Rasa suka itu timbul bukan dari seberapa lama lo mengenal dia. Melainkan dari pandangan pertama ataupun sikap lo kepadanya🐝🐝🐝
Bel sekolah berbunyi, menandakan istirahat. Semua murid menuju kantin. Siswa kelas XI IPS 2 pun bersorak senang. Pelajaran sosiologi yang paling menegangkan akhirnya berakhir. Sebenarnya bukan pelajarannya yang menegangkan, tetapi gurunya yang super killer sampai semua murid tidak dapat berkutik.
Fitri datang menghampiri Dita dan Luna.
"Guys, ke kantin kuy, cacing di perut gue udah demo minta diisi nih." keluh Fitri sambil mengelus perutnya."Kalau soal makanan lo ahlinya. Dasar. Lun, kuy ke kantin." sindir Dita sambil merangkul Fitri
"Eheheh, tau aja lo. " Fitri tersipu malu.
Luna pun beranjak dari kursinya dan mereka bertiga pun segera ke kantin. Diantara mereka bertiga, Fitri hobby makan. Sedari tadi dia mendesak ke dua sahabatnya yang sangat lamban jalannya.
"Ayo guys, cepetan jalannya. Gue lapar nii." desak Fitri ke sahabatanya.
Dita memutar bola matanya, jengkel. Luna tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Sesampainya di kantin, mereka langsung mencari bangku kosong. Setelah itu mereka memesan makanan.
"Kalian pesan apa?"
"Seperti biasa." Luna dan Dita kompak
Fitri memanggil mang Ujang dan menyebutkan pesanan mereka.
"Lun, lo pacaran sama Ferdo?" tanya Fitri.
"Eh siapa yang bilang?" Luna tanya balik.
"Gada sih, cuma kelas gue tadi heboh bahas lo dekat sama Ferdo." jelas Fitri.
"Iya, tadi lo bilang mau cerita saat istirahat. Cerita lah, kami siap jadi pendengar ." Dita menagih janji yang tertunda tadi di kelas."Sebenarnya Ferdo minta untuk ngatar jemput gue mulai sekarang. Gue bingung. Satu sisi gue ingin, tapi disisi lain gue takut."
"Serius? itu bagus. Daripada harus naik Angkot? Terus lo takut kenapa?"
"Kemarin, Ferdo antar gue sampai rumah. Terus nyokap dan adek gue liat. Mereka marah, dan menyuruh gue tidak boleh diantar jemput sama orang lain."
"Hanya itu? Tumben nyokap lo begitu. Biasanya dia masa bodo sama lo."
"Huss, gaboleh bilang gitu Fit, itu bagus berarti tante peduli sama Luna."
Hahaha, peduli apaan coba. Kalau peduli kenapa mommy malah bodo amat pas gue dipukulin sama saudara gue sendiri?
"Tapi yang buat gue bingung, apa alasannya dia mau buat begitu sama lo? sedangkan kalian aja belum begitu akrab."
Luna mengedikkan bahunya. "Gatau gue."
Ya kali langsung suka sama Luna. Mereka aja baru dekat.
"Rasa suka itu timbul bukan dari seberapa lama lo mengenal dia. Melainkan dari pandangan pertama ataupun sikap dia ke lo. Mungkin dia suka sama karena sikap lo." jelas Dita. Apa yang Dita bilang ada benarnya juga
"Ga mungkin, gue ga percaya sama rasa suka dari pandangan pertama." bantah Luna. Dia tidak percaya sama yang namamya cinta pada pandangan pertama.
"Lo akan merasakannya nanti. Setelah dia benar-benar dekat sama lo, lo akan merasakannnya apa arti suka pada pandangan pertama."
"Maksudnya apa sih? jujur gue gak paham." Luna makin gak paham sama ucapan Dita yang makin susah dipahami.
"Suatu saat nanti. Lo gak perlu mencari tahu jawabannya, karena kau pasti akan menemukan sendiri jawabannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Luna
Teen Fiction(FOLLOW DULU BARU BACA. JANGAN LUPA VOTE SAIANG) Bukan anak broken home. Punya keluarga, serasa gak punya keluarga. Keluarga utuh, tapi kurang kasih sayang. Semenyedihkan ini gue sekarang. Dan itu yang buat gue mati rasa. Maaf, bukannya gue kurang...