ALVIDO
Hari sudah malam sekitar pukul 22:00 WIB aku beranjak dari kursi empukku dan ingin berkeliling melihat kinerja stafku yang masih aktif di depan layar.
Ku lihat di studio 1 untuk program berita malam sudah aktif dan siap-siap, studio 3 untuk program talkshow tengah malam masih berlangsung dan aku berjalan lagi ke arah ruangan bagian tim kreatif produksi dan tim talent terdapat disudut masih ada 3 ruangan yang menyala.
Masing-masing aku memasuki ruangan tersebut 1 ruang kosong, 1-nya lagi masih ada yang mengedit dan yang terakhir kulihat si comel cengeng itu sedang tertidur pulas di kursi dengan tubuh tersandar, kepala mendongak dan tangan yang masih memegang pulpen.
Aku masuk perlahan tapi tetap saja ketukkan sepatuku sedikit kedengaran tapi tak mengusik ketenangannya untuk tetap tidur
"Mira -- Delmira," panggilku sambil menggoyang bahunya tapi tetap dia tak bergeming.
Kuperhatikan seluruh wajahnya yang mulus tanpa make up tapi bersinar dan kinclong juga bibirnya yang mungil terbuka sedikit terkesan seksi, membangunkan naluri seorang pria dewasa yang ingin mencicipi bibir ranum itu.
Aku mendekatkan wajahku dan mengecup bibirnya sekilas tapi ternyata tak ada respon sedikit pun, saking geramnya aku menciumnya lagi hingga ku lumat bibirnya perlahan tapi malah aku yang menjadi kenyamanan dengan situasi ini hingga tanganku pun kini meraih tengkuknya dan lidahku menerobos masuk dan bermain didalam rongga mulutnya dan tiba-tiba, dia merespon gerakkan lidahku dan melilitnya juga membalas semua gerakkanku tetapi dengan mata yang masih tertutup rapat.
Aku sangat menikmatinya, sangat dan kulepaskan perlahan menantinya membuka kedua matanya untuk melihatku tapi apa? sungguh tak berpengaruh.
Mungkin dewa tidur telah membawanya jauh ke dasar lautan mimpi yang dalam. Atau dia sedang bermimpi erotis karena gerakkan bibirnya seperti sudah terbiasa bercumbu.
"Jika kau kuperkosa, apa kau pun tidak akan sadar? " ucapku berbisik ditelinganya tapi ya, tetap nihil no respond.
Aku meninggalkannya di ruangan itu dengan beberapa makanan yang kusuruh seorang OB menyiapkannya. Aku pulang setelah acara berita malam selesai mengudara.
Samar-samar kulihat seorang gadis yang kucuri ciumannya itu berjalan ditepian trotoar depan gedung. Ternyata dia sudah bangun dan terlihat segar, aku turun menawarkan bantuan dengan sedikit paksaan akhirnya dia mau aku antar pulang dengan teriakkan bodohnya itu sebelum masuk ke dalam mobil.
Sepanjang jalan dia hanya bercerita tentang masa lalunya dengan Vidi, yahhhh aku bosan -- sangat!
Karena aku bukan Vidi tapi dengan begitu aku tahu siapa Vidi. Ini tidak bisa dibiarkan rasanya aku tidak terima kalau hanya Vidi saja yang diingatnya bagaimana jika dia mengenal aku sebagai Vido apa dia juga akan tetap begini?
Akibat ceritanya aku lebih tahu sifat saudara kembarku si Vidi itu kenapa sayang dengan Mira sebagai teman karena Vidi memang manja dari dulu dengan Mira saat sekolah.
Pantasan juga Vidi minta jagain Mira di kantor karena Mira selalu jagaiin Vidi di sekolah. Wajah Vidi yang turunan bule sering kena bully dimintain uang sama para senior dan karena Mira, Vidi selamat dari para pembully itu.
