Buku nikah iku dudu ukara gampang, iku prajanjian karo Gusti Kang Murbeng Dumadi
(Buku nikah bukan kalimat mainan, itu perjanjian dengan Tuhan)
Itu kalimat lanjutan yang sempat diutarakan Raden Ayu (ibu tiri Satya) ketika acara sungkeman dan masih membekas di benak Yumna. Laki-laki itu sudah banyak membantunya seharian ini. Setelah sempat memasak telur dadar, Yumna memperhatikan Satya benar-benar sibuk berbincang dengan Sasmita.
Di saat yang sama, Yumna menerima pesan teks bahwa dirinya diterima sah menjadi salah satu pengajar di sebuah sekolah kesenian. Senyumnya merekah, dia sontak menoleh berniat memberitahu Satya.
Namun menyadari rintik hujan yang mulai menetes menimpa kaca, menciptakan kilauan saat tersorot cahaya lampu. Bibir Yumna tertarik tipis. Dia beranjak meninggalkan ruang makan begitu mencuci peralatan makan.
"Aku udah pernah bilang sebelumnya, agensi kamu yang ini memang mencurigakan. Chandra juga mewanti-wanti supaya kamu gak sampai terlibat lebih jauh."
"Aku takut namaku keseret. Chandra emang memastikan namaku bersih, tapi aku tau Datuk bukan orang sembarangan. Kalau ketahuan aku gerak, dia gak segan mengakhiri karirku. Satya.. aku harus gimana? Karna itulah aku belum bisa balik ke Jakarta. Kalau mereka lihat aku, udah pasti aku langsung diberangkatkan ke KL."
"Untuk sementara memang lebih baik kamu jauh dari Jakarta. Chandra pasti bisa menghandle semuanya."
"Thank you, Satya. Kamu emang paling jago bikin hati aku tenang. Makasih udah selalu jagain aku. Miss y--"
"Mas!"
Satya tidak mendengar ucapan terakhir Sasmita. Kepalanya menoleh dan dengan sigap bergegas menuju sumber suara setelah mematikan sambungan telfon.
"Ada apa? Gak perlu pakai teriak."
Baru saja Satya melewati pintu kamar tamu. Dia terkejut melihat genangan air di lantai.
"Kamar ini apa gak pernah direnovasi ya? Kok sampai bocor mas? Tadi aku lewat gak sengaja liat air keluar lewat celah bawah pintu. Ini pasti karna saking derasnya hujan sih."
Satya mendekat, berdiri di samping Yumna yang tak lepas perhatian dari tetesan air.
"Kasurnya juga kena basah." Yumna meraba sprei. "Kebanjiran sih ini kalau kamu tidur disini malam ini."
Sejujurnya kamar tamu memang tidak pernah dipakai sebelum Satya menikahi Yumna. Namun, Satya yakin Mbak Dewi tidak pernah absen membersihkannya. Tapi dia juga tidak menyalahkan Mbak Dewi persoalan bocor, karena Mbak Dewi pasti tidak memeriksanya sampai sana. Lagipula hujan sangat jarang turun di musim kemarau. Yumna mengusap dagunya selagi melirik Satya.
"Besok saya panggil tukang untuk perbaiki ini."
"Terus kamu tidur dimana, mas? Aku sih gak keberatan ya kamu tidur di kamar utama. Kan kita cuma tidur gak ngapa-ngapain juga. Gak perlu khawatir, aku tidurnya tenang kok, gak nendang-nendang. Tapi kalau mau tidur di sofa tengah juga gak apa-apa, paling besok pagi Mbok Inem kaget lihat kamu."
Yumna menguap, dia tak bisa menahan kantuk. Kakinya yang sudah sangat membaik melangkah perlahan ke kamar.
Satu
Dua
Tig--
Klak!
Satya mendahuluinya meraih knop pintu kamar utama sebelum Yumna mengulurkan tangan. Yumna hanya diam mengamati. Laki-laki itu tanpa ragu memposisikan dirinya berbaring, satu telapak tangan diletakkan di antara kepala dan bantal. Juga meletakkan guling di tengah-tengah.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORIES || YoonHun
FanfictionBukan oneshoot, satu judul bisa berisi beberapa chapter, genre suka-suka yang nulis ^^ » Baku » Semi baku Baca aja, barangkali suka :))
