Udara siang di Jakarta terasa panas, terik mentari menyinari gedung-gedung pencakar langit. Di sebuah ruangan ber-AC yang sejuk, Nova, seorang wanita berwajah cantik dengan hidung mancung dan mata yang indah, melangkah lembut menuju meja kerjanya. Suaminya, Faizar, sedang asyik dengan laptopnya.
"Mas, boleh minta tolong gak?" tanya Nova, suaranya lembut menawan.
Nova mengambil kursi di hadapan Faizar dan duduk. "Tolong jemput adik perempuan ku yang lagi mondok di pesantren," ucapnya.
"Hmmm, jam berapa harus dijemput ya?" Faizar menanyakan dengan ramah.
"Nanti jam 15.00 kalau bisa, Mas. Takut sibuk di kantor." Nova menjawab, matanya menatap Faizar dengan harap.
"Iya, insya Allah Mas akan jemput adik kamu, sayang." Faizar menanggapi dengan suara yang lembut.
"Beneran Mas bisa jemput?" Nova bertanya lagi, raut wajahnya mencerminkan keraguan.
"Iya, beneran. Sayang, apa sih yang gak buat kamu?" Faizar menjawab dengan penuh keyakinan. Senyumnya makin lebar, matanya berbinar-binar.
Nova tersenyum lega. "Makasih, Mas."
Dalam hatinya, Faizar berbisik, 'Ini kesempatan untuk bisa dekat sama adik perempuannya.'
Dalam hatinya, Faizar berbisik, 'Ini kesempatan untuk bisa dekat sama adik perempuannya.'
Faizar memang tertarik pada Bilqis, adik perempuan Nova. Sejak pertama kali bertemu, dia terpesona dengan keanggunan Bilqis dan aura keislaman yang terpancar dari diri Bilqis. Faizar berusaha mendekati Bilqis, namun Bilqis selalu menjaga jarak. Dia tahu Faizar adalah kakak iparnya, dan dia tak mau mencederai keharmonisan keluarga mereka.
"Mas Faizar..." Nova menarik perhatian Faizar. "Kamu kok diam saja? Ada yang dipikirkan?"
Faizar tersentak, buruh-buru menutup lamunannya. "Enggak kok, Sayang. Cuma lagi mikirin bisnis baru." Faizar menjawab dengan cepat.
"Oh ya?" Nova menanggapi dengan senyum. "Mas Faizar itu memang kerjaannya terus mikirin bisnis. Nggak ada capeknya ya Mas?"
Faizar menggeleng. "Gak capek kok, Sayang. Asal bareng kamu, apa saja bisa ku lakukan." Faizar menatap mata Nova dengan tatapan romantis.
Nova tersenyum manis. "Kamu romantis banget sih, Mas. Aku jadi bahagia."
🍀🍀🍀🍀🍀
Di sebuah pondok pesantren Al-Huda yang asri, Bilqis, gadis remaja berumur 17 tahun dengan wajah cantik dan tatapan mata yang teduh, sedang berbincang dengan Ustadzah Annisa, pembimbing asrama santriwati. Bilqis mondok di pesantren ini sejak umur 13 tahun, setelah kedua orang tuanya meninggal. Bilqis tidak mau tinggal bersama kakaknya, Nova, karena takut pada Faizar, kakak iparnya.
"Bilqis, kamu mau pulang sekarang?" Ustadzah Annisa bertanya dengan suara lembut.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hmmm, sepi atuh kalau Iqis pulang," Ustadzah Aisyah melihat wajah murung Bilqis.
"Kan banyak santri yang lain, Ustadzah," jawab Bilqis.
"Iya sih, tapi kan kami dekat hanya sama kamu," ucap Ustadzah Annisa.
"Tapi Iqis udah izin mau pulang sama Ummi Maryam?" Tanya Ustadzah Aisyah.
"He he, belum. Ini mau izin pulang dulu," jawab Bilqis.
Tiba-tiba, Ummi Maryam dan Kyai Rahmat lewat dan tak sengaja mendengar obrolan mereka.
"Assalamualaikum," salam Ummi Maryam dan Kyai Rahmat.
"Walaikumsallam."
"Ada apa ini, kok berkumpul disini?" ucap Ummi Maryam.
"Ummi, Iqis mau izin pulang dulu," Bilqis yang masih menundukkan kepalanya.
"Hmmm, iya. Tadi kakak Bilqis udah minta izin sama Ummi dan Abi,"
"Jadi kamu boleh pulang, nanti dijemput sama kakak ipar kamu."
Deg...
'Ya Allah, kenapa bisa sama kakak ipar ya? Bilqis takut ya Allah kalau harus dijemput sama Kakak ipar,' ucap dalam hati.
"Baik, Kyai. Iqis siap-siap dulu untuk pulang."
"Iya, nak. Sana siap-siap. Sebentar lagi udah mau azan ashar."
"Iya, Ummi. Kami siap-siap untuk sholat ashar dulu."
"Baiklah, kami pamit dulu," ucap Ummi.
Setelah sholat ashar, mereka kembali ke kamar masing-masing. Untuk siap-siap menunaikan ibadah sholat ashar. Semua santri dan santriwati melaksanakan kajibannya, untuk meminta ampun kepada Allah.
Setelah shalat asar, mereka kembali ke kamar masing-masing. Untuk istirahat sebentar.
"Qis, sekarang mau pulang dulu?" Tanya Amira.
"Iya, Ra. Tapi aku takut yang jemput aku suaminya kak aku," jawab Bilqis.
"Kenapa takut? Emang kenapa?" Tanya Amira.
"Aku takut aja."
"Sebenar nya sangat takut pulang karena kakak iparnya begitu menakutkan," batin Qis.
Di sana, ada seseorang mendengarkan percakapan mereka.
"Hmmm, jadi ikut khawatir sama kamu,"
"Iya, semoga gak akan terjadi sesuatu sama aku ya Ra,"
"Amin, Qis. Berdoa lah."
"Kamu kenapa mau pulang?" ucap Gus Al.
"Kata Ummi, kakak aku sakit."
"Hmmm."
"Iya, Gus. Kok bisa ada disini?" Tanya Bilqis.
"Saya kebetulan lewat."
"Oh, ya atuh. Aku permisi dulu, mau siap-siap pulang."
All merasa akan ada sesuatu terjadi, tapi entah apa. Ia merasa resah di hatinya. All segera mempercepat langkah kakinya untuk pulang.
"Assalamualaikum, Ummi," salam Gus Al.
"Walaikumsallam, kenapa Boy?" jawab Ummi Maryam.
"Gus Al mau keluar beli jus dulu ya, di dekat sini."
"Ya udah, nak. Hati-hati ya," ucap Ummi Maryam.
"Assalamualaikum, Ummi. Gus Al pamit dulu."
"Walaikumsallam."
Setelah di luar, Gus Al disana sudah ada seorang wanita yang menyuruh seorang ibu-ibu mencampurkan sesuatu ke jus pesenan Gus Al.