***
Keesokkan paginya
DELMIRA
"Hai, met pagi Cok. "
"Yo'i Mir, pagi -- oh ya itu ada titipan dari mbak Sofie katanya segera masukkan ke ruang Bos, " ucap si Ucok dengan logat bataknya.
"Oh, ok beliau udah datang?" tanyaku.
"Bentar lagi mungkin atau kalau kau mau tahu langsung saja kau ke ruangannya kau 'kan sudah biasa. "
"Oh, ok benar juga ya, tugas gue masih banyak nih mau ngedit skript. "
Langkahku pun cepat dan semangat menuju ruangan CEO temanku itu dan saat sudah di depan pintu yang sedikit renggang aku mendengar suara wanita mendesah perlahan dan kecil lalu aku membuka pintu itu sedikit.
Mataku melotot sempurna melihat Vidi eh bukan itu pasti Vido memangku seorang wanita dan saling berciuman mesra, ingatanku pun menuju ke beberapa waktu silam
Jika mendengar wanita mendesah atau barang berjatuhan maka mundur teratur
Fuck!!!
Si Vidi kayaknya mau mengkhianatiku nih untung aja pria bejat ini menampakkan sifatnya diawal jadi aku bisa mengenalinya, awas loe Vidi kalau ketemu gue bejek!
Berkas yang mau diantar pun aku tinggalkan ke tempat semula dan beralasan sibuk jadi tidak akan mengantar lagi.
***
3 hari Mira berusaha menghindar dan menjauh tidak mau mengantar berkas ke ruangan si Bos, membuat Vido merasa kehilangan sosok wanita comel yang selalu berdebat dengannya.
"Sofie, kenapa tidak Mira saja yang mengantar semua berkas ini, kemana dia? "
"Dia sibuk Pak malahan dia tidak berada di tempat, kadang di tim kreatif kadang juga dia diluar bertemu dengan artis dan manajernya untuk pembicaraan kontrak kerja. "
"Kalau bertemu dia suruh dia ke ruangan saya sekarang. "
"Baik Pak. "
Sofie pun keluar ruangan dan membawa tumpukkan berkas yang sudah disetujui. Pucuk dicinta ulam pun tiba si Mira yang dicari menampakkan dirinya tepat dihadapan Sofie.
"Mir, loe dicari bos disuruh ke ruangannya sekarang. "
"Ada apa ya mbak?"
"Gak tahu, kangen loe kali, " ucapnya asal membuat Mira mendesis bergumam (kangen apaan, kenal aja nggak)
"Ehmmm kenal aja gak, gimana mau kangen. Mbak gak bilang kalau Mira lagi sibuk Bos, gitu. "
"Udah say, katanya mau loe segera ngadap dia. Dah pergi sana, loe mau dikasi bonus kali atau apa gitu cepetan, " paksanya sambil mendorong bahu Mira.
"Ishhh, aku sibuk mbak biar aja lah toh mbak juga dah bilang 'kan, " ucap Mira dengan mengelak berbagai alasan.
"Mira!"
Dan suara itu pun terdengar lantang padahal jarak mereka tidak cukup jauh, membuat semua karyawan berhenti bekerja dan menatap ke arah Mira.
"I -- iya Pak. "
"Ikut saya!!" ucapnya tegas.
Sial, kok awal - awal gini dia udah ngebet cari gue, jangan-jangan Vidi ngadu akibat perbuatan gue yang memaksanya menandatangani proyek sinetron itu. Aduhhhh, udah fee-nya gak dapat malah kena damprat nih. (Gumam Mira sepanjang jalan)
KAMU SEDANG MEMBACA
Double V Sucks
Romance18+ bijak dalam membaca Delmira seorang gadis lugu, cuek dan apa adanya tidak menyadari bahwa telah diselingkuhi pacarnya yang telah menjalani hubungan dengannya sekitar 6 tahun. Alih-alih menerima pertolongan dari seorang temannya yang bernama Vidi...
