Season 2 36. Jika bisa

369 54 10
                                        


DELMIRA

"Untuk tema anak muda yang jelas sih gunakan artis yang lagi naik daun kita ada kok daftarnya tinggal checklist aja kalau minat. "

"Jadi negara mana nih yang mau digaet, Korea lagi atau Boyband Amerika gitu? "

"Korea masih bertahta dalam perkembangan musik, bayangin saja mereka rela operasi plastik demi tampilan yang sempurna kalau orang barat mah kualitas vocal yang dominan."

Aku dan ketua tim talent masih berdebat soal bintang tamu yang akan mengisi acara ulang tahun twins bulan depan.

Gak terasa sudah lama aku mengurus perusahaan ini dan terus meningkat padahal background aku hanya pendidikan diploma 3 tanpa memegang sertifikat S1, S2, ataupun S3.

Bukan pendidikan gak penting tetapi semua harus didukung dengan pengalaman dan belajar dari orang yang sukses.

Vido ... dia lah orang sukses itu. Orang sukses yang gak pelit ilmu, selalu mengajari aku meski aku gak ingin banyak tahu.

Saat aku menjadi istrinya dia selalu memaksa aku untuk tahu ini dan itu. Padahal, aku gak berkhayal untuk bisa mengendalikan perusahaan ini seorang diri. Dan kini dia pun masih mendampingiku dan aku masih belajar banyak darinya.

Kalau dia sih, sambil menyelam minum air ... masih berusaha mendekatiku. Walaupun sebenarnya aku senang melihat kesungguhannya ... tetap waspada jangan lengah.

Aku selalu memantaunya karena kebodohan tidak boleh terulang kedua kalinya.

"Ini juga kita undang salah satu artis remaja yang lagi naik daun sebagai bintangnya, lihat tu cantik gak."

Mataku terpaku saat si cantik dengan bibir tipis menggoda itu berkata,

"Aku sihh ... yang anaknya bunda twins Tv dan ayahnya DM Tv hehehe."

Mataku melotot seketika ... aku dan mbak Mel pandang - pandangan.

"Oups, calon menantu tu," celetuknya dan aku panik.

"Coba ulang ulang."

"Ini live loh Mir, tetapi bisa kok kita repeat di ruangan saja. "

Aku bengong memperhatikan cewek ini, kayak pernah lihat tetapi dimana gitu. Mbak Melani membawa aku ke ruang editing untuk melihat rekaman ulang yang tersimpan sambil menelepon Afi untuk mencari tahu kebenaran yang nyata.

"Siapa sih dia mbak, penyanyi atau pesinetron. "

"Sinetron barteran pacar, yang lagi naik daun itu. Wah gak nyangka belum lama Afi disini, udah dapat artis populer. "

Aku senyum saja, setahuku anakku pendiam deh. Kalau pun mau dengan cewek pastinya yang kalem bukan yang tipenya seperti ini, overacting.

Dan benar, katanya hanya teman. Tepatnya adik tingkat yang lebay.

Pantesan seperti pernah lihat, itu judul sinetron kesukaan mamanya double V dan artis itu yang sering dibicarakan oleh para triple S bidadari kecilnya Vidi.

"Tapi gak usah takut, itu anak cewek baik baik loh gayanya saja yang aduuuuh ... susah deh ya, gemesin gitu. Fans banyak, haters juga banyak jadi ya ... rada aneh juga kalau Afi mau ya,hehehe."

Tu kan, orang juga bisa menilai karakternya anakku, rasanya gak mungkin gitu.

"Emaknya fans ama ustadz Vidi, suamimu loh ... jemaahnya yang selalu nonton secara live, paling heboh deh pokoknya. Setiap habis acara dia selalu minta selfie bareng tetapi suamimu gak mau foto berdua, harus 4 stau 5 orang. Lucu juga sih ya, kamu beruntung banget dapatkan pria seperti itu Mir, iri aku. "

Hmmm, aku juga iri sama orang yang akan selalu bersamanya nanti. Apa boleh buat, garisan takdir melepaskan aku darinya karena mungkin aku terlalu banyak dosa.

