Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

PERAN PENGGANTI [1]

94 20 11
                                        

Alunan gending jawa mendayu-dayu di senja hari yang terang. Meresap syahdu dalam pendengaran, merasuk dalam sanubari yang dilanda gundah.

"Lagunya tentang ketulusan cinta sejati. Ini jelas bukan tentang aku."

Ayumna tidak akan pernah menyangka akan melewati alur hidup yang ditentukan oleh keluarga Prameswari. Belum juga kering luka kehilangan kakak, dia harus menerima titah menggantikan posisi calon istri pria yang usianya menginjak 50-an. Juragan itu, tidak ingin membatalkan pernikahan yang sudah terlanjur disepakati.

"Halo, buk?"

"Nduk, cah ayu. Jam segini kok belum balik? Mbak Hesti nungguin kamu ini."

"Mbak Hesti? Wonten nopo malih, buk?" (ada apa lagi bu?)

"Itu, ngantar bajumu to nduk. Mbak Hesti bawa desain kebaya yang akan kamu pilih untuk acara ngunduh mantu."

"Samain aja to bu sama hari nikahannya."

"Lho, lho. Wong mbak Hesti yang ngatur kok."

"Yaudah, mbak Hesti aja yang nikah sama Juragan."

"Hust! Sembarangan. Wes, gek ndang mantuk." (Sudah, buruan pulang)

"Injih, ndoro."

Ayumna menyentakkan kepalanya begitu menekan layar ponselnya. Padahal lulus kuliah dia ingin mencari pekerjaan yang sudah menjadi incarannya. Tetapi, malah digagalkan oleh perjodohan tak masuk akal ini. Jaman Siti Nurbaya apa masih eksis di tahun 2026?

Dia beranjak, meninggalkan pagelaran yang belum juga menemui sesi epilog. Dalam langkahnya yang lunglai melewati area bukit lalu persawahan. Pancaran cahaya senja yang hangat begitu indah.

"Mbak, Yumna kangen. Besok, aku bakal nengokin mbak ke makam. Sejak hari itu, aku takut kesana. Takut hatiku runtuh karena ndak bisa genggam tangan mbak Yuni lagi. Takut aku durhaka dengan nekat ninggalin ibuk sama bapak."

'Na, sebenarnya yang mau nikahin aku itu bukan Juragan, tapi-- uhukk uhukk!'

'Yuni! Nak, kamu muntah darah? Bapak!! Yuni, pak. Yuni pingsan!'

Aku mendengar suara kepanikan ibu dan langkah berat bapak yang sangat keras terdengar debumannya.

'Halo?! Halo?! Mbak Yuni? Ibuk, mbak Yuni kenapa? Halo?'

'Halo, nduk. Mbakmu pingsan. Ibuk sama bapak mau bawa ke rumah sakit. Ibuk tutup dulu telfonnya, ya. Nanti ibuk kabarin kondisi mbakmu.'

Tidak kusangka itu suara terakhir mbak Yuni yang aku dengar.

***

"Kamu itu, lho. Kok ya lama sekali sampai rumahnya."

"Ya lama to, buk. Kan jalan kaki."

"Ibuk ndak enak sama mbak Hesti, ibuk ajakin ngobrol ngalor ngidul sampai kehabisan topik."

"Terus mbak Hestinya mana?" Ayumna menoleh kanan kiri mencari sosok mbak Hesti.

"Baru aja pergi, nanti kamu disuruh ke butiknya yang di Jalan Panglima Sudirman sehabis maghrib. Nanti biar diantar sama San."

"San siapa?"

"Anaknya bulikmu."

"Sandoro? Bocah umbelan iku?" (anak ingusan itu?)

"Wes, kamu ndang masuk dulu, makan, mandi. Siap-siap nanti San kesini jam setengah 7."

Satu jam kemudian Ayumna mengenakan sweater tipis, rambut diikat tinggi dengan poni tipis yang cantik. Menenteng tote bag menuju ke teras. Ayumna tercengang sejenak, mendapati laki-laki bertubuh lumayan besar.

SHORT STORIES || YoonHunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang