Well, Jiu dan Siyeon merupakan sepupu, ibu Siyeon membeli sebuah rumah di komplek perumahan baru yang masih sangat sepi.
Dan hari ini, di hari kedua mereka pindah. Siyeon memutuskan untuk meminta Jiu ke rumah barunya untuk membantu dia membereskan barang barang yang belum sempat tertata rapi.
"Keren deh nyokap lo nyari rumahnya yang deket pinggiran sawah gini, jadi adem banyak angin, heummmm," ucap Jiu ketika mereka berjalan di area pinggir komplek perumahan baru tersebut.
Siyeon hanya menganggukan kepalanya.
Toloooooooong~
Toloooooooong~
Toloooooooong~
Siyeon menolehkan kepalanya ke arah Jiu ketika mendengar suara rintihan anak kecil yang sepertinya tidak jauh darinya.
"Kenapa?"
"Kayak ada suara anak kecil minta tolong, ji." Ucap Siyeon sembari mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Masa sih? Kok gue nggak denger?"
Siyeon membelalakan matanya ketika melihat sesosok perempuan kecil dengan pakaian khas belanda yang sekujur tubuhnya dipenuhi luka yang sangat parah dan mengenaskan.
"Yeon! Lo liat apaan?" Tanya Jiu sembari mengguncang bahu Siyeon. Jiu memang sudah tahu kalau Siyeon merupakan seorang indigo. Jadi tak heran kalau dia melihat sesuatu yang tidak kasat mata.
Toloooooooong~
Toloooooooong~
Toloooooooong~
Siyeon hendak memundurkan tubuhnya ketika sosok tersebut makin dekat ke arahnya.
"Yeon?! Lo kenapa sih?" Tanya Jiu lagi ketika Siyeon masih juga tidak menyahuti perkataannya.
"K-kaki gue nggak bisa digerakin ji." Ucap Siyeon dengan suara gemetar tanpa menoleh ke arah Jiu sedikitpun.
"Istighfar yeon! Istighfar!" Seru Jiu yang jadi panik sendiri.
"Ji d-dia makin deket ji."
"Dia? Dia siapa?"
"J-ji-"
"Bentar gua telpon tante dul-"
"J-ji jangan tinggalin-" Ucap Siyeon yang kemudian menoleh ke samping dan
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.