**

Keesokkan harinya

Aku nunggu Afi untuk datang dan menjelaskan semua yang aku dengar kemarin dari si artis centil itu tetapi dia gak datang.

Vido ditelepon juga gak diangkat - angkat, sepertinya kompak takut kena marah.

Untuk Vido aku rasa dia takut datang ke rumah padahal aku sudah bilang ke dia kalau mamanya sudah memaafkan.

Ya, namanya dalam suatu keluarga salah pasti ada dan maaf memaafkan itu wajib, memutuskan hubungan silaturahim antar sesama keluarga itu dosa, gak boleh.

Vidi juga sudah memafkannya dan sudah menelponnya untuk datang tetapi si playboy tua itu masih enggan untuk datang.

Hari ini aku sengaja datang agak siang karena akan ke butik dulu pesan baju untuk si kembar dan saat aku akan naik tangga mau kembali ke kamar,

"Mir ...."

Aku berhenti dan menoleh,

"Bisa bicara? "

"Soal apa?"

"Afi."

Sepertinya cewek itu sukses memperkenalkan anakku se-jagad raya, kali ini apalagi yang diperbuat Afi.

***

ALVIDI

Akhirnya hari yang aku tunggu pun tiba, ada suatu masalah yang harus kami bahas.

Karena selama ini kami tidak pernah mengobrol seperti dulu, membahas hal hal yang penting atau tidak penting sekalipun.

Aku bawa Mira ke ruang kerja dan kami duduk saling berhadapan, ada rasa canggung yang menyelimutiku tetapi dia terkesan santai, biasa saja.

"Ada apa?"

"Ada satu jemaahku bertanya, ah bukan meminta persetujuanku untuk menikahkan anaknya dengan Afi karena pun katanya mereka akan tunangan tetapi menurut ajaran kita tidak ada tunangan, hanya ta'aruf lalu menurut kamu bagaimana? "

Dia nampak berpikir dan menggaruk kepalanya berkali kali, aku tahu pasti dia gak mau anaknya menikah di usia yang masih muda ini.

"Afi belum selesai kuliah. "

"Tetapi ayahnya pasti mengizinkan untuk itu dan harusnya kita cegah dari pada nanti tunangan terus malah kebablasan ... lebih baik nikahkan saja 'kan. "

"Aku masih gak yakin kalau anak itu pacaran dengan Afi karena setahuku Afi gak pernah punya pacar. "

"Itu terserah kamu, aku hanya mengingatkan untuk jalan yang terbaik. Afi memang anak kalian tetapi dia keponakkanku yang sudah aku anggap anak sendiri saat dia lahir, aku gak mau dia tersesat ... tolong, kamu pikirkan. "

Akhirnya bisa menatapnya lama seperti ini, mengobati rasa jenuh dengan kesendirian, sepi dan hampa tanpa canda tawanya. Jika semua bisa diulang, jika bisa.

"Nanti kita bicarakan berempat karena Afi kemarin aku suruh datang malah gak datang. "

"Ya sudah, kita saja yang kesana karena ini penting. Jangan anggap remeh kenakalan anak remaja menjelang dewasa ... telat kita bertindak maka habislah sudah. "

"Iya Alvidi, ya sudah aku mau pergi dulu."

Ingin sekali aku menahannya untuk tetap tinggal tetapi cukuplah untuk hari ini , semoga besok bukan hanya senyum tipis yang dia berikan padaku tetapi senyum sekaligus tawanya yang membahana membuatku tenang.

"Mir, kalian belum rujukkan?"

Aku berharap gelengan darinya karena apa, jika satu kata 'rujuk' diucap oleh Vido maka aku mendzolimi dia karena tidak melepas statusnya kini.

🌠🌟🌠
NEXT
🔜










Double V SucksTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang