Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

PERAN PENGGANTI [4]

9 6 1
                                        

Di dalam kamar, Satya sedang duduk di tepi ranjang dengan laptop di pangkuannya dan kacamata bertengger di atas telinga. Menyadari Yumna yang masuk dan mengunci pintu.

"Masih kerja aja, mas."

"Hm." Tak menoleh seichi-pun.

Yumna berjalan pelan, mendekati Satya yang sangat amat fokus dengan beberapa dokumen. Dia mencondongkan badannya. Jemari Yumna bergerak menyentuh tepian laptop selagi mengintip monitor.

"Perjodohan kita.. selain karna warisan keluargamu dan hutang bapakku, apa ada syarat lain yang diajukan untuk melanggengkan posisimu?" Yumna memiringkan kepala saat bertatapan. Menunggu jawaban Satya.

"Ada."

Alis Yumna tertaut. "Apa? Aku harap kamu gak disuruh poligami ya. Bukan apa-apa, kasihan yang jadi istri keduamu harus nelan kata-kata cuekmu itu."

Satya mendengus kecil dengan sudut bibir tertarik tipis. Pandangannya kembali pada laptop. Sementara Yumna tanpa aba-aba duduk di tepian ranjang dekat sekali dengan Satya.

"Mas.."

"Besok kamu berangkat pagi. Cepat tidur. Gak usah mikir aneh-aneh."

"Enggak mau. Jawab dulu baru aku bobok."

"Jangan mancing saya."

"Ouh, kamu ngerasa kepancing?"

Yumna menyeringai dan semakin memajukan wajahnya. Meletakkan tangannya mengurung kaki Satya yang masih selonjoran. Yumna menyelipkan helaian anak rambut ke belakang telinganya, mengekspos garis rahangnya yang tegas namun tetap memancarkan pesona feminin yang memikat. Wajahnya benar-benar di atas layar laptop di pangkuan Satya.

"Apa yang lebih menarik? Ini atau ini?" Yumna menunjuk laptop dan wajahnya sendiri secara bergantian selagi tersenyum.

"Yumna.." nada rendah itu lagi. Yumna terkikik.

"Akhirnya setelah dua minggu kita nikah, kamu panggil nama panggilanku ya, mas. Dan..." Yumna menjeda lalu menepuk pelan bahu Satya. "Seperti yang aku bilang tadi, Yumna akan memasuki alam bawah sadarmu, memenuhi isi pikiranmu, bahkan saat kamu bersama Sasmita. Masa lalumu itu, aku tau. Dan aku akan menghapusnya pelan-pelan."

Satya mengeraskan rahangnya. Jarak mereka kian terkikis. Yumna membisikkan sesuatu.

"Sasmita di luar, dengerin kita. Kalau kamu ngerasa sakit hati karna pernah nerima penolakannya, aku bisa bantu kamu. Bukankah ditolak itu menjatuhkan harga dirimu, ya? Pewaris keluarga Bagaskara. Mantan dosen perguruan tinggi. Kamu mapan, tampan, value tinggi dijatuhkan begitu aja demi seorang perempuan yang cuma mikirin dirinya sendiri."

"Dia mau jadi artis dan menikah bikin karirnya tertunda."

"Bikin dia menyesal, semenyesal mungkin. Dia udah mainin ketulusan dan keseriusanmu, mas. Apa kamu bakal diem aja? Dia akan mandang kamu lemah dan gampang dimanfaatkan. Pada akhirnya dia tetap nir-empati."

Satya melempar laptopnya ke kasur, mencengkeram lengan Yumna hingga perempuan itu terduduk di pangkuan Satya. Yumna memekik, merasakan bisep keras Satya mengungkungnya, menahan pinggang ramping itu begitu posesif. Satya melepas kacamatanya, dan meletakkan benda bening itu di sudut nakas.

Yumna terbelalak saat Satya menempelkan bibirnya di ceruk leher perempuan itu. Bergerak lambat membuat Yumna menggigit bibir.

"Mas, pelan-pelan. Sakit."

Sasmita terkejut mendengarnya dari luar. Kedua tangan mengepal erat dan terdengar ketukan heels menjauh dari depan pintu kamar mereka. Yumna segera menyadari dan mendorong bahu Satya sekuat tenaga.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 24 minutes ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SHORT STORIES || YoonHunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang