gak seperti sebelumnya yang hanya melihatku lalu pergi. Seolah gak sudi lihat wajahku. Tentang ucapan di depan Sasmita..

Satya cukup bikin takjub. Tapi aku masih belum tau apa-apa tentang dia. Nanti akan kupikirkan lagi setelah sampai di rumah Romo. Aku bisa tanya ke ibu.

Makanan sudah tersaji rapi di meja. Melihat Satya tak kunjung datang, ia beranjak menyusulnya sekalian membersihkan diri.

"Mas, makanannya udah siap--"

Yumna tertegun sejenak melihat pemandangan di depannya. Satya, yang biasanya selalu tampil kaku dan tertutup dengan kemeja atau kaos longgar, kini berdiri hanya mengenakan celana bahan hitam. Punggung telanjang itu tampak lebar dan bahunya yang tegap tampak kontras dengan suasana kamar yang tenang. Bukan hanya karena pemandangan fisik suaminya, tapi karena aura Satya yang kali ini terasa lebih manusiawi dan tidak berjarak.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: a day ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SHORT STORIES || YoonHunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang